Pertanyaan mengenai bagaimana alam semesta kita dimulai dan berkembang adalah salah satu misteri terbesar yang coba dipecahkan oleh sains selama berabad-abad. Meskipun tidak ada satu teori tunggal yang diterima secara mutlak, kerangka kerja ilmiah saat ini didasarkan pada model yang didukung oleh bukti pengamatan yang luas. Artikel ini akan mengupas beberapa teori utama yang menjelaskan asal-usul kosmos kita.
Teori Dentuman Besar adalah model kosmologi yang paling diterima dan mapan saat ini. Teori ini tidak menjelaskan apa yang "sebelum" Dentuman Besar, melainkan menjelaskan bagaimana alam semesta berevolusi sejak momen awal yang sangat panas dan padat sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu.
Menurut teori ini, alam semesta bermula dari singularitasāsebuah titik dengan kepadatan dan suhu tak terhingga. Kemudian, terjadi pengembangan ruang yang sangat cepat (disebut inflasi) diikuti oleh perluasan yang terus berlanjut hingga hari ini. Tiga pilar utama yang mendukung teori Big Bang meliputi:
Teori Inflasi, yang dikembangkan oleh fisikawan seperti Alan Guth, bukanlah teori yang bersaing dengan Big Bang, melainkan sebuah penyempurnaan yang menjelaskan bagaimana Big Bang dimulai. Inflasi adalah periode ekspansi eksponensial alam semesta yang terjadi dalam fraksi detik setelah momen awal.
Tujuan dari inflasi adalah untuk menyelesaikan beberapa masalah dalam model Big Bang klasik, seperti:
Sebelum Big Bang menjadi dominan, Teori Keadaan Tetap, yang dipopulerkan oleh Hermann Bondi, Thomas Gold, dan Fred Hoyle, menawarkan pandangan alternatif. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta selalu ada dan selalu terlihat sama, meskipun ia terus mengembang. Untuk mempertahankan kepadatan rata-rata yang konstan seiring perluasan, materi baru harus terus diciptakan di ruang kosong.
Namun, penemuan CMB pada tahun 1960-an menjadi pukulan telak bagi teori ini. CMB menunjukkan bahwa alam semesta di masa lalu jauh lebih panas dan padat dibandingkan sekarang, sebuah temuan yang secara langsung bertentangan dengan konsep alam semesta yang selalu sama dalam keadaan tetap.
Model siklus mengusulkan bahwa alam semesta mengalami serangkaian siklus ekspansi (Big Bang) diikuti oleh kontraksi (Big Crunch), yang kemudian memicu Big Bang berikutnya. Dalam interpretasi yang lebih modern, seperti model Braneworld (Ekpyrotic Model), dua "brane" (membran dimensi tinggi) bertabrakan, menyebabkan pelepasan energi yang memicu ekspansi.
Meskipun secara intuitif menarik karena menghindari kebutuhan akan titik awal absolut, model siklus saat ini menghadapi tantangan besar. Pengamatan menunjukkan bahwa laju ekspansi alam semesta sedang dipercepat (didukung oleh Energi Gelap), yang menyiratkan bahwa alam semesta kemungkinan besar tidak akan pernah berkontraksi kembali menjadi Big Crunch, melainkan akan terus mengembang selamanya.
Saat ini, model Big Bang yang diperkuat dengan Inflasi Kosmik memberikan kerangka kerja paling komprehensif untuk memahami evolusi alam semesta kita dari sepersekian detik pertama hingga saat ini. Walaupun teori-teori lain telah memberikan kontribusi historis atau menawarkan alternatif spekulatif, bukti pengamatan terkini terus mengarahkan para ilmuwan untuk menggali lebih dalam misteri yang terjadi pada momen paling awal dari keberadaan kosmik kita.