Surat Al-Isra (atau Bani Israil) merupakan surah yang kaya akan kisah-kisah penting dalam sejarah kenabian, khususnya terkait dengan Bani Israil, serta memuat berbagai prinsip aqidah dan hukum syariat. Bagian awal surat ini, khususnya ayat 6 hingga 10, berfungsi sebagai penegasan janji Allah SWT kepada Bani Israil mengenai dua periode penting dalam sejarah mereka, diselingi dengan peringatan keras tentang konsekuensi kedurkaan.
Memahami konteks ayat-ayat ini sangat krusial, karena ayat-ayat ini berbicara tentang siklus kebangkitan, dominasi, kehancuran, dan pengulangan takdir berdasarkan amal perbuatan kolektif. Ini adalah pelajaran abadi bagi umat Islam mengenai pentingnya menjaga amanah dan ketaatan kepada Allah SWT.
"Kemudian Kami kembalikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, dan Kami tambahkan kepadamu harta dan anak-anak, dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar."
Ayat keenam ini merupakan respons Allah terhadap kehancuran pertama Bani Israil (akibat pembunuhan nabi dan perbuatan maksiat). Allah memberikan kesempatan kedua, bahkan dengan penambahan kekuatan material berupa kekayaan dan keturunan. Tujuannya adalah ujian; apakah mereka akan bersyukur dan berbuat baik, ataukah mereka akan kembali pada kesombongan dan kerusakan.
"Jika kamu berbuat baik, (maka) kebaikan itu untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan itu) untuk dirimu sendiri pula. Apabila datang janji (Allah) yang kedua, (Kami datangkan musuh-musuhmu) untuk menyuramkan muka-muka kalian dan mereka masuk ke dalam masjid (Baitul Maqdis) sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama, dan untuk membinasakan apa saja yang kalian kuasai dengan total."
Ayat ini menegaskan prinsip fundamental: pertanggungjawaban amal bersifat personal. Kebaikan akan kembali kepada pelakunya, demikian pula keburukan. Lebih lanjut, ayat ini menjelaskan konsekuensi dari kegagalan mereka memanfaatkan kesempatan kedua. Janji kedua (al-wa'dul akhirah) merujuk pada kehancuran kedua yang lebih dahsyat, di mana musuh akan masuk ke dalam tempat ibadah suci mereka (Al-Aqsa) dan menghancurkannya tanpa sisa.
Ayat 8 melanjutkan bahasan tentang kemungkinan mereka bertaubat: "Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu (dan mengampuni dosa-dosamu). Tetapi jika kamu mengulangi (pelanggaran itu), maka Kami akan mengulanginya pula." Ayat ini menunjukkan bahwa pintu rahmat selalu terbuka, tetapi pengulangan kesalahan besar akan disambut dengan hukuman yang setimpal.
Ayat 9 menegaskan kebenaran Al-Qur'an dan kepastian petunjuk Ilahi: "Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan memberikan khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan memperoleh pahala yang besar." Ini adalah kontras antara jalan Bani Israil yang cenderung menyimpang, dengan jalan Islam yang jelas dan lurus.
"Dan bahwasanya orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih."
Ayat terakhir dalam rentetan ini berfungsi sebagai peringatan tegas yang mencakup seluruh umat manusia. Inti dari peringatan ini adalah penekanan pada keimanan kepada Hari Akhir. Ketidakpercayaan pada pembalasan abadi sering kali menjadi akar dari keangkuhan, penindasan, dan penyalahgunaan kekuasaan di dunia. Bagi mereka yang menolak konsep pertanggungjawaban akhirat, Allah telah menyiapkan siksaan yang menyakitkan.
Rangkaian ayat ini memberikan beberapa hikmah mendalam. Pertama, bahwa Allah memberikan kesempatan koreksi dan kesempatan kedua (repetisi takdir). Kedua, bahwa nikmat dunia (harta, anak, kekuasaan) hanyalah alat ujian; jika digunakan untuk kezaliman, maka ia akan menjadi sebab kehancuran yang lebih besar. Ketiga, kemuliaan sejati terletak pada ketaatan kepada ajaran yang lurus (Al-Qur'an) dan keyakinan penuh pada hari pertanggungjawaban.
Bagi umat Islam, ayat-ayat ini adalah pengingat bahwa kekuasaan atau dominasi duniawi yang diraih harus diiringi rasa syukur dan keadilan. Kegagalan menjaga amanah akan selalu berujung pada pergantian kekuasaan dan hukuman yang telah digariskan oleh sunnatullah.