Simbolisasi kemuliaan ciptaan.
Ayat ke-70 dari Surah Al-Isra (atau Al-Isra' wal Mi'raj) merupakan landasan filosofis yang sangat kuat dalam Islam mengenai posisi sentral dan kehormatan (karramnā) manusia di hadapan Allah SWT. Ayat ini tidak hanya berfungsi sebagai pernyataan, tetapi juga sebagai dasar bagi etika dan tanggung jawab manusia.
Frasa "Sungguh, Kami telah memuliakan anak-anak Adam" menegaskan bahwa kehormatan ini bersifat intrinsik, diberikan sejak penciptaan, dan berlaku untuk seluruh umat manusia tanpa memandang ras, warna kulit, atau status sosial. Kemuliaan ini diwujudkan melalui anugerah akal, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan untuk memilih antara kebaikan dan keburukan. Kehormatan ini menuntut pertanggungjawaban yang lebih besar dibandingkan makhluk lain.
Ayat ini melanjutkan dengan menyebutkan fasilitas yang dianugerahkan Allah: "Kami angkut mereka di darat dan di laut". Ini merujuk pada kemampuan manusia untuk memanfaatkan alam semesta. Baik melalui kendaraan darat (hewan ternak, mobil, kereta api) maupun sarana transportasi laut (perahu, kapal), Allah memudahkan pergerakan dan penjelajahan manusia untuk mencari rezeki dan membangun peradaban. Ini adalah bukti nyata dari pemberian kecerdasan teknis kepada manusia.
Pemberian rezeki juga dispesifikasikan sebagai "rezeki dari yang baik-baik" (thayyibat). Dalam konteks tafsir, ini tidak hanya berarti makanan yang halal, tetapi juga makanan yang bersih, bermanfaat, dan nikmat. Hal ini mengingatkan manusia untuk selalu bersyukur dan memilih sumber penghidupan yang tidak hanya halal secara syariat, tetapi juga baik secara moral dan kualitas. Kualitas rezeki sejalan dengan kualitas penghidupan yang dimuliakan.
Bagian penutup ayat, "dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan", menekankan superioritas kapasitas manusia. Kelebihan ini, yang sering diinterpretasikan sebagai anugerah akal, kalam (kemampuan berbicara), pembentukan fisik yang tegak, dan potensi spiritual, menempatkan manusia pada posisi khalifah fil ardh (wakil Allah di bumi). Superioritas ini bukanlah undangan untuk kesombongan, melainkan sebuah amanah besar.
Menyadari bahwa kita adalah "anak Adam yang telah dimuliakan" membawa konsekuensi etis yang besar. Pertama, kita harus menghargai kemanusiaan dalam diri sendiri dan orang lain. Merendahkan martabat orang lain berarti mengingkari karunia yang diberikan Allah kepada mereka. Kedua, tanggung jawab kita sebagai pengelola bumi (khalifah) harus dilakukan dengan bijak, memanfaatkan fasilitas darat dan laut tanpa merusak keseimbangan alam yang telah diatur.
Oleh karena itu, Al Isra ayat 70 menjadi pengingat abadi bahwa kemuliaan bukanlah hak yang bisa disia-siakan. Kemuliaan sejati terwujud ketika potensi akal dan fisik yang dianugerahkan digunakan untuk ketaatan, kebaikan, dan kemaslahatan umat manusia secara keseluruhan. Pemahaman mendalam terhadap ayat ini mendorong kita untuk hidup dengan integritas dan rasa syukur yang tinggi.