Dalam menelusuri lembaran-lembaran suci Al-Qur'an, setiap ayat membawa hikmah dan konteks yang mendalam. Salah satu ayat yang sering menjadi bahan perenungan mengenai pentingnya sebuah pengakuan dan penegasan adalah Surah Al-Isra ayat ke-95. Ayat ini memiliki kekhususan karena secara eksplisit menyebutkan perumpamaan yang diberikan Allah SWT kepada kaum musyrikin Mekkah, khususnya ketika mereka meragukan kenabian Muhammad SAW.
Teks dan Terjemahan Al Isra Ayat 95
(95) Katakanlah: "Sekiranya di bumi itu ada malaikat-malaikat yang berjalan dengan tenang, niscaya Kami turunkan kepada mereka dari langit seorang malaikat sebagai utusan (rasul)."
Ayat ini merupakan respons langsung terhadap tantangan kaum Quraisy yang kerap meminta bukti konkret berupa turunnya seorang malaikat sebagai rasul, sebagaimana mereka menganggap hal itu lebih layak daripada kedatangan seorang manusia (Nabi Muhammad SAW) sebagai pembawa risalah. Ayat ini menyoroti sifat dasar wahyu dan kenabian.
Kontekstualisasi Tantangan Kaum Musyrikin
Kaum musyrikin Mekkah seringkali berdalih bahwa jika risalah datang dari Allah SWT, seharusnya yang diutus adalah makhluk yang sifatnya superior, yaitu malaikat. Mereka tidak mampu menerima konsep bahwa seorang manusia biasa, yang makan, minum, dan berjalan di pasar seperti mereka, dapat menerima wahyu ilahi. Permintaan mereka ini sejatinya bukan karena kehausan akan kebenaran, melainkan sebuah bentuk kesombongan dan penolakan terhadap otoritas yang tidak sesuai dengan prasangka mereka.
Dalam konteks ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menjawab tantangan tersebut dengan sebuah perumpamaan logis yang sangat kuat. Jawaban tersebut menekankan bahwa Allah menurunkan utusan yang sesuai dengan kondisi dan penerima risalahnya.
Hikmah Penggunaan Hewan Kendaraan
Meskipun teks ayat 95 secara langsung membahas malaikat, seringkali dalam tafsir, ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya (khususnya ayat 90-94) sering dikaitkan dengan bagaimana Allah memberikan contoh nyata mengenai keterbatasan pemahaman manusia. Ayat-ayat sebelumnya (seperti ayat 92 dan 93) berbicara tentang bagaimana mereka menolak kenabian kecuali jika Nabi datang menunggangi kuda atau unta yang bisa terbang, atau membawa istana emas.
Al Isra Ayat 95 berfungsi sebagai puncak argumen: Jika bumi dihuni oleh makhluk yang sifatnya memang diciptakan untuk berinteraksi secara langsung dengan langit—yaitu malaikat yang berjalan dengan tenang tanpa perlu sarana duniawi seperti unta atau kuda—maka Allah akan mengirimkan malaikat. Namun, karena penerima pesan adalah manusia, maka pengutusan pun harus manusiawi.
Penggunaan unta dan kuda dalam konteks tantangan lain menunjukkan bahwa manusia terikat pada realitas material. Mereka membutuhkan alat transportasi yang sesuai dengan lingkungan fisik mereka. Malaikat, sebagai makhluk cahaya, tidak memerlukan unta atau kuda. Demikian pula, rasul yang diutus kepada manusia harus memiliki kesamaan sifat agar pesan dapat diterima dan dipahami secara kontekstual.
Pentingnya Kesesuaian Metode
Ayat ini menegaskan prinsip penting dalam dakwah dan komunikasi ilahi: metode harus sesuai dengan audiens. Jika Allah mengirim utusan kepada malaikat, tentu mereka akan dikirim dengan cara malaikat. Ketika utusan ditujukan kepada manusia yang hidup di bumi, maka utusan tersebut haruslah manusia yang mampu berjalan, makan, dan berinteraksi dalam batas-batas kemanusiaan. Ini adalah rahmat, bukan kekurangan.
Tantangan kaum Quraisy yang meminta malaikat sebagai rasul menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk melihat kebenaran yang datang dalam bentuk yang mereka anggap 'rendah'. Ayat 95 Al-Isra adalah koreksi ilahi yang menunjukkan bahwa standar kenabian tidak ditentukan oleh jenis makhluk, melainkan oleh otoritas yang mengutus dan kebenaran risalah itu sendiri.
Dengan demikian, melalui ayat ini, Allah SWT mengajarkan umat manusia untuk tidak sombong dan tidak menyempitkan parameter kebenaran hanya pada apa yang terlihat sesuai dengan keinginan hawa nafsu atau asumsi awal kita. Kebenaran datang dalam kemasan yang paling tepat untuk menyampaikan pesannya kepada penerima yang dituju.