"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
(QS. Al-Maidah: 105)
Surah Al-Maidah, yang berarti Hidangan, adalah salah satu surah Madaniyah terakhir yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ. Ayat 105 menempati posisi krusial karena ia mengalihkan fokus pembinaan umat dari sekadar ketaatan individu menuju tanggung jawab kolektif dan domestik. Ayat ini sering disebut sebagai dasar utama dalam konsep tarbiyah Islamiyah (pendidikan Islam) dalam lingkup keluarga.
Setelah membahas isu-isu teologis, hukum, dan hubungan dengan Ahli Kitab, Allah SWT mengingatkan para mukminin akan tanggung jawab terbesar mereka: menjaga fondasi masyarakat, yaitu keluarga, dari kehancuran spiritual. Peringatan ini sangat tegas karena ancamannya adalah "api neraka," sebuah gambaran azab yang dahsyat.
Perintah pertama dalam ayat ini ditujukan kepada diri sendiri. Tidak ada gunanya mencoba menyelamatkan orang lain sementara diri sendiri masih terjerumus dalam kelalaian atau maksiat. Menjaga diri berarti melaksanakan semua perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta senantiasa memperbaiki akidah dan akhlak pribadi. Ini adalah prasyarat mutlak sebelum melangkah pada tanggung jawab yang lebih luas. Dalam konteks modern, ini mencakup pengelolaan waktu, konsumsi informasi yang sehat, dan menjaga integritas moral di tengah arus hedonisme.
Setelah memastikan pondasi pribadi kokoh, perintah beralih kepada keluarga. Keluarga adalah unit terkecil pembentuk peradaban. Kewajiban ini menuntut peran aktif dari kepala rumah tangga—ayah dan ibu—untuk mendidik, mengarahkan, dan melindungi anggota keluarga mereka.
Tanggung jawab ini mencakup aspek duniawi dan ukhrawi. Secara duniawi, memastikan kebutuhan sandang, pangan, dan papan terpenuhi dengan cara yang halal. Namun, penekanan utama dalam konteks ayat ini adalah perlindungan dari api neraka. Ini berarti menanamkan tauhid, mengajarkan shalat dan ibadah lainnya, membiasakan akhlak mulia, serta mencegah mereka terjerumus pada perbuatan dosa atau pemikiran sesat. Kehati-hatian dalam memilih lingkungan pergaulan anak-anak juga termasuk dalam lingkup penjagaan ini.
Ayat 105 memberikan deskripsi visual yang mengerikan tentang neraka (Jahannam) untuk memberikan motivasi kuat agar manusia mau berusaha keras mencegah diri dan keluarga darinya. Bahan bakarnya bukan kayu atau minyak bumi, melainkan "manusia dan batu." Para mufassir menjelaskan bahwa batu yang dimaksud adalah batu belerang (sulfur) atau batu keras yang sangat mudah terbakar, yang menunjukkan panasnya api neraka melebihi segala sesuatu yang kita kenal di dunia.
Selain bahan bakarnya, penjaganya pun digambarkan dengan sifat yang menakutkan: "malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah." Keperkasaan para malaikat penjaga ini menegaskan bahwa tidak ada jalan negosiasi atau permohonan ampun di tempat tersebut bagi orang-orang yang telah lalai saat masih diizinkan berusaha. Ini adalah penekanan bahwa pintu pertobatan hanya terbuka selama masa hidup di dunia.
Dalam konteks kekinian, di mana informasi dan ideologi menyebar tanpa batas melalui teknologi digital, perintah menjaga keluarga dari bahaya menjadi semakin relevan dan kompleks. Orang tua harus menjadi filter utama (gatekeeper) terhadap konten yang dikonsumsi anak-anak mereka. Pemahaman mendalam terhadap Al-Maidah ayat 105 mendorong orang tua untuk tidak hanya menyediakan fasilitas fisik, tetapi yang lebih penting, menyediakan benteng spiritual dan intelektual bagi keturunan mereka. Ayat ini adalah panggilan abadi untuk kepemimpinan yang bertanggung jawab di dalam rumah tangga.