Yā ayyuhal-ladhīna āmanū ‘alaikum anfusakum, lā yaḍurrukum man ḍalla idah-tadaytum. Ilal-lāhi marji‘ukum jamī‘an fa yunabbi’ukum bimā kuntum ta‘malūn.
"Wahai orang-orang yang beriman! Jaga dirimu sendiri; (karena) orang yang sesat tidak akan membahayakanmu apabila engkau telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, lalu Dia akan memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
Ayat ke-105 dari Surah Al-Maidah ini merupakan salah satu ayat kunci dalam Islam yang menekankan pentingnya pertanggungjawaban individu (personal accountability). Ayat ini ditujukan secara khusus kepada orang-orang yang telah menyatakan keimanan mereka (yā ayyuhal-ladhīna āmanū).
Frasa sentral dalam ayat ini adalah "‘alaikum anfusakum", yang secara harfiah berarti "atas kalianlah diri kalian" atau lebih tepatnya, "jagalah diri kalian sendiri." Ini bukan berarti seorang Muslim harus mengisolasi diri dari urusan umat, melainkan penekanan bahwa pondasi perbaikan dimulai dari internal diri masing-masing. Seorang hamba harus memastikan bahwa dirinya teguh di atas kebenaran, melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya.
Konsekuensi logis dari menjaga diri ini dijelaskan selanjutnya: "lā yaḍurrukum man ḍalla idah-tadaytum" (tidak akan membahayakanmu orang yang sesat apabila engkau telah mendapat petunjuk). Jika seseorang sudah kokoh dalam kebenaran (hidayah), maka kesesatan orang lain tidak akan menimpakan dosa kepadanya. Ini menegaskan prinsip keadilan ilahi bahwa setiap jiwa memikul dosanya sendiri. Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa jika umat manusia terdahulu menjadi sesat, umat Islam diperintahkan untuk memperbaiki diri mereka terlebih dahulu, bukan menyalahkan orang lain secara pasif.
Namun, penting untuk dicatat bahwa ayat ini tidak meniadakan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar (memerintahkan yang baik dan mencegah yang mungkar). Para mufassir menjelaskan bahwa perintah menjaga diri adalah prioritas utama sebelum melakukan koreksi sosial. Ketika seseorang telah menjadi teladan yang baik dan menyeru dengan hikmah, namun ia ditolak atau didustakan, maka tanggung jawabnya secara langsung adalah menjaga konsistensi dirinya.
Meskipun fokus utama ayat ini adalah "diri sendiri," ayat ini ditutup dengan pengingat tentang kembalinya semua kepada Allah: "Ilal-lāhi marji‘ukum jamī‘an fa yunabbi’ukum bimā kuntum ta‘malūn." (Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, lalu Dia akan memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan).
Kata "jamī‘an" (semua) menunjukkan bahwa meskipun pertanggungjawaban dosa bersifat individual, hasil akhir dari amal perbuatan kolektif umat akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta. Oleh karena itu, menjaga diri sendiri adalah persiapan terbaik untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar. Ketika setiap individu telah memperbaiki dirinya, maka lingkungan sosialnya secara otomatis akan membaik. Integritas pribadi menjadi standar utama untuk menilai kualitas ibadah seorang Muslim secara keseluruhan.
Ayat Al-Maidah 105 ini mengajarkan keseimbangan penting: fokus pada kualitas spiritual internal diri sendiri sambil tetap menyadari bahwa semua akan kembali kepada perhitungan akhir Allah SWT, di mana setiap tindakan—baik yang tampak maupun tersembunyi—akan terungkap.