Mengkaji Kedalaman Pesan Al-Maidah Ayat 18

Simbol Keadilan dan Kesalahan Manusia Gambar abstrak yang menampilkan timbangan di satu sisi dan awan badai di sisi lain, melambangkan pilihan antara kebenaran dan penyimpangan.

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً ۖ قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

(QS. Al-Maidah: 18)

Konteks Historis dan Rujukan Ayat

Surat Al-Maidah (Hidangan) adalah surat Madaniyah yang kaya akan hukum, kisah-kisah para nabi, dan penguatan akidah. Ayat ke-18 secara spesifik menyoroti dialog kritis antara kaum Muslimin dengan sebagian dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang merasa memiliki hak istimewa atau jaminan keselamatan mutlak dari Allah SWT. Ayat ini seringkali muncul dalam konteks perdebatan teologis mengenai klaim eksklusivitas keselamatan.

Ayat ini mengungkap sebuah klaim yang berakar pada kesombongan spiritual. Mereka mengatakan, "Kami tidak akan disentuh api neraka kecuali hanya beberapa hari yang terhitung." Ungkapan ini menunjukkan anggapan bahwa ikatan keturunan, atau perjanjian lama yang pernah mereka terima, secara otomatis akan memberikan keringanan siksa, bahkan ketika amal perbuatan mereka jauh dari tuntunan ilahi. Ini adalah bentuk bahaya pemahaman agama yang dangkal—mengandalkan status formal tanpa memperhatikan kualitas spiritual dan amal nyata.

Tantangan dari Allah SWT

Menanggapi klaim tersebut, Allah SWT melalui lisan Nabi Muhammad SAW memberikan bantahan yang tajam dan logis, yang terbagi menjadi dua pertanyaan retoris yang mengandung pukulan telak:

  1. "Apakah kamu membuat perjanjian dengan Allah, sehingga Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya?" (أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ). Pertanyaan ini menantang dasar klaim mereka. Jika mereka benar-benar memiliki perjanjian eksklusif dari Allah, maka janji Allah pasti benar. Namun, karena mereka telah menyimpang dari ajaran-ajaran yang dibawa para nabi terdahulu, perjanjian tersebut otomatis gugur atau tidak berlaku lagi bagi mereka yang melanggarnya.
  2. "Atau kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ). Ini adalah peringatan keras terhadap pengotak-atik agama (pemalsuan atas nama Tuhan). Mengaitkan klaim keselamatan tanpa amal saleh dengan Allah adalah kebohongan besar dan merupakan bentuk kekufuran terhadap keadilan-Nya.

Kedua pertanyaan ini menekankan bahwa janji Allah selalu terikat pada kepatuhan dan keikhlasan. Allah tidak pernah melanggar janji-Nya, tetapi manusia sendirilah yang seringkali melanggar syarat-syarat yang ditetapkan dalam janji tersebut.

Pelajaran Universal untuk Umat Manusia

Meskipun ayat ini ditujukan kepada kelompok tertentu di masa lampau, pesan Al-Maidah ayat 18 bersifat universal dan abadi. Ia mengajarkan prinsip dasar dalam hubungan manusia dengan Tuhan, yaitu: Keselamatan bersifat kondisional.

Tidak ada status, keturunan, atau label agama yang dapat menjamin keselamatan seseorang secara otomatis di akhirat jika disertai dengan penyimpangan moral dan pengabaian perintah Tuhan. Sikap merasa aman (sense of security) tanpa didukung oleh amal nyata adalah bentuk penipuan diri yang paling berbahaya. Islam mengajarkan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas tindakannya. Status Muslim, Yahudi, atau Kristen hanyalah sebuah wadah; isinya—yaitu iman yang diwujudkan dalam ketaatan dan amal saleh—yang akan menentukan kualitas pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta.

Ayat ini memaksa kita untuk selalu introspeksi: Apakah kita hanya berpegang pada nama atau label agama kita, ataukah kita benar-benar berusaha menunaikan setiap janji yang kita ikrarkan kepada Allah melalui syahadat dan ibadah sehari-hari? Keadilan Allah bersifat mutlak; Dia tidak menghukum tanpa sebab, dan Dia tidak memberi ganjaran tanpa sebab pula. Oleh karena itu, klaim tanpa bukti adalah kesombongan yang keliru.

🏠 Homepage