Al-Qur'an adalah sumber petunjuk hidup bagi umat Islam, dan setiap ayatnya membawa makna mendalam yang relevan sepanjang masa. Salah satu ayat yang sering menjadi perbincangan hangat terkait janji dan balasan ilahi adalah Surah Al-Maidah ayat ke-25. Ayat ini secara spesifik menceritakan doa Nabi Musa AS kepada Allah SWT dan respon ilahi yang luar biasa terhadap doa tersebut.
Untuk memahami kedalaman pesan di baliknya, mari kita perhatikan teks ayat tersebut:
قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
Terjemahan:
"Musa berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan kaum yang fasik itu'." (QS. Al-Maidah: 25)
Ayat ini muncul dalam konteks ketika Bani Israil sedang dalam perjalanan panjang di padang gurun setelah keluar dari penindasan Firaun di Mesir. Allah telah menjanjikan tanah suci (Palestina) kepada mereka. Namun, karena pembangkangan, ketidaktaatan, dan kekufuran mereka saat menghadapi ujian, Allah menjatuhkan hukuman berupa pengasingan selama empat puluh tahun di padang pasir.
Nabi Musa AS, sebagai pemimpin dan pembimbing mereka, merasakan kepedihan yang mendalam. Ia telah berusaha sekuat tenaga mengajak kaumnya untuk taat, namun sebagian besar dari mereka justru menunjukkan sikap keras kepala dan fasik—yaitu keluar dari ketaatan dan melakukan pelanggaran besar. Dalam keputusasaan dan kepasrahan total kepada kehendak Allah, Nabi Musa memohon perlindungan dan pemisahan.
Permintaan Nabi Musa mengandung beberapa lapisan makna penting:
Respons Allah terhadap doa Nabi Musa AS tercantum pada ayat berikutnya (Al-Maidah: 26), di mana Allah menyatakan bahwa kaum tersebut diharamkan memasuki tanah suci selama empat puluh tahun, sementara Nabi Musa dan Harun akan dibimbing menuju keselamatan.
Meskipun ayat ini berbicara tentang peristiwa spesifik di masa lalu, pesan moralnya sangat universal. Ayat ini mengajarkan pentingnya integritas pribadi di tengah lingkungan yang mungkin tidak suportif atau bahkan destruktif. Dalam kehidupan modern, kita sering dihadapkan pada pilihan untuk mengikuti arus mayoritas yang mungkin menyimpang dari prinsip kebenaran, atau berpegang teguh pada jalan yang benar.
Nabi Musa mengajarkan bahwa ketika seseorang telah berusaha semaksimal mungkin untuk membimbing, namun individu atau kelompok di sekitarnya tetap memilih kefasikan, maka langkah yang paling bijak adalah memohon pemisahan spiritual dan perlindungan dari Allah. Ini bukan berarti lari dari tanggung jawab sosial, melainkan menegaskan bahwa pertanggungjawaban akhirat bersifat personal. Kita bertanggung jawab atas upaya kita untuk berbuat baik dan menjaga diri kita sendiri dari perbuatan fasik.
Ayat ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang sejati adalah kepemimpinan yang sadar akan batas kemampuannya dan selalu bersandar penuh pada kekuatan ilahi. Ketika kebaikan terdesak oleh keburukan, memohon keadilan dan pemisahan dari kehancuran adalah bentuk pertahanan diri yang diajarkan langsung oleh para Nabi.
Oleh karena itu, merenungkan Al-Maidah ayat 25 memberikan kita pelajaran berharga tentang keteguhan, keikhlasan dalam berdakwah, dan pentingnya memohon pertolongan Allah saat menghadapi komunitas yang sulit menerima kebenaran.