*Visualisasi metaforis mukjizat Nabi Musa
Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali pelajaran hidup, hukum, dan kisah kenabian. Di antara ayat-ayat penting tersebut, terdapat rentetan kisah Nabi Musa a.s. dengan kaumnya yang terekam jelas dalam Al-Maidah ayat 26 hingga 30. Bagian ini menyoroti titik balik krusial dalam sejarah Bani Israil: hukuman atas kekufuran mereka dan dimulainya periode pengembaraan panjang di padang Tih.
Ayat 26 diawali dengan teguran keras Allah kepada Nabi Musa mengenai sikap kaumnya yang keras kepala dan menolak perintah suci. Setelah penolakan tersebut, Allah menetapkan hukuman: mereka akan tersesat di padang Tih selama empat puluh tahun.
"Allah berfirman: 'Maka sesungguhnya negeri itu haram bagi mereka selama empat puluh tahun, (selama waktu) itu mereka akan mengembara di bumi; maka janganlah kamu bersedih hati (untuk menenangkan) orang-orang yang fasik itu.'" (QS. Al-Maidah: 26)
Hukuman ini bukan sekadar pembuangan fisik, tetapi juga hukuman spiritual. Selama empat puluh tahun, generasi yang dipenuhi dengan sifat gentar, meminta kemudahan, dan sering mendurhakai janji Allah, disingkirkan dari kesempatan memasuki tanah yang dijanjikan (Baitul Maqdis). Hikmahnya jelas: kekerasan hati dan penolakan terhadap kebenaran ilahi pasti berujung pada konsekuensi yang berat, bahkan jika disampaikan oleh seorang Nabi utusan Allah. Ini mengajarkan bahwa kepemimpinan spiritual menuntut kepatuhan total.
Setelah membahas hukuman, Allah beralih menceritakan kisah pengorbanan dan pembunuhan pertama antarmanusia melalui perumpamaan Qabil dan Habil (dua putra Nabi Adam). Kisah ini disajikan sebagai perbandingan kontras terhadap sikap Bani Israil yang cenderung menolak kebenaran.
Kisah ini dimulai dengan perintah untuk menyampaikan kebenaran kisah tersebut kepada Bani Israil dengan cara yang benar. Allah menggambarkan bagaimana pengorbanan Habil diterima karena ketulusan dan takwa, sementara pengorbanan Qabil ditolak karena keengganan dan niat buruk.
"Dan ceritakanlah (hai Muhammad) kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima (sebagai korban) dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil)..." (QS. Al-Maidah: 27)
Ayat 29 kemudian memuncak pada tanggapan Qabil yang penuh kesombongan dan ancaman pembunuhan. Ini adalah representasi sempurna dari keangkuhan yang menolak kebenaran, sebuah sifat yang juga dipertontonkan oleh kaum Musa saat menolak janji Allah. Inti dari perbandingan ini adalah penekanan bahwa amalan yang diterima Allah adalah yang dilandasi keikhlasan dan takwa, bukan sekadar formalitas.
Ayat 30 menutup rangkaian ini dengan tindakan nyata Qabil yang membunuh saudaranya. Teks ini secara dramatis menunjukkan bagaimana dorongan nafsu buruk dan hasad dapat merenggut nyawa.
"Maka hawa nafsu Qabil menungganginya (membunuhnya) sehingga ia pun membunuh saudaranya, lalu jadilah ia seorang (termasuk) orang-orang yang rugi." (QS. Al-Maidah: 30)
Dalam konteks Bani Israil, kisah ini berfungsi sebagai peringatan keras: jika mereka terus menerus menolak hukum Allah dan memilih jalan permusuhan serta pembangkangan, mereka akan terjerumus ke dalam kerugian yang sama parahnyaākehilangan rahmat dan terhalang dari kebaikan. Kekerasan dan penolakan terhadap wahyu adalah penyakit spiritual yang sama yang diderita oleh Qabil.
Rangkaian Al-Maidah 26-30 ini memberikan beberapa pelajaran mendasar. Pertama, konsistensi dalam keimanan dan kepatuhan adalah kunci untuk mendapatkan rahmat Allah dan memasuki janji-Nya. Pengembaraan 40 tahun adalah metafora bagi penundaan pertolongan ilahi akibat kegagalan kolektif.
Kedua, nilai sebuah perbuatan diukur dari ketulusan hati, bukan sekadar ritual. Qabil gagal karena hatinya dipenuhi hasad, sama seperti kaum Musa yang gagal karena hati mereka dipenuhi rasa takut dan keraguan, menolak perintah masuk ke tanah suci.
Ketiga, kisah pembunuhan pertama harus selalu diingat sebagai bahaya nyata dari godaan hawa nafsu dan kesombongan. Ketika seseorang membiarkan amarah dan iri hati menguasai, ia berisiko melakukan kezaliman terbesar, bahkan terhadap sesama yang paling dekat dengannya. Ayat-ayat ini adalah panggilan untuk introspeksi mendalam tentang kondisi hati kita dalam menghadapi perintah dan kebenaran yang disampaikan oleh Allah melalui para nabi-Nya. Kita harus belajar dari kegagalan masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, terutama dalam konteks kepemimpinan dan kepatuhan spiritual.
Dengan memahami hikmah di balik teguran terhadap Bani Israil dan kisah tragis anak Nabi Adam, umat Islam diajak untuk senantiasa menjaga kesucian niat dan semangat kepatuhan total kepada syariat Allah.