Surah Al-Ma'idah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali ayat yang membahas syariat, perjanjian, dan kisah-kisah penting. Salah satu ayat yang sering menjadi perbincangan dalam konteks hukum dan balasan adalah ayat ke-37, yaitu Al-Ma'idah ayat 37. Ayat ini memberikan gambaran tegas mengenai konsekuensi perbuatan dosa besar, khususnya dalam ranah kriminalitas, namun juga menyisakan celah bagi rahmat dan pengampunan Allah SWT.
Teks dan Terjemahan Al-Ma'idah Ayat 37
Arab: إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit, dan mereka tidak akan masuk Surga sehingga unta dapat masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.
Konteks Historis dan Makna Inti
Ayat 37 dari Surah Al-Ma'idah ini secara umum ditujukan kepada mereka yang keras kepala dalam menolak kebenaran Ilahi. Kata kunci dalam ayat ini adalah "kazzabū bi-āyātinā" (mendustakan ayat-ayat Kami) dan "istakbarū 'anhā" (menyombongkan diri terhadapnya). Penolakan disertai kesombongan ini adalah kombinasi berbahaya yang menutup hati dari petunjuk Allah.
Allah SWT menegaskan dua konsekuensi utama bagi golongan ini. Pertama, penolakan akses ke langit: "laa tufattahu lahum abwaabul samaa’". Para mufassir menafsirkan ini bukan hanya secara fisik, tetapi lebih kepada terhalangnya amal baik mereka untuk naik ke hadirat Allah, atau terhalangnya doa mereka untuk didengar. Ini adalah metafora yang kuat tentang keterputusan hubungan spiritual.
Kedua, dan yang paling terkenal, adalah analogi mustahilnya mereka masuk Surga: "wa laa yadkhulūnal jannata hattā yalijal jamalu fī sammil khiyaat" (sampai unta masuk ke lubang jarum). Ungkapan ini sering disalahpahami. Dalam konteks bahasa Arab klasik, ini adalah perumpamaan yang menunjukkan sesuatu yang mustahil secara mutlak, sebanding dengan konsep "kiamat kecil" bagi orang yang sombong menolak kebenaran.
Perbedaan Sudut Pandang: Hukuman vs. Peringatan
Meskipun ayat ini keras, penting untuk membedakan antara hukuman bagi orang kafir yang mati dalam kekafiran dan peringatan bagi seorang Muslim yang melakukan dosa besar (maksiat). Mayoritas ulama sepakat bahwa ancaman keras yang disebutkan di sini ditujukan kepada mereka yang menolak kebenaran secara total, yakni orang-orang musyrik atau munafik yang mati dalam kekufurannya.
Bagi seorang Muslim yang berdosa kemudian bertaubat sebelum ajal menjemput, pintu rahmat Allah selalu terbuka. Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa kesombongan adalah penghalang utama penerimaan taubat dan amal ibadah. Jika seseorang merasa dirinya lebih benar daripada syariat Allah, ia telah menempatkan dirinya dalam bahaya yang sama dengan yang diperingatkan dalam ayat ini.
Ilustrasi simbolis dari pintu yang tertutup dan kesulitan melintasi lubang jarum.
Pentingnya Sikap Tawadhu’ (Rendah Hati)
Inti dari pesan Al-Ma'idah ayat 37 adalah pentingnya sikap tawadhu' (rendah hati) dalam menerima kebenaran. Kesombongan bukan hanya masalah etika sosial, tetapi merupakan penyakit spiritual yang dapat menghalangi hubungan seseorang dengan Penciptanya. Ketika seseorang telah sampai pada titik menganggap dirinya lebih tahu atau lebih berhak daripada petunjuk yang diturunkan Allah, maka ia telah memilih jalan kehancuran.
Bagi umat Islam, ayat ini berfungsi sebagai pengingat konstan untuk selalu memeriksa niat dan sikap hati. Apakah kita mudah membantah wahyu karena ego pribadi? Apakah kita menganggap remeh peringatan Allah? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah kita termasuk golongan yang dijanjikan pintu langit terbuka atau sebaliknya.
Pada akhirnya, meskipun ayat ini memberikan gambaran konsekuensi terberat bagi pendurhaka yang sombong, ia juga mendorong semua mukmin untuk senantiasa menjaga kerendahan hati. Kerendahan hati adalah kunci untuk membuka pintu ilmu, pintu rahmat, dan pada akhirnya, pintu Surga yang dijanjikan Allah SWT bagi hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.