Ilustrasi Keadilan dan Kitab Suci
Konteks dan Inti Surah Al-Maidah
Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surah terakhir yang diturunkan di Madinah. Ayat-ayatnya banyak membahas hukum, perjanjian, dan etika kehidupan bermasyarakat bagi umat Islam. Di tengah pembahasan hukum dan perlakuan terhadap non-Muslim, terselip sebuah ayat yang sangat fundamental mengenai pertanggungjawaban individu dan rahmat Allah SWT, yaitu Al-Maidah ayat 39.
Ayat ini seringkali dikutip dalam konteks hukum pidana Islam, namun maknanya jauh lebih luas, menyentuh inti dari keadilan, pengampunan, dan perubahan perilaku. Ayat ini memberikan solusi tegas namun penuh kasih sayang bagi mereka yang terjerumus dalam kesalahan besar.
"Dan barangsiapa yang tidak bertaubat dan tidak berhenti (dari perbuatannya), maka (baginya) bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Catatan: Teks standar Al-Maidah 39 sebenarnya membahas tentang hukuman bagi pencuri dan rahmat Allah bagi yang bertobat. Teks yang umum dikutip sering kali merujuk pada akhir ayat tersebut atau ayat lain yang berdekatan. Fokus artikel ini adalah pada prinsip pertobatan yang ditekankan dalam konteks ayat-ayat hukum tersebut.)
*(Catatan Penting: Ayat 39 Surah Al-Maidah secara spesifik membahas hukuman potong tangan bagi pencuri, dan diikuti oleh penegasan tentang rahmat Allah bagi mereka yang bertaubat setelah melakukan kesalahan tersebut.)*
Penegasan Prinsip Tobat
Ayat Al-Maidah 39, dalam konteks penuhnya, menunjukkan keseimbangan yang luar biasa dalam syariat Islam. Di satu sisi, ditegakkanlah hukuman yang tegas (hudud) untuk menjaga ketertiban sosial dan melindungi hak milik. Di sisi lain, pintu rahmat dan pengampunan selalu terbuka lebar bagi siapa pun yang benar-benar menyesali perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya.
Ini menegaskan bahwa tujuan utama hukum bukanlah pembalasan tanpa akhir, melainkan koreksi perilaku. Setelah hukuman duniawi dilaksanakan (atau bagi yang memilih jalur tobat sebelum hukuman), penekanan beralih kepada aspek ilahiah: Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ini memberikan harapan besar kepada setiap pelaku dosa, tidak peduli seberapa besar kesalahannya, selama ada ketulusan dalam penyesalan.
Persyaratan Pertobatan yang Sejati
Pesan yang terkandung dalam ayat-ayat yang membahas tobat—termasuk yang menyertai Al-Maidah 39—menuntut lebih dari sekadar ucapan di lisan. Pertobatan yang diterima Allah memiliki beberapa pilar utama. Pertama, mengakui dan menyesali perbuatan dosa tersebut secara tulus. Kedua, segera menghentikan perbuatan dosa itu dan berjanji sungguh-sungguh untuk tidak pernah kembali melakukannya di masa depan. Ketiga, jika dosa tersebut melibatkan hak orang lain (seperti dalam kasus pencurian yang disinggung ayat 39), maka wajib untuk mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf dan memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan.
Tanpa pemenuhan syarat-syarat ini, klaim pertobatan hanyalah ilusi. Keadilan menuntut pemulihan, sementara rahmat Allah menunggu manifestasi kesungguhan hati melalui tindakan nyata.
Dampak Sosial dan Individual
Implementasi prinsip ini dalam kehidupan bermasyarakat menciptakan dua efek penting. Secara individual, ia mencegah manusia jatuh ke dalam keputusasaan (putus asa dari rahmat Allah) setelah melakukan kesalahan. Seseorang yang dihukum atau yang memilih bertobat akan memiliki kesempatan untuk memulai lembaran baru dalam catatan amalnya.
Secara sosial, penegakan keadilan yang disertai dengan janji pengampunan menciptakan masyarakat yang disiplin namun humanis. Masyarakat tahu bahwa pelanggaran akan ditindak, namun mereka juga yakin bahwa institusi hukum dan spiritual (agama) menyediakan jalan keluar menuju perbaikan diri, bukan sekadar pemusnahan pelaku kesalahan. Keadilan dan kasih sayang harus berjalan seiring, sebuah keseimbangan sempurna yang diajarkan Al-Qur'an melalui ayat-ayat seperti Al-Maidah 39.
Oleh karena itu, memahami ayat ini secara utuh mengingatkan kita bahwa meskipun Islam menjunjung tinggi keadilan yang teguh, ia juga adalah agama yang dibangun di atas fondasi rahmat yang tak terbatas dari Sang Pencipta.