Ilustrasi Kekhawatiran Kesehatan Reproduksi
Mengalami hubungan intim yang berakhir tanpa ejakulasi, atau yang dikenal sebagai anejakulasi, bisa menimbulkan kebingungan, kekhawatiran, bahkan rasa frustrasi bagi seorang pria. Kondisi ini sering kali tidak berbahaya dan bisa disebabkan oleh berbagai faktor psikologis maupun fisik. Memahami mengapa ini terjadi adalah langkah pertama menuju solusi yang tepat.
Anejakulasi merujuk pada ketidakmampuan seorang pria untuk mengeluarkan air mani (sperma) selama orgasme atau rangsangan seksual yang cukup intens. Meskipun ia mungkin merasakan sensasi klimaks, tidak ada cairan yang keluar. Penting untuk membedakan ini dengan ejakulasi retrograde, di mana sperma masuk kembali ke kandung kemih, meskipun sensasi orgasme tetap ada.
Kondisi ini dapat terjadi pada saat masturbasi maupun saat berhubungan seksual. Jika ini terjadi sesekali, mungkin tidak perlu dikhawatirkan. Namun, jika ini menjadi pola yang berulang, terutama jika ada keinginan untuk bereproduksi, evaluasi medis sangat dianjurkan.
Penyebab dari kegagalan ejakulasi sangat beragam dan sering kali melibatkan interaksi antara kondisi mental dan fisik:
Ini adalah salah satu penyebab paling umum. Tekanan psikologis dapat sangat memengaruhi respons seksual pria. Hal-hal yang berkontribusi meliputi:
Kerusakan pada jalur saraf atau masalah struktural juga bisa menjadi penyebab:
Dalam beberapa kasus, anejakulasi mungkin berhubungan dengan kondisi yang mendasarinya. Contohnya adalah adanya ejakulasi retrograde (seperti yang disebutkan sebelumnya) atau obstruksi (penyumbatan) pada saluran ejakulasi, meskipun ini biasanya menyebabkan volume semen yang sangat sedikit atau tidak ada sama sekali, bukan hanya kegagalan total saat orgasme.
Jika Anda dan pasangan telah berusaha untuk mengatasi masalah ini dan Anda merasa khawatir, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional medis, seperti urolog atau ahli andrologi. Konsultasi diperlukan jika:
Penanganan sangat bergantung pada penyebab yang teridentifikasi. Jika masalahnya bersifat psikologis, pendekatan terbaik adalah melalui terapi:
Jika penyebabnya adalah fisik atau terkait obat-obatan, dokter mungkin menyarankan:
Memiliki hubungan yang memuaskan tidak selalu harus berakhir dengan ejakulasi. Komunikasi terbuka dengan pasangan dan penerimaan diri adalah kunci untuk mengurangi tekanan. Namun, untuk masalah kesuburan atau jika kondisi ini menyebabkan penderitaan mental, mencari bantuan profesional adalah langkah yang bijak dan perlu.