Surah Al-Maidah (Hidangan) adalah salah satu surah terpanjang dalam Al-Qur'an yang sarat dengan muatan hukum, ajaran moral, dan kisah-kisah penting. Rentang ayat 100 hingga 120 mencakup tema fundamental mengenai pertanggungjawaban, perbandingan antara yang baik dan buruk, serta esensi kepemimpinan dan keadilan ilahi. Mempelajari ayat-ayat ini membantu umat Islam memahami parameter kehidupan yang diridhai Allah SWT.
Katakanlah: "Tidak sama yang buruk itu dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. Al-Maidah: 100)
Ayat 100 memberikan pelajaran krusial bahwa kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan keburukan, tidak akan pernah bisa disejajarkan nilainya. Meskipun keburukan (syirik, maksiat, perbuatan tercela) mungkin terlihat banyak, populer, atau menggiurkan (banyaknya yang buruk itu menarik hatimu), ia tetaplah buruk di hadapan Allah. Kunci untuk bisa membedakan dan memilih yang baik adalah dengan memiliki ketakwaan dan akal sehat (*ulil albab*). Keberuntungan (*falah*) hanya dapat diraih melalui prinsip ini. Dalam konteks sosial, ayat ini mengingatkan untuk tidak mengikuti arus mayoritas jika mayoritas tersebut berada dalam kesesatan.
Bagian tengah dari rentang ayat ini (terutama sekitar ayat 105 hingga 109) menyoroti pentingnya menjaga amanah dan integritas. Setelah membahas standar moral, Al-Qur'an mengalihkan fokus pada tanggung jawab sosial, khususnya bagi mereka yang memiliki otoritas atau memegang kendali atas urusan orang lain. Amanah harus dijaga, baik amanah materi maupun amanah dalam menyampaikan kebenaran.
Ini adalah pengingat tegas bahwa di Hari Kiamat, setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah mereka lakukan. Ketidakadilan sekecil apapun dalam kepemimpinan atau kesaksian akan memiliki konsekuensi abadi. Ayat-ayat ini menjadi landasan etika publik bagi setiap muslim, menuntut kejujuran mutlak dalam setiap transaksi dan keputusan.
Bagian akhir dari rentang ayat ini beralih pada dialog visioner di Hari Kiamat, yang melibatkan Nabi Isa bin Maryam. Allah bertanya kepada Nabi Isa mengenai nikmat yang telah diberikan kepadanya, termasuk mukjizat menghidupkan orang mati atas izin Allah.
(Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, ingatlah nikmat-Ku atasmu dan atas ibumu ketika Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus (Jibril) [1139] sehingga kamu dapat berbicara kepada manusia di waktu masih dalam buaian dan waktu dewasa; dan ingatlah ketika Aku mengajarkan kepadamu Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil; (QS. Al-Maidah: 110)
Dialog ini menekankan bahwa mukjizat dan karunia kenabian adalah murni pemberian dari Allah. Ketika Allah bertanya apakah Nabi Isa menyuruh manusia menjadikan dirinya dan ibunya sebagai tuhan selain Allah, Nabi Isa dengan tegas menyatakan penolakan. Beliau hanya menyampaikan risalah Tauhid.
Kesaksian Nabi Isa ini berfungsi sebagai penutup yang kuat bagi argumen Tauhid dalam Surah Al-Maidah. Ia menegaskan bahwa tidak ada perantara ilahi selain Allah, dan bahkan para rasul yang mulia sekalipun akan bersaksi di hadapan Allah bahwa mereka hanyalah hamba dan penyampai wahyu. Ini adalah peringatan keras bagi mereka yang menyimpang dari ajaran murni para nabi.
Ayat terakhir dalam rentang ini (Ayat 120) mengukuhkan kekuasaan Allah yang mutlak atas segala sesuatu, baik di bumi maupun di langit.
Hanya milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan segala isinya. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Maidah: 120)
Ayat ini menyimpulkan bahwa segala bentuk kekuasaan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, sepenuhnya berada di tangan Allah. Peringatan sebelumnya tentang membedakan baik dan buruk, menjaga amanah, serta kesaksian para nabi, semuanya berakar pada pemahaman tunggal bahwa hanya kepada Allah-lah segala sesuatu kembali dan tunduk. Pemahaman ini adalah fondasi spiritual yang harus dipegang teguh oleh setiap mukmin agar tidak mudah terombang-ambing oleh godaan duniawi yang bersifat sementara.