Surah Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali ayat yang membahas hukum, etika sosial, serta kisah-kisah penting bagi umat Islam. Bagian akhir dari surat ini, khususnya ayat 101 hingga 110, menyajikan rentetan nasihat krusial terkait pentingnya mengikuti syariat, bahaya melanggar batasan Allah, serta peran Nabi Muhammad SAW sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.
Memahami konteks dan makna mendalam dari sepuluh ayat ini penting untuk memperkuat keimanan dan memastikan setiap langkah kehidupan kita selaras dengan petunjuk Ilahi.
Al-Maidah Ayat 101-102 (Intisari):
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika dijelaskan kepadamu, akan menyusahkan kamu. Jika kamu menanyakan hal-hal itu ketika Al-Qur'an sedang diturunkan, niscaya akan dijelaskan kepadamu. Allah telah memaafkan (kesalahan) kamu; dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. Sesungguhnya sebelum kamu telah ada segolongan orang bertanya kepada Nabi mereka tentang hal-hal yang tidak perlu, lalu mereka menjadi kafir karenanya. Katakanlah: "Allah tidak melarang kamu terhadap sesuatu, tetapi (larangan itu datang) karena sesuatu yang diturunkan-Nya kepada kalian. Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian dan dengarlah serta patuhilah. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang menganggap remeh ayat-ayat Allah.
Ayat-ayat ini memberikan teguran lembut namun tegas kepada umat Islam agar tidak bersikap seperti Bani Israil di masa lalu yang sering mengajukan pertanyaan yang memberatkan dan akhirnya menjerumuskan mereka dalam kekufuran. Pentingnya kepatuhan langsung ("dengar dan patuh") ditekankan di sini, khususnya setelah wahyu diturunkan. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang bertujuan untuk memahami dan mengamalkan, bukan untuk mencari celah atau mempersulit diri sendiri.
Al-Maidah Ayat 106-107 (Intisari):
Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang di antara kamu hendak meninggal dunia, maka hendaklah ia membuat wasiat dengan (memberi harta) kepada ibu bapak dan kaum kerabat yang lebih dekat dengan cara yang baik, (sebagai) suatu kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. Barangsiapa yang mengubah wasiat itu setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Bagian ini memindahkan fokus pada tanggung jawab individu di ambang kematian. Allah SWT memerintahkan penetapan wasiat yang adil, menekankan hak-hak orang tua dan kerabat dekat, sebagai bentuk ketakwaan yang harus ditunjukkan sebelum ajal menjemput. Lebih lanjut, ayat 107 memberikan ancaman keras bagi siapa pun yang mengubah wasiat yang telah ditetapkan secara syar'i, menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala niat tersembunyi.
Sepuluh ayat terakhir dari Surah Al-Maidah ini beralih kepada gambaran Hari Kiamat, di mana seluruh rasul akan dimintai pertanggungjawaban atas penyampaian risalah mereka. Ini menjadi pengingat besar bagi Nabi Muhammad SAW dan umatnya bahwa dakwah harus disampaikan dengan jelas.
Al-Maidah Ayat 108 (Intisari):
Yang demikian itu lebih dekat kepada cara-cara yang benar untuk mempersaksikan persaksian mereka, atau mereka akan takut, bahwa (sesudah persaksian mereka) akan ada sumpah-sumpah yang ditahan (oleh Allah). Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
Ayat-ayat berikutnya (109-110) secara spesifik menyoroti posisi kenabian Isa bin Maryam AS pada Hari Perhitungan. Allah bertanya kepada Nabi Isa tentang ajaran yang disampaikannya kepada umatnya, khususnya mengenai pengakuan ketuhanan.
Al-Maidah Ayat 110 (Intisari):
Ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan kepada ibumu, ketika Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) yang kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan ingatlah, ketika Aku telah mengajarkan kepadamu tulisan, hikmat, Taurat dan Injil, dan ingatlah ketika kamu membuat dari tanah bentuk seperti burung dengan seizin-Ku, lalu kamu meniupnya, maka ia menjadi burung (yang hidup) dengan seizin-Ku..."
Ayat-ayat penutup ini berfungsi sebagai penegasan bahwa mukjizat Nabi Isa adalah murni atas izin dan kekuatan Allah, bukan karena kekuatan pribadi beliau. Ini adalah bantahan tegas terhadap klaim yang mengangkat beliau sebagai Tuhan. Ayat 110 ini menggarisbawahi rangkaian nikmat dan kemampuan luar biasa yang diberikan Allah kepada para utusan-Nya, semuanya kembali kepada konsep Tauhid (keesaan Allah).
Rentetan Al-Maidah ayat 101 sampai 110 mengajarkan kita tiga pilar penting: pertama, kehati-hatian dalam bertanya dan kepatuhan total terhadap perintah yang jelas; kedua, pentingnya menunaikan hak-hak kerabat melalui wasiat sebelum wafat; dan ketiga, kesaksian yang akan dihadapi setiap rasul di Hari Kiamat, menegaskan bahwa setiap amal dan perkataan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.