Al-Qur'an menyimpan banyak sekali kisah teladan yang relevan bagi kehidupan manusia lintas zaman. Salah satu kisah yang paling fundamental dan sarat makna adalah yang termaktub dalam Surah Al-Maidah ayat ke-30. Ayat ini secara ringkas menceritakan awal mula pembunuhan pertama di muka bumi, yaitu kisah antara dua putra Nabi Adam AS, Habil dan Qabil (Kabil).
Ayat ini menjadi fondasi moral tentang bahaya hasad (iri hati) dan pentingnya ketulusan dalam beribadah. Peristiwa ini terjadi ketika keduanya diperintahkan untuk mempersembahkan kurban kepada Allah SWT, dan Allah hanya menerima kurban dari salah satu di antara mereka.
(Maka salah seorang dari mereka (Habil) diterima korbannya dan yang lain (Qabil) tidak diterima). Berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata (Habil): "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Maidah: 27 - *Catatan: Ayat 30 dari Al-Maidah adalah tentang cerita yang berkelanjutan. Dalam konteks kisah pembunuhan, konteks terdekat biasanya merujuk pada ayat 27-31. Untuk fokus pada intisari kisah, kami merujuk pada inti dialog.*)
Meskipun ayat 30 secara spesifik berbicara tentang bagaimana Allah mengutus burung gagak untuk mengajarkan Qabil cara mengubur saudaranya, pemahaman mendalam mengenai inti masalah ini terletak pada ayat sebelumnya, yaitu ketika Qabil mengungkapkan niat jahatnya karena kurbannya tidak diterima. Kejadian ini menunjukkan bahwa standar ketuhanan bukanlah pada jenis persembahan, melainkan pada kualitas hati sang pemberi.
Kisah ini menekankan konsep ikhlas (ketulusan). Habil mempersembahkan hasil terbaik dari usahanya, sementara Qabil mungkin mempersembahkan apa adanya, didorong oleh keinginan untuk diterima tanpa disertai hati yang benar-benar bertakwa. Allah SWT menegaskan bahwa penilaian-Nya selalu berdasarkan takwa, yaitu kesadaran dan ketaatan murni kepada-Nya. Iri hati (hasad) yang muncul pada Qabil adalah reaksi negatif pertama terhadap ketetapan Ilahi yang tidak sesuai harapannya.
Ini adalah pelajaran pertama tentang bahaya hasad. Ketika seseorang melihat kebaikan pada orang lain dan merasa terancam atau cemburu alih-alih termotivasi untuk berbuat lebih baik, maka ia telah membuka pintu bagi perbuatan dosa besar. Hasad adalah penyakit hati yang paling berbahaya karena dapat mendorong seseorang melakukan pelanggaran moral hingga pembunuhan.
Respon Qabil adalah ancaman, "Aku pasti membunuhmu!" Tanggapan Habil sungguh luar biasa, mencerminkan puncak takwa. Ia tidak membalas ancaman itu dengan ancaman, melainkan dengan penjelasan yang menyejukkan: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa."
Dialog ini menunjukkan bahwa Habil sadar sepenuhnya bahwa kekerasan bukanlah solusi. Ia mengingatkan saudaranya pada prinsip dasar agama—bahwa nilai suatu perbuatan di hadapan Tuhan terletak pada ketakwaan pelakunya, bukan pada hasil yang diinginkan oleh pelaku itu sendiri. Sayangnya, peringatan yang penuh hikmah ini tidak dapat menahan gelombang amarah Qabil yang sudah dikuasai setan.
Kisah berlanjut hingga terbunuhnya Habil. Di sinilah Al-Maidah ayat 30 memainkan peran krusialnya dalam sejarah peradaban manusia. Setelah melakukan dosa terbesar, Qabil kebingungan bagaimana cara menangani jenazah saudaranya. Di saat itulah Allah SWT mengirimkan dua ekor burung gagak.
Dua gagak tersebut berkelahi, dan yang satu membunuh yang lain. Kemudian, gagak yang menang menggali tanah dan menguburkan bangkai saudaranya. Peristiwa ini menjadi pelajaran langsung dari Yang Maha Kuasa kepada Qabil tentang bagaimana seharusnya mengurus mayat.
Ini adalah bukti nyata kasih sayang dan pendidikan Allah SWT bahkan kepada pendosa berat. Allah tidak membiarkan Qabil terperosok dalam kebodohan moral setelah kejahatan pertamanya; Dia memberikan petunjuk praktis tentang etika dasar kemanusiaan—yaitu penguburan jenazah. Tindakan mengubur jenazah menjadi ritual universal kemanusiaan yang diturunkan sejak zaman awal umat manusia.
Meskipun kisah ini terjadi di masa awal manusia, relevansinya tidak pernah lekang oleh waktu. Al-Maidah ayat 30, melalui konteks kisahnya, mengajarkan beberapa hal penting. Pertama, mengakui kelebihan orang lain dengan lapang dada adalah ciri orang bertakwa. Kedua, hasad adalah racun yang merusak hubungan vertikal (dengan Tuhan) dan horizontal (dengan sesama manusia). Ketiga, setiap perbuatan, baik atau buruk, akan selalu ada konsekuensi dan pertanggungjawabannya, bahkan dalam hal pengurusan jenazah yang tampaknya sepele.
Memahami kisah Habil dan Qabil melalui lensa Al-Maidah ayat 30 membantu kita untuk senantiasa introspeksi diri. Apakah niat kita dalam beramal sudah murni? Apakah kita mampu menahan diri dari iri hati ketika melihat kesuksesan orang lain? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah kita termasuk dalam golongan yang diterima amalannya, sebagaimana yang dicontohkan oleh Habil.