Memahami Pedoman Ilahi: Al-Ma'idah 50 - 70

Ilustrasi Timbangan Keadilan dan Kitab Suci Kitab

Keadilan, Hukum, dan Peringatan dalam Tinjauan Al-Ma'idah

Surah Al-Ma'idah (Hidangan) adalah salah satu surah Madaniyah yang sarat dengan hukum, perjanjian, serta panduan etika bagi umat Islam. Bagian akhir dari surah ini, khususnya ayat 50 hingga 70, memuat pesan-pesan kuat mengenai keadilan, penolakan terhadap hukum selain syariat Allah, serta pentingnya menjaga perjanjian dan hubungan sosial yang benar. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai kompas moral dan hukum yang relevan sepanjang masa.

Keadilan Melampaui Ikatan Suku (Ayat 50-52)

Ayat 50 seringkali menjadi titik fokus dalam pembahasan hukum Islam dan hubungannya dengan hukum jahiliyah atau hukum buatan manusia. Allah SWT berfirman, "Maka berilah keputusan (perkara) di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka..." Ayat ini menegaskan prinsip dasar bahwa kedaulatan hukum tertinggi hanya milik Allah. Bagi seorang Muslim, tidak ada celah untuk menundukkan hukum Ilahi demi kepentingan pribadi, kelompok, atau tekanan sosial.

Selanjutnya, peringatan keras diberikan kepada orang-orang yang mengambil orang Yahudi dan Nasrani (Ahlul Kitab) sebagai teman setia (awliya) yang menentukan arah kebijakan, padahal mereka saling melindungi satu sama lain. Ini bukanlah larangan total terhadap interaksi sipil, melainkan peringatan agar umat Islam tidak menjadikan mereka sebagai pelindung utama yang mengesampingkan prinsip-prinsip keimanan. Dalam konteks sosial, ayat ini menuntut kejernihan loyalitas dalam memegang teguh syariat.

Ancaman bagi Kaum Munafik dan Penolakan Terhadap Kebenaran (Ayat 53-60)

Ayat-ayat berikutnya menyoroti bahaya kemunafikan dan keraguan dalam iman. Orang-orang yang imannya lemah akan mencari perlindungan dari orang-orang kafir ketika terjadi peperangan atau fitnah, takut jika kelemahan mereka terungkap. Sikap ini adalah kontras tajam dengan keteguhan hati para sahabat yang teguh dalam janji mereka kepada Rasulullah SAW.

Kondisi umat terdahulu juga disinggung, di mana sebagian dari mereka dikutuk karena melanggar janji dan terus-menerus melakukan kerusakan. Hal ini menjadi pelajaran bahwa Allah Maha Melihat dan tidak akan membiarkan pelanggaran hukum-Nya tanpa konsekuensi, baik di dunia maupun di akhirat. Ayat 56 menegaskan kembali, "Barangsiapa yang mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai pelindung, maka sesungguhnya golongan Allah itulah yang pasti menang."

Keadilan yang ditegakkan berdasarkan wahyu akan menghasilkan ketenangan dan keberkahan, berbeda dengan keadilan yang didasarkan pada hawa nafsu yang justru menciptakan kekacauan.

Keinginan Ahli Kitab dan Peringatan Terakhir (Ayat 61-70)

Bagian akhir dari rentetan ayat ini membahas tentang sikap sebagian Ahli Kitab yang berpura-pura mencari kebenaran namun hatinya tertutup. Mereka seringkali menolak mentah-mentah kebenaran yang datang karena kesombongan dan kecemburuan. Terdapat juga celaan terhadap mereka yang secara terang-terangan melakukan pelanggaran, seperti mereka yang mengatakan bahwa tangan Allah terbelenggu (kikir), padahal tangan Allah Maha Pemurah dan tidak terbatas karunia-Nya.

Pesan penutup dari ayat-ayat ini adalah seruan universal. Ayat 65 secara jelas menyatakan bahwa jika Ahli Kitab beriman dan bertakwa, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga kenikmatan. Ini menunjukkan inklusivitas rahmat Allah bagi siapa saja yang tunduk pada kebenaran, tanpa memandang latar belakang agama mereka.

Ayat-ayat 68 dan 69 menekankan bahwa para Rasul membawa ajaran yang sama, yaitu ketaatan penuh kepada Allah. Kegagalan dalam berpegang teguh pada ajaran ini akan berakibat penolakan dari Allah. Puncaknya, ayat 70 mengingatkan kembali seluruh umat manusia akan janji Allah kepada Bani Israil, namun janji tersebut terbukti diingkari oleh banyak di antara mereka, yang kemudian dibalas dengan kutukan.

Relevansi Kontemporer

Tinjauan Al-Ma'idah ayat 50 hingga 70 adalah pelajaran abadi tentang integritas moral dan politik. Dalam era informasi yang serba cepat dan penuh bias, perintah untuk "berhukum dengan apa yang diturunkan Allah" menjadi fondasi untuk menimbang setiap kebijakan dan opini. Ayat-ayat ini menuntut seorang Muslim untuk selalu waspada terhadap godaan untuk kompromi prinsip demi kenyamanan atau penerimaan sosial. Keadilan, kejujuran dalam perjanjian, dan loyalitas yang benar adalah tiang penyangga umat yang ingin meraih kemenangan sejati, bukan kemenangan semu yang bersifat sementara.

🏠 Homepage