Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan ajaran hukum, etika sosial, dan sejarah kenabian. Di antara ayat-ayat penting dalam surat ini, terdapat ayat ke-58 yang sering kali menjadi landasan penting mengenai sikap seorang Muslim terhadap tempat ibadah dan pentingnya menjaga persatuan serta nilai-nilai spiritual dalam kehidupan bermasyarakat.
Ayat ini memberikan instruksi spesifik tentang bagaimana seharusnya orang-orang yang beriman memandang tempat ibadah, baik milik Muslim maupun milik Ahli Kitab, yang menunjukkan pentingnya toleransi dan penghormatan dalam Islam.
Perlu diperhatikan bahwa ayat 58 ini sering dibaca bersamaan dengan ayat sebelumnya (Al-Maidah: 57) yang secara kolektif membahas tentang sikap kaum yang tidak mencintai nilai-nilai keimanan. Ayat 58 secara spesifik menyoroti reaksi negatif terhadap panggilan salat.
Ayat 58 ini berbicara tentang suatu fenomena sosial di mana ketika umat Islam mengumandangkan azan atau menyerukan orang lain untuk menunaikan salat, sebagian kelompok—dalam konteks turunnya ayat ini merujuk pada kaum Yahudi yang berbuat kerusakan di Madinah—menanggapinya dengan cara yang merendahkan, yaitu dengan ejekan dan main-main (هزوًا ولعبًا - huzuwan wa la'iban).
Poin krusial dari ayat ini terletak pada penutupannya: "Hal itu mereka lakukan karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak menggunakan akal (لَّا يَعْقِلُونَ).".
Allah SWT mengaitkan sikap meremehkan ibadah fundamental seperti salat dengan ketidakmampuan atau keengganan mereka menggunakan akal sehat dan logika spiritual. Dalam pandangan Islam, akal (akal sehat) adalah alat utama yang seharusnya menuntun seseorang kepada kebenaran. Ketika akal tidak digunakan untuk memahami urgensi dan kedudukan ibadah, maka yang muncul adalah sikap sinis, materialistis, dan dangkal, yang hanya melihat ritual sebagai objek permainan atau tontonan.
Meskipun konteks historis ayat ini spesifik, pelajaran yang diambil sangat universal. Ayat ini mengingatkan umat Islam untuk senantiasa memuliakan syiar-syiar agama, termasuk azan sebagai panggilan suci untuk meninggalkan urusan duniawi sejenak dan menghadap Sang Pencipta.
Reaksi terhadap ejekan ini bukanlah pembalasan dengan kata-kata kotor, melainkan penegasan bahwa ejekan tersebut lahir dari kekosongan spiritual dan akal yang tertutup. Ini mengajarkan ketenangan dan kesabaran dalam berdakwah, karena mereka yang menolak kebenaran seringkali berada pada level pemahaman yang dangkal.
Walaupun ayat 58 fokus pada reaksi terhadap azan, ia secara implisit menekankan perlunya penghormatan terhadap semua simbol keagamaan yang sahih. Ayat-ayat sebelumnya dalam Al-Maidah (khususnya ayat 51 dan 55-57) berbicara mengenai larangan berwali kepada Yahudi dan Nasrani karena kecenderungan mereka yang mudah terpengaruh oleh ejekan dan permainan dalam urusan agama.
Dengan demikian, ayat 58 menegaskan bahwa fondasi keimanan yang kokoh (yang ditunjukkan dengan ketaatan pada salat) hanya dapat tegak pada hati yang mau berpikir secara jernih. Kaum yang menjadikan ibadah sebagai bahan tertawaan adalah kaum yang gagal menggunakan karunia terbesar yang diberikan Allah, yaitu akal untuk membedakan antara yang haq dan yang batil. Menjaga keseriusan dalam ibadah adalah manifestasi dari penggunaan akal yang benar sesuai dengan tuntunan wahyu.