Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah dalam Al-Qur'an yang kaya akan hukum, peraturan, dan ajaran moral. Di antara ayat-ayatnya yang krusial, terdapat Surat Al-Maidah Ayat 57, sebuah ayat yang seringkali menjadi sorotan dalam diskusi mengenai hubungan umat Islam dengan entitas atau kelompok di luar Islam, khususnya dalam konteks loyalitas dan persahabatan. Ayat ini memberikan batasan yang tegas mengenai siapa yang seharusnya menjadi wali (pelindung atau sahabat karib) bagi seorang Muslim.
Untuk memahami maknanya, penting untuk merujuk langsung pada teks aslinya (Arab) dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang menjadikan agamamu sebagai ejekan dan permainan dari orang-orang yang diberi kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir sebagai teman setia (Auliya'); dan bertakwalah kepada Allah jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS. Al-Maidah: 57)Ayat ini turun dalam konteks sosial politik di Madinah, di mana umat Islam harus menjaga identitas dan integritas mereka di tengah masyarakat yang majemuk. Ayat ini secara eksplisit melarang umat Islam mengambil orang-orang yang menjadikan agama mereka (Islam) sebagai bahan olokan (ejekan dan permainan) sebagai Auliya'.
Kata kunci utama di sini adalah "Auliya'". Dalam banyak tafsir, kata ini tidak hanya berarti teman biasa dalam interaksi sosial sehari-hari, tetapi merujuk pada teman setia, pelindung, wali, atau sekutu politik yang kepercayaannya sepenuhnya disandarkan pada mereka. Larangan ini bertujuan untuk melindungi keimanan (tauhid) dan kesatuan umat Islam dari pengaruh negatif yang dapat merusak fondasi keyakinan.
Ayat ini membagi kelompok yang dilarang dijadikan teman setia menjadi dua kategori utama:
Intensitas larangan ini ditekankan melalui perintah penutup ayat: "dan bertakwalah kepada Allah jika kamu benar-benar orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa kepatuhan terhadap larangan ini adalah tolok ukur sejauh mana keimanan seseorang itu kokoh.
Meskipun turun di masa lampau, relevansi Surat Al-Maidah Ayat 57 tetap tinggi hingga kini. Dalam era globalisasi, di mana batas-batas antar budaya dan agama menjadi kabur, ayat ini mengingatkan umat Islam untuk selektif dalam memilih lingkaran pertemanan terdekat, mitra strategis, atau pihak yang diberi kepercayaan penuh atas urusan keagamaan dan ideologi.
Tentu saja, Islam mengajarkan sikap baik (birrul walidain dan ihsan) kepada semua manusia tanpa memandang agama mereka, selama mereka tidak memerangi atau menghina umat Islam (sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat lain seperti Al-Mumtahanah: 8). Namun, ayat 57 ini fokus pada aspek "perwalian" atau "aliansi" yang melibatkan kepercayaan penuh. Menjadikan mereka sebagai Auliya' berarti menempatkan kepentingan mereka di atas kepentingan agama dan komunitas Muslim, sebuah tindakan yang dikhawatirkan akan melemahkan identitas kolektif.
Oleh karena itu, pemahaman yang seimbang terhadap Surat Al-Maidah Ayat 57 mendorong umat untuk menjaga hubungan baik secara umum (muamalah) namun tetap teguh dalam prinsip dan loyalitas ideologis (aqidah dan wala'). Ini adalah pesan tentang menjaga batasan spiritual demi kemaslahatan iman di tengah dinamika sosial yang kompleks.
Renungan mendalam terhadap Al-Qur'an membantu memperkuat fondasi spiritual kita.