Surat Al-Maidah adalah surat Madaniyah yang sarat dengan pembahasan hukum-hukum syariat, kisah-kisah nabi, dan ajaran penting mengenai hubungan antara Allah SWT dan manusia. Di antara ayat-ayat krusial tersebut, terdapat rangkaian ayat 65 hingga 70 yang secara spesifik menekankan pentingnya keimanan, kepatuhan terhadap janji Allah, serta konsekuensi dari pengingkaran. Memahami ayat-ayat ini memberikan perspektif mendalam mengenai standar yang ditetapkan Allah bagi para Ahli Kitab dan umat Islam secara umum.
"Seandainya Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan."
Ayat 65 ini mengandung sebuah syarat penting: Iman (kepercayaan yang benar) dan Taqwa (ketakutan dan kepatuhan kepada Allah). Ayat ini menunjukkan sifat Maha Pemurah Allah. Meskipun telah terjadi penyimpangan-penyimpangan dari ajaran asli, Allah tetap membuka pintu rahmat seluas-luasnya. Keimanan yang dimaksud di sini adalah iman kepada kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, bukan sekadar mempertahankan keyakinan lama. Jika syarat ini dipenuhi, ganjarannya sangat besar: penghapusan dosa dan janji masuk surga yang penuh kenikmatan. Ini adalah pesan universal bahwa ketaatan adalah kunci utama ridha Ilahi.
Ayat-ayat berikutnya melanjutkan dengan menjelaskan bahwa jika mereka tidak memenuhi syarat tersebut, konsekuensinya adalah mereka harus teguh mematuhi Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Rabb mereka.
"Dan seandainya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan mendapat rezeki dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada segolongan umat yang pertengahan, namun kebanyakan dari mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Maidah: 66)
Ayat 66 menegaskan bahwa kemakmuran duniawi (rezeki dari atas dan bawah) adalah buah dari penerapan syariat yang diturunkan. Namun, Allah mengetahui bahwa realitasnya tidak demikian. Mayoritas Ahli Kitab telah menyimpang, meski ada segolongan kecil yang tetap berada pada jalan tengah (umat yang pertengahan).
Selanjutnya, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan jawaban tegas kepada mereka yang menolak kebenaran.
"Katakanlah: 'Hai Ahli Kitab, kamu tidak (berada dalam pegangan agama yang benar) sehingga kamu menegakkan (hukum) Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.' Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu akan menambah banyak kedurjanaan dan kekafiran bagi kebanyakan dari mereka. Maka janganlah kamu berduka cita terhadap orang-orang yang kafir itu." (QS. Al-Maidah: 68)
Ayat 68 memberikan penekanan bahwa klaim beriman terhadap kitab suci mereka sendiri menjadi batal jika mereka tidak mengamalkan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan penyempurna ajaran sebelumnya. Ironisnya, Al-Qur'an justru akan menambah keangkuhan dan kekafiran bagi orang-orang yang hatinya sudah tertutup. Rasul diperintahkan untuk tidak bersedih atas kekufuran mereka karena pertanggungjawaban mereka sepenuhnya ada pada diri mereka sendiri.
Puncak dari rangkaian ayat ini terdapat dalam ayat 69 dan 70, yang menegaskan bahwa kedudukan orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, serta beramal saleh, akan mendapatkan pahala terbaik di sisi-Nya, tanpa rasa khawatir dan bersedih.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabiin, dan orang-orang Nasrani, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati." (QS. Al-Maidah: 69)
Ayat 69 memberikan kabar gembira yang sangat penting. Kata "Siapa saja di antara mereka" (termasuk Yahudi, Shabiin, Nasrani, dan mukminin sejati) menunjukkan bahwa kriteria keselamatan bukanlah label agama, melainkan **keimanan sejati kepada Allah dan Hari Akhir serta amal saleh**. Ini adalah prinsip inklusif dalam Islam yang menekankan substansi amal dan keyakinan, bukan sekadar formalitas. Keuntungan tertinggi mereka adalah kebebasan dari rasa takut (akan azab) dan kesedihan (atas kehilangan dunia).
Rangkaian Al-Maidah ayat 65 hingga 70 ini berfungsi sebagai tolok ukur kebenaran. Ia mengingatkan bahwa janji-janji Allah akan terealisasi bagi mereka yang memenuhi syarat fundamental iman dan takwa, dan bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab untuk menyempurnakan ajaran yang dibawa oleh para Nabi sebelumnya dengan mengamalkan Al-Qur'an secara menyeluruh.