Tafsir dan Penjelasan Al-Maidah Ayat 76

Al-Qur'an adalah pedoman hidup bagi umat Islam, dan setiap ayatnya mengandung hikmah serta pelajaran mendalam. Salah satu ayat yang sering menjadi bahan perenungan adalah Surah Al-Maidah ayat ke-76. Ayat ini secara spesifik membahas tentang hakikat Isa bin Maryam (Yesus) dan bagaimana seharusnya umat Islam memandang beliau, serta menegaskan keesaan Allah SWT.

1 Keesaan Mutlak Representasi visual konsep keesaan Allah

Visualisasi konseptual keesaan Allah SWT.

Teks Al-Maidah Ayat 76

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

(Katakanlah: "Patutkah kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak kuasa memberikan kemudaratan dan tidak pula kemanfaatan kepadamu?" Padahal Allah Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).

Konteks dan Penjelasan Mendalam

Ayat ke-76 dari Surah Al-Maidah ini diturunkan dalam konteks dialog dan penegasan kembali akidah tauhid (keesaan Allah) kepada umat manusia, khususnya merespons keyakinan beberapa kelompok yang menyembah selain Allah, termasuk keyakinan yang menuhankan Isa bin Maryam.

Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan pertanyaan retoris yang tajam: "Patutkah kamu menyembah selain daripada Allah...?" Pertanyaan ini bertujuan memicu kesadaran bahwa objek pemujaan selain Allah tidak memiliki kemampuan hakiki untuk mendatangkan manfaat (naf’) maupun menolak bahaya (dharar).

Keterbatasan Obyek Selain Allah

Poin krusial yang ditekankan dalam ayat ini adalah ketiadaan kuasa (milk) pada objek sesembahan selain Allah. Dalam perspektif Islam, hanya Allah yang memiliki kekuasaan penuh dan absolut atas segala sesuatu di alam semesta. Sesuatu yang disembah haruslah memiliki kemampuan untuk bertindak independen, baik dalam memberi rezeki, menyembuhkan, menghidupkan, mematikan, maupun melindungi. Karena tidak ada satu pun makhluk, entitas, atau ciptaan yang memiliki sifat-sifat tersebut secara mandiri—semuanya berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah—maka menyembahnya adalah tindakan yang tidak logis dan keliru.

Sifat Allah: Maha Mendengar dan Maha Mengetahui

Penutup ayat ini menegaskan sifat-sifat Allah yang sempurna: "Padahal Allah Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

  1. As-Samii’ (Maha Mendengar): Allah mendengar segala doa, permohonan, bisikan hati, bahkan suara semut hitam di atas batu yang hitam di malam yang gelap gulita. Pendengaran-Nya tidak terganggu oleh keramaian.
  2. Al-‘Aliim (Maha Mengetahui): Allah mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, yang telah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Pengetahuan-Nya meliputi isi hati mereka yang menyembah selain-Nya.

Kontras antara keterbatasan objek sembahan (yang tidak berkuasa apa-apa) dengan kesempurnaan Dzat yang berhak disembah (Allah, Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui) menjadi landasan kuat untuk menolak segala bentuk kemusyrikan.

Relevansi dalam Konteks Kenabian Isa AS

Meskipun ayat ini berlaku umum untuk semua bentuk penyembahan selain Allah, konteks historisnya sangat terkait dengan perdebatan mengenai status Isa bin Maryam. Bagi mereka yang menganggap Isa sebagai tuhan atau separuh tuhan, ayat ini memberikan klarifikasi tegas. Meskipun Isa adalah seorang utusan mulia dan diangkat derajatnya, beliau tetaplah makhluk ciptaan Allah. Beliau tidak memiliki kuasa untuk memberikan manfaat atau menolak bahaya atas dirinya sendiri atau orang lain tanpa izin mutlak dari Allah SWT. Pertanyaan retoris ini memaksa para pengikut untuk merenungkan: Jika Isa AS (atau siapapun yang mereka sembah) tidak memiliki kuasa absolut, mengapa ia layak disembah?

Pelajaran Penting dari Ayat 76 Al-Maidah

Ayat ini mengajarkan beberapa pilar keimanan yang mendasar:

  1. Pentingnya Tauhid Rububiyyah: Mengakui bahwa hanya Allah satu-satunya Penguasa, Pemberi manfaat, dan Penolak bahaya di alam semesta.
  2. Basis Logika Ibadah: Ibadah harus diarahkan kepada Dzat yang memiliki kapasitas untuk menerima dan mengabulkan ibadah tersebut, bukan kepada sesuatu yang pasif dan tidak berdaya.
  3. Kewaspadaan terhadap Syirik: Ayat ini menjadi peringatan keras agar umat Islam senantiasa menjaga kemurnian ibadah dan tidak jatuh pada praktik yang menyekutukan Allah.

Dengan memahami Al-Maidah ayat 76, seorang Muslim diperkuat dalam keyakinan bahwa jalan menuju kebahagiaan sejati adalah dengan memusatkan segala bentuk penghambaan dan permohonan hanya kepada Allah SWT, Sang Sumber segala kekuatan dan pengetahuan.

Sumber: Penafsiran Surah Al-Maidah (berdasarkan riwayat tafsir klasik dan modern).
🏠 Homepage