Refleksi Surah Al-Maidah Ayat 83-89

Ilustrasi Cahaya dan Hati yang Tenang Iman & Keadilan Bukan Persaingan

Ayat-ayat 83 hingga 89 dari Surah Al-Maidah (Al-Hidangan) merupakan penegasan penting mengenai kualitas keimanan, perbedaan respon terhadap wahyu Allah, serta konsekuensi dari sumpah dan penetapan hukum dalam kehidupan sosial umat Islam. Bagian ini menyoroti kontras antara mereka yang hatinya lapang menerima kebenaran dan mereka yang keras kepala.

Al-Maidah Ayat 83

وَاِذَا سَمِعُوا مَا اُنزِلَ اِلَى الرَّسُوْلِ تَرٰى اَعْيُنَهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوْا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اٰمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ

"Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu akan melihat mata mereka mencucurkan air mata karena kebenaran yang telah mereka kenal (dari kitab suci mereka). Mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami termasuk orang-orang yang memberi kesaksian.'"

Ayat ini menggambarkan kondisi spiritual kelompok tertentu—yang sering diinterpretasikan merujuk pada para pendeta atau kaum Nasrani yang tulus—yang ketika mendengar Al-Qur'an, hati mereka tergerak hebat hingga air mata menetes. Ini menunjukkan pengakuan batiniah mereka terhadap kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW, karena isi Al-Qur'an selaras dengan ajaran tauhid yang sejati yang telah mereka pelajari. Keimanan sejati bukan hanya pengakuan lisan, melainkan dampak nyata pada emosi dan kesediaan untuk bersaksi.

Al-Maidah Ayat 84-85

Ayat selanjutnya (84-85) mempertegas sikap seharusnya seorang mukmin: tidak menghalangi diri dari rahmat Allah hanya karena perbedaan mazhab atau keyakinan lama. Justru, ketika kebenaran terbukti, seharusnya ada kerendahan hati untuk mengikuti. Allah menjanjikan ganjaran surga bagi mereka yang beriman dan beramal saleh.

Ayat 85 secara khusus memuji mereka yang beriman dan beramal saleh, menjanjikan mereka tempat di bawah sungai-sungai surga, tempat mereka kekal di dalamnya. Inilah buah nyata dari ketaatan yang tulus kepada Allah SWT.

Al-Maidah Ayat 86

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۚ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik-baik (thayyibat) yang telah Allah halalkan bagimu, dan jangan pula kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

Ayat 86 adalah koreksi tegas terhadap sikap berlebihan dalam beragama (ghuluw). Beberapa sahabat pernah bersumpah untuk berpantang makanan tertentu atau meninggalkan pernikahan demi fokus beribadah total. Islam mengajarkan keseimbangan (wasatiyah). Allah telah menyediakan hal-hal yang baik (halal) sebagai karunia, dan mengharamkannya tanpa dasar syar'i adalah bentuk pelanggaran batas (i'tida). Kehidupan beragama harus dijalani secara utuh, termasuk menikmati karunia duniawi yang halal.

Al-Maidah Ayat 87-89: Tentang Sumpah dan Keadilan

Tiga ayat terakhir dalam rentang ini memberikan petunjuk mengenai sumpah dan makanan. Ayat 87 melarang menganggap haram atas sesuatu yang baik yang dihalalkan Allah, sekaligus melarang sumpah yang tidak disengaja dan mendorong pemenuhan janji atau membayar kafarat atas sumpah yang dilanggar. Ini menegaskan bahwa batasan halal dan haram hanya ditetapkan oleh Allah, bukan oleh keinginan pribadi yang ekstrem.

Puncak penekanan dalam segmen ini adalah ayat 88 dan 89:

وَاِذَا سَمِعُوا مَا اُنْزِلَ اِلَى الرَّسُوْلِ تَرٰى اَعْيُنَهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوْا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اٰمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ

(Ayat 88: dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.)

(Ayat 89: Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Dia menghukum kamu disebabkan terhadap sumpah-sumpah yang kamu sengaja...)

Ayat 88 mengikat perintah makan makanan halal dengan takwa. Setelah dilarang mengharamkan yang halal (ayat 87), kini diperintahkan untuk bersyukur atas rezeki yang halal tersebut melalui takwa. Sementara itu, ayat 89 memberikan keringanan mengenai sumpah yang tidak disengaja (lalai), namun sangat tegas mengenai sumpah yang disengaja, di mana kafarat wajib ditunaikan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya komitmen lisan dan tindakan dalam pandangan syariat.

Secara keseluruhan, rentetan ayat 83 hingga 89 dari Surah Al-Maidah mengajak umat Islam untuk memiliki keimanan yang otentik, yang ditunjukkan melalui keterbukaan terhadap kebenaran, keseimbangan dalam menjalankan syariat (tidak berlebihan), serta menjaga integritas dalam perkataan dan janji, demi mencapai keridhaan dan ganjaran dari Allah SWT.

🏠 Homepage