Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan ajaran syariat, hukum, dan etika sosial. Di antara ayat-ayat penting di dalamnya, terdapat **Al-Maidah ayat 84**, sebuah penggalan ayat yang menekankan pentingnya pengakuan terhadap kebenaran, persatuan dalam iman, serta harapan terhadap rahmat Allah SWT. Ayat ini seringkali menjadi sorotan ketika membicarakan toleransi, pengakuan kebenaran agama lain, dan semangat untuk menanti balasan dari Sang Pencipta.
Ayat 84 ini turun dalam konteks dialog dan interaksi umat Islam dengan kelompok-kelompok yang menolak ajaran Nabi Muhammad SAW, khususnya mereka yang sering kali meragukan janji Allah mengenai kemenangan atau pertolongan bagi kaum mukminin. Ayat ini bukan sekadar balasan retoris, melainkan sebuah pernyataan tegas mengenai keyakinan fundamental seorang Muslim terhadap takdir dan janji Allah.
Frasa kunci pertama adalah "apakah kamu hanya menunggu salah satu dari dua kebaikan (al-husnayain)". Dalam konteks jihad dan perjuangan di jalan Allah, "dua kebaikan" ini merujuk pada dua hasil yang mulia: **kemenangan di dunia** atau **kematian syahid yang menjamin surga**. Bagi seorang mukmin sejati, tidak ada hasil yang merugikan dalam perjuangan di jalan kebenaran. Jika mereka berhasil, mereka meraih kemenangan; jika mereka gugur, mereka meraih balasan tertinggi di akhirat. Sikap mental ini menunjukkan keteguhan hati yang tidak gentar menghadapi ancaman apapun dari pihak lawan.
Ayat ini melanjutkan dengan menegaskan bahwa kaum mukminin juga sedang dalam posisi menunggu, namun menunggu dengan dasar yang berbeda. Mereka menunggu salah satu dari dua hal yang akan menimpa kelompok penentang tersebut:
Penutup ayat, "Maka tunggulah, sesungguhnya kami pun menunggu bersama-sama kamu," bukanlah ajakan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, ini adalah penegasan bahwa keyakinan telah tertanam kuat. Sikap menunggu di sini adalah penegasan bahwa perjuangan akan terus berlanjut hingga salah satu dari janji tersebut terwujud, baik janji pertolongan bagi yang beriman maupun janji balasan bagi yang menolak kebenaran.
Meskipun konteks turunnya ayat ini sangat spesifik terkait peperangan historis, pelajaran yang dapat dipetik sangat universal. Dalam kehidupan modern, ayat ini mengajarkan pentingnya memiliki integritas spiritual yang kuat. Ketika menghadapi tantangan, tekanan, atau keraguan dari pihak luar mengenai jalan hidup yang dipilih berdasarkan prinsip-prinsip iman, seorang Muslim harus memiliki kepastian batin bahwa pilihan mereka pada akhirnya akan berujung pada kebaikan tertinggi.
Ini mendorong umat untuk tidak mudah goyah oleh retorika duniawi atau ancaman kehilangan materi. Fokus harus selalu tertuju pada keberkahan abadi, bukan sekadar keuntungan jangka pendek. Ayat ini adalah pengingat bahwa pertarungan antara kebenaran dan kebatilan akan selalu berakhir dengan penegakan keadilan sejati oleh Allah SWT, dan seorang mukmin harus siap menghadapi proses tersebut dengan kesabaran dan keteguhan hati.