Surat Al-Isra (atau Bani Israil) adalah salah satu surat Makkiyah yang kaya akan hikmah dan peringatan Ilahi. Di antara ayat-ayatnya yang membahas sejarah, tauhid, dan adab, terdapat ayat 46 yang secara spesifik menyoroti tabiat manusia yang sering kali menolak kebenaran meskipun telah dijelaskan dengan gamblang. Ayat ini menjadi cerminan abadi tentang kondisi hati yang tertutup.
وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۖ وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا
(Wa ja'alnā 'alā qulūbihim akninatan an yafqahūhu wa fī ādhānihim waqran, wa idhā dhakarta Rabbaka fīl-Qur'āni waḥdahu wallaw 'alā adbārihim nufūran.)Dan Kami letakkan atas hati mereka tabir (sehingga mereka tidak memahaminya) dan pada telinga mereka sumbatan; dan apabila kamu menyebut Rabbmu dalam Al-Qur'an saja, mereka berpaling ke belakang sambil berpaling (menolak).
Ayat 46 dari Surat Al-Isra ini memberikan deskripsi visual mengenai bagaimana hati dan pendengaran orang-orang yang mendustakan kebenaran bekerja. Allah SWT menyatakan bahwa Dia meletakkan "akinnah" (tabir atau penutup) pada hati mereka sehingga mereka tidak mampu memahami (yafqahū). Pemahaman di sini bukan sekadar informasi masuk, melainkan pemahaman yang disertai dengan penerimaan, perenungan, dan aplikasi dalam kehidupan.
Lebih lanjut, ayat ini menyebutkan bahwa pada telinga mereka terdapat "waqran" (sumbatan atau ketulian). Ini bukan berarti mereka tuli secara fisik, melainkan ketulian spiritual. Mereka mungkin mendengar lantunan ayat-ayat suci, namun isinya tidak dapat menembus kedalaman batin mereka. Suara wahyu hanya menjadi bunyi yang berlalu tanpa meninggalkan bekas atau dorongan untuk berubah.
Kondisi ini bukanlah hukuman tanpa sebab. Dalam banyak ayat Al-Qur'an lainnya, dijelaskan bahwa Allah hanya menutup hati mereka setelah mereka sendiri yang berulang kali memilih untuk menolak dan menutup diri dari petunjuk saat petunjuk itu datang dalam bentuk yang paling jelas.
Bagian kedua dari ayat ini sangatlah penting: "dan apabila kamu menyebut Rabb-mu dalam Al-Qur'an saja, mereka berpaling ke belakang sambil berpaling (menolak)."
Ini menggambarkan reaksi spesifik dari orang-orang yang hatinya telah disegel. Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan ayat-ayat yang secara eksklusif menyeru kepada tauhid—yakni, hanya menyembah dan mengingat Allah SWT (Rabb-mu) tanpa menyertakan tandingan, berhala, atau ritual-ritual yang mereka anggap suci—mereka menunjukkan penolakan yang nyata. Kata 'nufūran' (berpaling menolak) menunjukkan gerakan fisik menjauh, sebuah isyarat penolakan total terhadap konsep tauhid murni.
Dalam konteks sejarah turunnya ayat ini, kaum musyrik Makkah sangat keberatan ketika dakwah hanya berpusat pada Allah tanpa menyebut nama-nama tuhan mereka. Mereka terbiasa dengan sinkretisme kepercayaan. Oleh karena itu, ketika Rasulullah SAW mengucapkan, "Katakanlah, Allah (Rabb-ku)..." mereka lari menjauh, seolah-olah mendengar sesuatu yang paling menjijikkan bagi pendengaran dan pemahaman mereka.
Meskipun ayat ini ditujukan pada konteks spesifik di masa Nabi, relevansinya tidak pernah lekang oleh waktu. Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras bagi siapa saja yang merasa dirinya beriman namun sulit menerima kebenaran yang datang dari sumber aslinya.
Oleh karena itu, sebagai Muslim, kita harus selalu memohon kepada Allah SWT agar hati kita senantiasa dibersihkan dari tabir kesombongan dan telinga kita dijadikan alat yang peka terhadap petunjuk-Nya. Memahami Al-Isra ayat 46 adalah pelajaran penting untuk introspeksi diri: apakah kita benar-benar mendengarkan atau hanya pura-pura mendengar?