Rahmat Allah dalam Panorama Alam
Surah Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali petunjuk kehidupan, termasuk interaksi manusia dengan alam semesta. Di antara ayat-ayatnya yang memukau adalah ayat 96 hingga 100, yang secara khusus menyoroti nikmat laut dan daratan sebagai sarana penghidupan dan rezeki dari Allah SWT.
Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa seluruh elemen alam, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, adalah ciptaan yang tunduk pada kehendak Ilahi. Lautan yang luas dan daratan yang kokoh berfungsi sebagai penopang kehidupan kita sehari-hari.
Teks Ayat dan Maknanya
Berikut adalah kutipan ringkas dari makna ayat-ayat kunci tersebut, yang menekankan kehalalan hasil laut dan pentingnya menjaga keseimbangan ekologis:
Ayat ini secara eksplisit memberikan izin bagi kaum beriman untuk memanfaatkan hasil laut sebagai sumber pangan, baik saat mukim maupun dalam perjalanan. Izin ini datang bersamaan dengan batasan, yaitu larangan berburu di darat ketika sedang dalam status ihram haji atau umrah. Ini menunjukkan integrasi antara ibadah ritual dan etika konsumsi sehari-hari.
Meskipun ayat 97 membahas tentang Ka'bah dan simbol ibadah, penutup ayat ini sangat relevan: penegasan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Pengetahuan-Nya meliputi segala urusan rezeki (seperti di ayat 96) dan segala urusan kehidupan lainnya.
Tanggung Jawab Pengelolaan Rezeki
Ayat 98 dan 99 melanjutkan tema pengawasan Ilahi dan pentingnya amal perbuatan. Ayat-ayat ini secara umum mengingatkan agar manusia tidak menyekutukan Allah (syirik) dan menegaskan bahwa pertanggungjawaban akhirat mencakup semua perbuatan, baik yang tersembunyi maupun yang tampak.
Ayat 100 adalah kesimpulan filosofis yang kuat. Dalam konteks menikmati rezeki dari laut dan darat, manusia harus berhati-hati. Sesuatu yang tampak menarik (misalnya, metode penangkapan ikan yang merusak atau eksploitasi sumber daya yang berlebihan) belum tentu baik di mata syariat dan kemaslahatan jangka panjang. Keburukan mungkin tampak indah karena kebiasaan atau keserakahan, tetapi orang berakal (ulil albab) akan selalu memprioritaskan kebaikan dan takwa demi meraih keberuntungan sejati di akhirat.
Implikasi Modern: Menjaga Ekosistem
Konteks Al-Maidah ayat 96 memiliki relevansi mendalam di era modern. Ketika para ahli ekologi memperingatkan tentang penangkapan ikan berlebihan (overfishing) dan kerusakan terumbu karang, ayat ini menjadi pengingat etis. Allah membolehkan rezeki laut, namun kebolehan ini tidak bersifat mutlak tanpa batas. Batasan implisit terletak pada perintah takwa dan larangan keburukan (seperti dalam ayat 100). Mengeksploitasi laut hingga punah atau merusak habitatnya bisa dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap amanah yang diberikan Allah SWT.
Keseimbangan antara memanfaatkan karunia alam—seperti yang dijanjikan di ayat 96—dengan kesadaran akan pengawasan Ilahi—sebagaimana ditegaskan di ayat 97 hingga 100—adalah kunci untuk hidup yang berkah dan seimbang. Dunia adalah titian sementara, dan pertanggungjawaban atas bagaimana kita mengelola lautan dan daratan pasti akan ditanyakan.