Ilustrasi: Cahaya Wahyu
**Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan Kami-lah penjaganya.** (QS. Al-Hijr: 9)
Ayat 9 dari Surah Al-Hijr ini merupakan salah satu janji paling kuat dan menenangkan yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia. Ayat ini menegaskan otoritas dan tanggung jawab langsung Allah terhadap kitab suci terakhir-Nya, Al-Qur'an. Frasa kunci di sini adalah "Inna Nahnu Nazzalna Adh-Dhikra" (Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an) dan puncaknya, "Wa Inna Lahu La Hafizun" (Dan sesungguhnya Kami-lah penjaganya).
Penegasan ini penting karena Al-Qur'an bukanlah sekadar kumpulan teks biasa. Ia adalah Adh-Dhikr, yaitu peringatan dan wahyu ilahi yang berisi petunjuk lengkap untuk kehidupan dunia dan bekal akhirat. Sejak diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW, kitab ini telah menjadi sumber hukum, akidah, dan moralitas bagi miliaran Muslim. Allah menjamin bahwa proses pewahyuan ini dilakukan langsung oleh-Nya, bukan melalui perantara yang rentan kesalahan.
Janji penjagaan ("La Hafizun") adalah jaminan mutlak atas keaslian dan keutuhan Al-Qur'an hingga hari kiamat. Dalam sejarah peradaban, banyak kitab suci terdahulu yang mengalami perubahan, penambahan, atau pengurangan makna seiring waktu akibat faktor manusia, peperangan, atau perubahan bahasa. Namun, Allah secara eksplisit menyatakan bahwa Al-Qur'an dikecualikan dari takdir tersebut.
Penjagaan ini mencakup dua aspek utama:
Keyakinan penuh terhadap ayat ini memberikan ketenangan luar biasa bagi umat Islam. Ketika menghadapi keraguan atau tantangan dari pihak luar mengenai validitas ajaran Islam, ayat ini menjadi benteng pertahanan utama. Kita tidak perlu khawatir bahwa ajaran yang kita pegang hari ini berbeda dengan yang diajarkan 14 abad yang lalu.
Namun, tanggung jawab umat juga tercermin di sini. Meskipun Allah menjaga lafadznya, tugas manusia adalah mempelajarinya, memahami maknanya, menghafalnya (sebagai bentuk partisipasi dalam menjaga hafalan kolektif), dan yang terpenting, mengamalkan ajarannya. Keutuhan teks adalah anugerah, namun relevansi teks tersebut dalam kehidupan modern bergantung pada upaya umat untuk terus menggali hikmahnya.
Surah Al-Hijr secara keseluruhan banyak membahas tentang ciptaan Allah, kisah Nabi Shalih dan kaum Tsamud, serta penegasan status kenabian Muhammad SAW. Ayat 9 ini ditempatkan setelah ayat-ayat yang menegaskan kebenaran risalah Nabi. Ketika kaum musyrikin meragukan sumber wahyu yang dibawa Nabi—mungkin menuduhnya sebagai buatan manusia atau puisi—Allah menjawab tantangan tersebut dengan pernyataan tegas bahwa sumbernya adalah "Kami" (Allah), dan keotentikannya dijamin secara ilahi. Ini memperkuat posisi Al-Qur'an sebagai sumber rujukan tertinggi yang tidak perlu diragukan keotentikannya oleh campur tangan manusia.