Artinya: Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapatkan pahala yang besar.
Artinya: Dan bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhir, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih.
Dua ayat yang berdekatan dalam Surat Al-Isra ini (ayat 9 dan 10) menyajikan sebuah dikotomi fundamental dalam pandangan hidup seorang Muslim. Ayat 9 membuka dengan sebuah penegasan kuat mengenai fungsi utama Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup.
Frasa "yahdī lil-latī hiya aqwamu" (memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus) menekankan superioritas ajaran Islam. Jalan yang paling lurus ini mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari akidah, ibadah, muamalah (interaksi sosial), hingga etika pribadi. Ini bukan sekadar panduan ritual, melainkan cetak biru menyeluruh untuk mencapai kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.
Ayat ini kemudian memberikan kabar gembira (yubasysyir) kepada dua kelompok utama: mukminin (orang-orang yang beriman) dan mereka yang mengerjakan amal saleh. Terdapat penekanan bahwa iman saja tidak cukup; ia harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang baik. Hasilnya adalah imbalan besar (ajran kabīra), sebuah janji surga dan keridhaan Allah SWT.
Kontras yang tajam disajikan pada ayat 10. Ayat ini secara eksplisit memperingatkan mereka yang tidak beriman kepada hari akhir. Konsekuensi dari penolakan terhadap konsep pertanggungjawaban akhirat adalah ancaman azab yang pedih (’adzāban alīmā). Keterikatan pada duniawi tanpa pertimbangan kehidupan setelah kematian dianggap sebagai penyimpangan serius yang berujung pada konsekuensi abadi.
Secara keseluruhan, ayat 9 dan 10 berfungsi sebagai pengingat bahwa Al-Qur'an datang untuk memberikan pilihan yang jelas. Di satu sisi, terdapat jalan yang penuh cahaya, kebenaran, dan janji pahala besar bagi mereka yang mengikuti petunjuk-Nya dengan iman dan amal. Di sisi lain, ada jalan penyangkalan yang berujung pada konsekuensi berat.
Ayat-ayat ini, khususnya saat dibaca dalam konteks mobile web yang serba cepat, mengingatkan pembaca untuk melambat sejenak dan merefleksikan prioritas hidup. Apakah jalan yang kita tempuh sejalan dengan petunjuk Allah yang paling lurus, ataukah kita cenderung mengabaikan peringatan tentang hari perhitungan?
Di era informasi yang serba membingungkan, seruan Al-Isra ayat 9 untuk mengikuti jalan yang paling lurus menjadi sangat relevan. Jalan yang lurus adalah jalan yang menawarkan ketenangan batin, keadilan sosial, dan tujuan hidup yang hakiki, jauh dari kesenangan sesaat yang ditawarkan oleh hal-hal yang melalaikan akhirat.