Ayat keenam dari Surah Al-Isra' (atau Bani Israil) ini adalah kelanjutan dari ayat sebelumnya yang membahas tentang kebinasaan bangsa Bani Israil yang pertama karena kekufuran dan kesombongan mereka. Ayat 5 menjelaskan bahwa Allah mengirimkan hamba-hamba-Nya yang memiliki kekuatan besar untuk menghukum mereka. Ayat 6 kemudian melanjutkan narasi tersebut dengan menjelaskan tujuan dari hukuman atau pembinasaan itu.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "لِنَعْلَمَ أَيَّهُمَا أَحْسَنُ حَدِيثًا" (agar Kami ketahui golongan mana yang lebih baik rekamannya/jalannya). Dalam konteks tafsir klasik, kata "نَعْلَمَ" (Kami ketahui) di sini bukan berarti Allah yang tidak tahu—karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi—melainkan bermakna "agar Kami perlihatkan dan agar kalian (manusia) mengetahuinya."
Ayat ini sering diinterpretasikan dalam konteks perbandingan antara dua fase kehancuran Bani Israil. Fase pertama (disebutkan di ayat 5) adalah kehancuran yang disebabkan oleh pengiriman musuh yang dahsyat. Setelah kehancuran tersebut, mereka dihidupkan kembali dan diberi kesempatan kedua. Ayat 6 ini menyatakan bahwa tujuan pengiriman siksaan dan kebangkitan kembali itu adalah untuk melihat mana dari dua periode waktu atau dua perilaku kolektif mereka yang menghasilkan 'hadits' (catatan, kisah, atau jalan hidup) yang lebih baik di sisi Allah.
"Ahsan haditsan" (rekaman yang lebih baik) merujuk pada kualitas iman, amal saleh, kepatuhan terhadap perintah Allah, dan akhlak mereka. Ayat ini mengandung pelajaran mendalam bahwa Allah selalu memberikan kesempatan untuk evaluasi dan perbaikan. Setiap peristiwa, baik itu kemuliaan maupun kehancuran, adalah ujian yang tujuannya adalah memunculkan bukti nyata tentang kualitas spiritual suatu umat atau individu.
Bagi umat Islam, ayat ini menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia adalah panggung pengujian yang berkelanjutan. Jika umat terdahulu gagal pada kesempatan pertama dan kedua, maka umat Nabi Muhammad SAW harus belajar dari sejarah tersebut. Siklus kejatuhan dan kebangkitan seringkali merupakan cara Allah menunjukkan kepada manusia mana jalan yang benar dan mana jalan yang membawa kepada kebinasaan. Catatan amal (hadits) yang baik adalah hasil dari konsistensi dalam ketaatan, bukan hanya sesaat.
Penekanan pada "rekaman yang lebih baik" menunjukkan bahwa yang diperhitungkan Allah bukanlah seberapa besar kekuasaan atau seberapa lama rentang waktu hidup, melainkan kualitas interaksi dan kepatuhan selama periode waktu tersebut. Dengan demikian, Surat Al-Isra' ayat 6 berfungsi sebagai penegasan prinsip keadilan ilahi yang membandingkan dua keadaan untuk menetapkan mana yang lebih patut mendapatkan rahmat dan mana yang patut mendapatkan hukuman berdasarkan bukti amal perbuatan yang telah dicatat. Ini menekankan pentingnya refleksi diri dan perbaikan berkelanjutan dalam perjalanan hidup seorang Muslim.