Ketika berbicara mengenai peristiwa akhir zaman atau Hari Kiamat, Al-Qur'an menyajikan deskripsi yang jelas dan mendalam. Salah satu surah yang secara spesifik dan sangat ringkas menggambarkan kengerian serta keadilan pada hari itu adalah Surah Al Zalzalah (Kegoncangan). Nama surah ini sendiri sudah mengisyaratkan dahsyatnya peristiwa yang akan terjadi.
Surah Al Zalzalah, yang terdiri dari delapan ayat pendek, membuka narasi dengan sebuah sumpah yang sangat kuat, menetapkan fondasi ketakutan dan kebenaran atas apa yang akan datang.
"Idza zulzilatil ardhul zilzalaha (1) Wa akhrajatil ardu itsqalaha (2) Wa qolal insanuma liha (3) Yawma'idhin tuhaiddu akhbaraha (4)"
Kegoncangan yang Belum Pernah Terjadi
Ayat pertama langsung menghentak kesadaran: "Apabila bumi diguncangkan dengan goncangan yang dahsyat." Ini bukan sekadar gempa bumi biasa yang sering kita alami. Guncangan ini adalah guncangan terakhir, sebuah getaran fundamental yang menggoyahkan struktur planet tempat manusia hidup dan berbuat. Pengulangan kata "zilzalah" (guncangan) menegaskan intensitas dan totalitas dari peristiwa tersebut.
Kemudian, ayat kedua menjelaskan konsekuensi dari goncangan tersebut: "dan bumi telah mengeluarkan isi beratnya." Bayangkan semua yang terkubur di dalam bumi—bangkai, harta karun, puing-puing peradaban masa lalu—semuanya dimuntahkan ke permukaan. Bumi menjadi tidak lagi stabil, terbuka, dan memperlihatkan segala rahasianya.
Saksi Bisu yang Bersuara
Keunikan penggambaran Al Zalzalah terletak pada bagaimana ia menjadikan bumi itu sendiri sebagai saksi. Ayat ketiga menggambarkan reaksi manusia yang kebingungan dan ketakutan, bertanya, "Dan manusia berkata: 'Mengapa bumi ini (menjadi begini)?'" Pertanyaan retoris ini mencerminkan kepanikan total karena realitas yang mereka kenal telah runtuh.
Namun, jawaban atas kebingungan itu datang pada ayat keempat, yang merupakan puncak dramatis dari narasi kiamat ini: "Pada hari itu, bumi menyampaikan beritanya." Bumi, yang selama ini menjadi alas pijakan, diam-diam mencatat setiap perbuatan, setiap langkah, setiap transaksi, setiap penganiayaan, dan setiap kebaikan yang dilakukan di atasnya. Pada hari itu, bumi bersaksi secara eksplisit atas semua yang telah terjadi.
Keadilan yang Mutlak
Lanjutan surah ini menggarisbawahi bahwa semua berita yang disampaikan bumi itu didasarkan pada wahyu dan perintah dari Allah SWT: "karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (untuk demikian)." Ini memastikan bahwa perhitungan hari itu dilakukan dengan keadilan yang sempurna, tanpa ada sedikit pun ruang untuk penyangkalan atau manipulasi.
Ayat penutup Surah Al Zalzalah memberikan kesimpulan tegas mengenai tujuan dari goncangan dan kesaksian ini:
"Faman ya'mal mitqala dzarratin khairan yarah (7) Wa man ya'mal mitqala dzarratin syarran yarah (8)"
"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya (balasannya), dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya (balasannya)."
Konsep "mitqala dzarrah" (seberat atom atau zarah terkecil) menunjukkan bahwa tidak ada satu pun perbuatan, sekecil apa pun, yang luput dari perhitungan. Surah Al Zalzalah berfungsi sebagai peringatan yang kuat, mengingatkan umat manusia bahwa kehidupan dunia ini adalah ladang amal. Setiap aktivitas di bumi akan dipertanggungjawabkan, dan hari perhitungan itu ditandai dengan goncangan alam yang membeberkan semua rahasia. Memahami surah ini adalah memahami bahwa keadilan ilahi tidak mengenal kompromi, dan setiap detik kehidupan harus diisi dengan kesadaran akan pertanggungjawaban akhir tersebut.