15 Simbol batu dan Al-Qur'an

Menggali Keindahan dan Pelajaran dari Al-Qur'an Surat 15 (Al-Hijr)

Al-Qur'an Al-Karim adalah samudera hikmah yang tak pernah kering. Di antara 114 suratnya, Surat Al-Hijr, yang merupakan surat ke-15, menyimpan pelajaran mendalam tentang kebesaran Allah, kisah para nabi, dan peringatan bagi umat manusia. Surat yang dinamai berdasarkan lembah batu tempat kaum Tsamud pernah bermukim ini, dibuka dengan sumpah-sumpah agung yang langsung menarik perhatian pembaca untuk merenungi alam semesta.

Sumpah Agung dan Kekuasaan Penciptaan

Surat Al-Hijr dimulai dengan ayat-ayat sumpah yang menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang benar dan tak terbantahkan. Allah SWT bersumpah demi huruf-huruf, demi Kitab yang jelas. Ini adalah penegasan pertama bahwa sumber ajaran ini adalah Ilahi. Setelah itu, ayat-ayat berikutnya mengalihkan fokus pada keajaiban penciptaan. Kita diingatkan bahwa segala sesuatu diciptakan dengan ukuran dan tujuan. Pemandangan seperti langit yang dihiasi bintang-bintang, bumi yang dihamparkan, dan gunung-gunung yang kokoh berdiri, semuanya adalah bukti nyata dari qudrat (kekuatan) dan iradah (kehendak) Allah.

Salah satu tafsir menarik dari surat ini adalah pembahasan mengenai penciptaan manusia dan iblis. Ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai penghormatan atas penciptaan makhluk mulia ini, Iblis menolak. Keengganan Iblis menunjukkan kesombongan yang berakar pada anggapan superioritas material ("Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah"). Kisah ini memberikan pelajaran universal tentang bahaya kesombongan dan pentingnya ketaatan tanpa syarat kepada Sang Pencipta.

Kisah Kaum Tsamud dan Peringatan bagi Pendusta

Nama "Al-Hijr" merujuk pada tempat tinggal kaum Tsamud, yaitu lembah batu. Dalam surat ini, Allah mengingatkan kisah mereka, kaum yang diberi karunia berupa kemampuan memahat rumah indah dari gunung-gunung batu, namun kemudian mendustakan rasul mereka, Nabi Shaleh AS. Meskipun diberikan bukti nyata berupa unta betina yang ajaib (mukjizat), mereka tetap membangkang dan akhirnya diazab.

Kisah Tsamud berfungsi sebagai cermin bagi generasi berikutnya. Allah memperingatkan bahwa kemajuan teknologi atau kemakmuran materi tidak menjamin keselamatan jika diiringi dengan kekufuran dan penolakan terhadap kebenaran. Peringatan ini sangat relevan hingga hari ini: kemakmuran fisik tidak berarti keselamatan spiritual jika hati telah tertutup oleh kesombongan dan ingkar.

Jaminan Pemeliharaan Al-Qur'an

Di tengah pembahasan mengenai kaum yang durhaka, terdapat janji agung Allah mengenai pemeliharaan wahyu-Nya. Allah berfirman, "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9). Janji ini merupakan penenang bagi umat Islam sepanjang sejarah. Al-Qur'an bukanlah kitab kuno yang rentan hilang atau berubah; ia dijaga secara otentik oleh Rabb semesta alam. Jaminan ini menegaskan bahwa petunjuk Ilahi akan selalu tersedia bagi siapa pun yang mau mencari kebenaran.

Pelajaran tentang Kesabaran dan Tawakal

Surat Al-Hijr juga mengajarkan pentingnya kesabaran, terutama kepada Nabi Muhammad SAW yang saat itu menghadapi penolakan keras dari kaum kafir Quraisy. Allah memerintahkan Nabi untuk bersabar dan menahan diri dari perdebatan yang sia-sia, mengingatkan bahwa ganjaran bagi orang-orang yang beriman telah disiapkan.

Pesan penutup surat ini menekankan bahwa dunia ini hanyalah kesenangan sesaat. Kekayaan, kekuasaan, dan kemewahan duniawi akan sirna. Yang abadi hanyalah pertanggungjawaban di akhirat. Dengan merenungi Surat Al-Hijr, seorang Muslim diingatkan untuk menyeimbangkan pandangan hidupnya: bersyukur atas keindahan ciptaan-Nya, waspada terhadap kesombongan, dan senantiasa bersiap menghadapi Hari Keputusan, sambil berpegang teguh pada Al-Qur'an yang terjamin keasliannya.

🏠 Homepage