Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Surah Bani Israil (terkadang disebut Surah Al-Isra' wal-Mi'raj), adalah salah satu surah penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan kisah historis, peringatan ilahiah, dan landasan etika kehidupan seorang Muslim. Nama "Al-Isra" sendiri diambil dari ayat pertamanya yang mengisahkan peristiwa luar biasa, yaitu perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem.
Kisah Perjalanan Agung: Isra'
Ayat pertama Surah Al-Isra membuka dengan kalimat agung: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa..." Peristiwa Isra' ini adalah mukjizat yang menegaskan kedudukan tinggi Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT. Meskipun detail perjalanannya sering dikaitkan dengan Mi'raj (kenaikan ke langit), Surah Al-Isra secara eksplisit hanya menyebutkan perjalanan darat/udara dari satu kiblat ke kiblat pertama umat Islam, Masjidil Aqsa.
Makna mendalam dari Isra' ini tidak hanya terletak pada aspek geografisnya, tetapi juga sebagai penegasan bahwa Islam adalah kelanjutan dan penyempurnaan dari risalah para nabi sebelumnya yang berpusat di Baitul Maqdis (Yerusalem). Perjalanan ini juga menjadi penyejuk hati Nabi setelah menghadapi cobaan berat di Makkah, sekaligus persiapan untuk fase dakwah yang lebih luas.
Pesan Moral dan Etika dalam Al-Isra
Setelah memaparkan mukjizat Isra', Surah Al-Isra beralih fokus pada serangkaian perintah dan larangan yang membentuk fondasi akhlak seorang Muslim. Bagian tengah surah ini berfungsi sebagai manual etika sosial dan spiritual. Beberapa poin utama yang ditekankan meliputi:
- Berbakti kepada Orang Tua (Ayat 23-24): Islam menempatkan posisi orang tua pada derajat yang sangat tinggi. Dilarang untuk mengucapkan kata "ah" (bentakan kecil) kepada mereka, dan diperintahkan untuk bersikap rendah hati serta mendoakan mereka dengan penuh kasih sayang.
- Larangan Syirik (Ayat 22): Menegaskan tauhid sebagai pondasi utama, di mana tidak boleh ada sekutu bagi Allah dalam ibadah.
- Hak Anak Yatim dan Kerabat (Ayat 29): Allah memerintahkan untuk menunaikan hak kerabat, memberikan hak kepada anak yatim, dan tidak melakukan pemborosan dalam membelanjakan harta.
- Larangan Berzina dan Membunuh Anak (Ayat 31-33): Ini adalah larangan keras terhadap dua kejahatan besar yang merusak tatanan sosial: perzinahan dan pembunuhan anak (termasuk karena faktor ekonomi atau rasa malu).
- Integritas dalam Muamalah (Ayat 35): "Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Itulah yang lebih baik dan paling baik penjelasannya." Ayat ini menjadi landasan penting dalam etika bisnis dan kejujuran dalam transaksi.
Peringatan Terhadap Bani Israil dan Prinsip Keadilan
Bagian akhir surah ini secara spesifik memberikan peringatan kepada kaum Bani Israil mengenai dua kali kerusakan (fasad) yang mereka lakukan di muka bumi. Peringatan ini disajikan bukan hanya sebagai sejarah, tetapi juga sebagai pelajaran universal bagi umat Islam agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, yaitu menyalahgunakan kekuasaan dan melanggar perjanjian dengan Tuhan.
Surah Al-Isra juga menekankan bahwa setiap individu akan bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Tidak ada dosa yang ditransfer dari satu orang ke orang lain. Selain itu, surah ini menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu terakhir yang membimbing umat manusia menuju jalan yang paling lurus. Ayat-ayat ini mendorong pembaca untuk selalu berpegang teguh pada kebenaran, menjaga moralitas pribadi dan sosial, serta menyadari bahwa mukjizat spiritual dan fisik selalu menyertai mereka yang beriman. Memahami arti Surah Al-Isra berarti memahami warisan spiritual dari perjalanan malam suci dan komitmen abadi terhadap akhlak mulia.