Alt text: Ilustrasi perjalanan malam yang menggambarkan bulan, bintang, dan siluet bangunan suci.
Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, dibuka dengan salah satu ayat paling monumental dalam Al-Qur'an. Ayat pertama ini (QS. Al-Isra: 1) tidak hanya memuji Allah SWT, tetapi juga merujuk pada peristiwa luar biasa yang menjadi inti penamaan surah tersebut: Isra' Mi'raj.
Arti Surah Al-Isra ayat 1 mengandung empat poin penting yang harus kita pahami untuk mengapresiasi keagungan peristiwa yang disinggungnya:
Ayat dimulai dengan kata "Subhana" (Maha Suci). Ini adalah pengakuan mutlak bahwa Allah SWT berada di atas segala kekurangan dan ketidakmungkinan yang dipahami manusia. Peristiwa perjalanan malam hari yang luar biasa ini—melibatkan kecepatan yang melampaui logika duniawi—menuntut pengakuan awal akan kekuasaan Allah yang mutlak. Hanya Dia yang mampu melakukan hal tersebut.
Frasa "Asra bi 'Abdihi lailan" (memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam) merujuk pada perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW dari Makkah (Al-Masjidilharam) menuju Baitul Maqdis di Yerusalem (Al-Masjidil Aqsa). Perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan jika dilakukan dengan cara normal, diselesaikan Nabi dalam satu malam. Inilah yang dikenal sebagai Isra'.
Allah menegaskan bahwa tujuan perjalanan tersebut adalah "Liriyahu min Ayatina" (agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami). Perjalanan ini bukan sekadar tamasya, melainkan sebuah wahyu visual yang menguatkan hati Nabi, memberinya perspektif kosmik tentang keesaan dan kekuasaan Tuhannya, terutama setelah beliau menghadapi kesulitan dakwah di Makkah.
Ayat ini secara khusus menyebutkan keberkahan di sekitar Al-Masjidil Aqsa. Baitul Maqdis adalah pusat sejarah kenabian, tempat para nabi terdahulu beribadah, dan menjadi kiblat pertama umat Islam. Pemberkahan ini menunjukkan status mulia tempat tersebut dalam rencana ilahi.
Seringkali kedua istilah ini digabungkan, namun secara harfiah, Al-Isra' merujuk pada perjalanan darat/udara dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa. Sementara itu, Al-Mi'raj adalah kelanjutan dari perjalanan tersebut, yaitu kenaikan Nabi Muhammad SAW dari Al-Aqsa menuju tingkatan langit dan Sidratul Muntaha.
Meskipun Surah Al-Isra hanya secara eksplisit menyebutkan Isra' dalam ayat pembukanya, mayoritas ulama tafsir sepakat bahwa ayat ini menjadi landasan utama untuk pemahaman seluruh rangkaian peristiwa Isra' Mi'raj yang agung, yang menjadi salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini mengukuhkan kedudukan beliau sebagai utusan Allah yang membawa ajaran tauhid ke penjuru semesta.
Sebagai penutup, ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah "As-Sami'ul-Bashir" (Maha Mendengar lagi Maha Melihat). Ini adalah penegasan bahwa Dia menyaksikan setiap gerak-gerik hamba-Nya, mendengar setiap doa, dan melihat setiap tanda kebesaran-Nya diperlihatkan kepada Nabi yang terpilih.