Makna Mendalam Ayat 1 Surat Al-Isra

Keagungan Yang Mengawali

Simbol perjalanan spiritual dan dimensi waktu.

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an. Surat ini dibuka dengan ayat yang sangat kuat dan sarat makna, yaitu Ayat 1. Ayat ini tidak hanya berfungsi sebagai pembukaan, tetapi juga sebagai landasan bagi kisah-kisah besar yang akan dibahas dalam surat tersebut, terutama peristiwa Isra Mi'raj yang monumental.

Memahami konteks dan makna dari ayat pembuka ini adalah kunci untuk menghayati seluruh isi surat. Ayat ini dimulai dengan pujian kepada Allah SWT, menegaskan kekuasaan-Nya yang tak terbatas dan menunjukkan kebesaran-Nya dalam mengatur alam semesta.

Teks Ayat 1 Surat Al-Isra

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Transliterasi: Subḥāna-lladhī asrā biʿabdihi laylan min-al-Masjidi-l-Ḥarāmi ilā-l-Masjidi-l-Aqṣā-lladhī bāraknā ḥawlahu li-nuriya-hu min āyātinā, innahu Huwa-s-Samīʿu-l-Baṣīr.
Terjemahan: "Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Analisis Makna Mendalam

Kata pembuka "Subḥāna-lladhī" (Maha Suci Yang) adalah pengakuan mutlak atas kesempurnaan Allah SWT. Hal ini mengindikasikan bahwa peristiwa yang akan disebutkan adalah sesuatu yang melampaui logika manusia biasa, sehingga hanya Zat yang Maha Suci yang mampu melakukannya.

Frasa kunci berikutnya adalah "asrā biʿabdihi" (memperjalankan hamba-Nya). Sebutan "hamba-Nya" merujuk kepada Nabi Muhammad SAW. Penggunaan kata 'abdihi' (hamba-Nya) menunjukkan kedudukan tertinggi beliau di sisi Allah, sebuah kehormatan yang tak tertandingi. Perjalanan ini, yang disebut Isra, adalah mukjizat yang menunjukkan kedekatan Nabi dengan Pencipta-Nya.

Perjalanan malam ini terbagi menjadi dua bagian yang sangat penting: Isra (perjalanan darat/udara malam hari) dan Mi'raj (kenaikan ke langit). Ayat 1 fokus pada permulaan, yaitu perjalanan dari Masjidilharam (Mekkah) ke Masjidilaksa (Al-Quds/Yerusalem). Masjidilaksa adalah kiblat pertama umat Islam, dan diberkahi sekelilingnya. Ini adalah penegasan status spiritual Baitul Maqdis dalam Islam.

Tujuan utama dari perjalanan luar biasa ini ditekankan dalam ayat: "li-nuriya-hu min āyātinā" (agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda Kami). Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi merupakan program ilahiah untuk menunjukkan kepada Nabi Muhammad SAW bukti-bukti kekuasaan Allah yang tidak dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, mempersiapkan beliau untuk fase dakwah yang lebih berat ke depan.

Ayat diakhiri dengan penyebutan dua sifat utama Allah: "innahu Huwa-s-Samīʿu-l-Baṣīr" (Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat). Ini menegaskan bahwa seluruh peristiwa besar tersebut, termasuk doa dan perjuangan Nabi, didengar dan dilihat secara sempurna oleh Allah SWT. Keyakinan ini memberikan ketenangan dan kepastian bagi setiap Muslim bahwa tidak ada perbuatan baik maupun buruk yang tersembunyi dari-Nya. Ayat 1 Surat Al-Isra adalah gerbang menuju pemahaman akan keagungan Allah dan mukjizat agung para nabi.

🏠 Homepage