Konteks dan Penafsiran Ayat 80 Surah Al-Isra

Simbol Petunjuk dan Perjalanan

Ilustrasi petunjuk dan kepastian.

Ayat 80 Surah Al-Isra

وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا

Artinya: "Dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau pertolongan yang menolong'." (QS. Al-Isra [17]: 80)

Konteks Historis dan Sebab Turun

Ayat 80 Surah Al-Isra ini memiliki kaitan erat dengan peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Ayat ini merupakan doa yang diajarkan Allah SWT kepada Rasulullah sebagai persiapan menghadapi tantangan besar dalam memulai kehidupan baru di tempat pengungsian (hijrah).

Ketika Rasulullah SAW harus meninggalkan kota kelahirannya, Mekkah, yang penuh dengan permusuhan dan ancaman pembunuhan, beliau membutuhkan jaminan keamanan dan keberhasilan dalam fase dakwah selanjutnya. Doa ini mencerminkan kebutuhan mendasar setiap individu yang memulai sebuah perjalanan penting atau transisi kehidupan: kebutuhan akan tempat yang baik, jalan keluar yang selamat, dan dukungan ilahi.

Meskipun konteks utama adalah Hijrah, para ulama tafsir sepakat bahwa doa ini bersifat universal dan dapat diamalkan oleh setiap Muslim yang sedang menghadapi permulaan suatu urusan penting, baik itu pindah rumah, memulai pekerjaan baru, atau menghadapi situasi genting.

Analisis Tiga Permintaan Utama

Ayat ini mengandung tiga permohonan kunci yang saling melengkapi:

1. Memohon Masuk ke Tempat yang Benar (مُدْخَلَ صِدْقٍ)

“Tempat masuk yang benar” (madkhal sidq) dimaknai sebagai tempat yang diberkahi, penuh kebaikan, dan diridai Allah. Dalam konteks Hijrah, ini adalah Madinah, yang menjadi tempat di mana Islam dapat berkembang tanpa ancaman langsung seperti di Mekkah. Secara umum, ini berarti memohon agar permulaan setiap langkah, usaha, atau kepindahan kita didasari oleh kebenaran (sidq) dan membawa hasil yang jujur serta baik di mata Allah. Ini bukan sekadar masuk secara fisik, tetapi juga masuk dengan hati yang bersih dan tujuan yang lurus.

2. Memohon Keluar dari Tempat yang Benar (مُخْرَجَ صِدْقٍ)

“Tempat keluar yang benar” (mukhraj sidq) memiliki dua makna utama. Pertama, ketika kaum Muslimin keluar dari Mekkah, mereka keluar dengan selamat dan terhormat, bukan sebagai pelarian yang gagal. Kedua, ini mencakup permintaan agar ketika kita meninggalkan suatu tempat atau menyelesaikan suatu urusan, kita melakukannya dengan cara yang benar, tidak meninggalkan keburukan, dan mencapai akhir yang terpuji. Keberhasilan sebuah perjalanan tidak hanya dilihat dari permulaannya, tetapi juga dari bagaimana ia diakhiri.

3. Memohon Pertolongan yang Menolong (سُلْطَانًا نَصِيرًا)

Permintaan ketiga adalah inti dari dukungan ilahi. "Sultan yang menolong" (sultanan nashira) berarti otoritas, kekuatan, atau dalil yang kokoh yang datang langsung dari sisi Allah. Ini bukan meminta kekuasaan duniawi semata, melainkan kekuatan spiritual, hujjah yang kuat, dan pertolongan nyata saat menghadapi kesulitan. Ketika kebenaran diusung, seringkali membutuhkan kekuatan untuk menegakkannya di tengah kebatilan. Doa ini menegaskan bahwa sumber kekuatan sejati hanya berasal dari Allah SWT.

Relevansi Kontemporer

Ayat 80 Surah Al-Isra memberikan pelajaran berharga bagi umat Islam di era modern. Dalam menghadapi tantangan globalisasi, tekanan sosial, atau bahkan keputusan karier yang besar, kita dianjurkan untuk mengadopsi pola pikir yang tercermin dalam doa ini. Setiap kali kita memulai proyek baru, mengambil keputusan besar, atau bahkan memasuki lingkungan baru (baik lingkungan kerja, pendidikan, maupun sosial), kita perlu memohon:

Doa ini mengajarkan bahwa keberhasilan sejati adalah keberhasilan yang terikat pada keridhaan Ilahi, baik dalam prosesnya maupun hasilnya.

🏠 Homepage