Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran spiritual dan historis. Di tengah ayat-ayat yang membahas tentang perjalanan malam Rasulullah SAW, terdapat perintah yang mendasar mengenai hubungan seorang mukmin dengan Tuhannya, yaitu yang termaktub dalam Ayat ke-3: "Wa tawakkal 'alal Hayyil Ladzi La Yamut."
Perintah utama dalam ayat ini adalah tawakal. Tawakal bukanlah sekadar pasrah tanpa usaha, melainkan penyerahan hasil akhir kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar maksimal. Keunikan perintah tawakal dalam konteks ini adalah penekanan pada sifat Allah yang disandingkan: Al-Hayy (Yang Hidup Kekal) dan Yang tidak pernah mati. Logikanya sederhana namun mendalam: Bagaimana mungkin kita bertawakal kepada sesuatu yang fana, sementara zat yang memerintahkan kita untuk bertawakal adalah zat yang kekal dan Maha Kuasa? Keyakinan ini menguatkan fondasi tawakal kita; kita menitipkan urusan kepada Dzat yang pasti menjaga dan memelihara segala sesuatu tanpa batas waktu.
Ayat ini melanjutkan dengan perintah kedua yang krusial: "Wa sabbih bihamdihi" (Dan bertasbihlah memuji-Nya). Tasbih adalah penyucian, sementara tahmid adalah pujian. Keduanya merupakan bentuk ibadah aktif yang harus menyertai sikap pasif dalam tawakal. Ketika kita telah menyerahkan segala urusan duniawi kepada Allah, tugas kita selanjutnya adalah menjaga kualitas hubungan spiritual kita melalui pujian dan pengakuan atas keagungan-Nya. Ini mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh terjebak dalam kekhawatiran pasca-usaha, melainkan harus mengalihkannya menjadi energi positif berupa zikir dan syukur.
Mengapa pujian harus selalu menyertai? Karena kesempurnaan Allah adalah sumber segala kebaikan. Ketika kita menghadapi kesulitan, pujian kepada-Nya menunjukkan bahwa kita meyakini bahwa di balik kesulitan itu terdapat hikmah yang sempurna, walau mata kita belum mampu melihatnya saat itu.
Ayat diakhiri dengan penegasan otoritas dan pengetahuan Allah: "Wakafa bihi bi-dzunubi 'ibadihi khabira" (Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-Nya). Konteks ini seringkali menjadi penenang bagi jiwa yang merasa terbebani. Allah mengetahui setiap kesalahan dan kekurangan kita, namun Dia tetap memerintahkan kita untuk berusaha, bertawakal, dan memuji-Nya.
Pengetahuan Allah tentang dosa-dosa hamba-Nya berfungsi sebagai pengingat akan kerendahan diri. Kita tidak pantas bersombong diri atas amal baik kita, karena Allah tahu seberapa banyak kekurangan yang tersembunyi. Kesadaran ini mendorong kerendahan hati dan rasa syukur yang lebih besar. Pengakuan bahwa Sang Pencipta mengetahui segalanya, termasuk kelemahan kita, seharusnya justru mendorong kita untuk lebih giat memohon ampunan dan berlindung di bawah naungan kasih sayang-Nya, alih-alih merasa putus asa.
Al Isra Ayat 3 memberikan kerangka kerja praktis untuk menghadapi tantangan hidup modern. Di era yang penuh ketidakpastian, perintah untuk bertawakal kepada Al-Hayy (Yang Hidup Kekal) memberikan jangkar spiritual yang kokoh. Kita didorong untuk menanamkan keyakinan bahwa sumber kekuatan kita bukanlah jabatan, harta, atau koneksi, melainkan Dzat yang kekuasaannya tidak pernah berakhir.
Melaksanakan ayat ini berarti kita harus menyeimbangkan antara kerja keras (ikhtiar) dan pelepasan (tawakal). Setelah kita memberikan yang terbaik dalam pekerjaan, studi, atau hubungan, kita harus melepaskan kecemasan hasil kepada Allah. Kemudian, sebagai penyeimbang emosional, kita harus mengisi ruang hati yang kosong dari kekhawatiran dengan tasbih dan pujian kepada-Nya. Ini adalah siklus energi positif: berusaha, serahkan, puji, dan ulangi. Dengan demikian, hidup kita tidak dikendalikan oleh hasil yang belum pasti, melainkan oleh kepastian akan kebesaran dan kebaikan Allah SWT.