Menelusuri Jejak Spiritual Perjalanan Nabi Muhammad SAW
Peristiwa Isra Mi'raj adalah mukjizat agung yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem (Isra), dilanjutkan dengan kenaikan beliau ke langit sampai ke Sidratul Muntaha (Mi'raj), merupakan peneguhan spiritual yang luar biasa dan sekaligus penguatan risalah kenabian.
Meskipun detail perjalanan ini lebih banyak termaktub dalam hadis-hadis sahih, Al-Qur'an memberikan landasan kokoh dan penegasan atas kebenaran peristiwa tersebut. Dua ayat utama dalam Al-Qur'an menjadi saksi otentik atas peristiwa monumental ini.
Ayat yang secara eksplisit menyebutkan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa terdapat dalam Surah Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Bani Israil).
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
(QS. Al-Isra [17]: 1)Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Ayat ini menegaskan empat poin penting terkait Isra:
Meskipun kata "Mi'raj" (kenaikan) tidak disebutkan secara langsung dalam Surah Al-Isra ayat 1, bagian kedua dari perjalanan, yaitu kenaikan ke alam langit, dijelaskan secara kuat dalam Surah An-Najm. Ayat ini menggambarkan pertemuan Nabi dengan Jibril dan pandangan beliau terhadap kedudukan tertinggi di Sidratul Muntaha.
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ (13) عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ (14) عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ (17)
(QS. An-Najm [53]: 13-17)Dan sungguh (Muhammad) telah melihat Jibril pada cetakan yang lain (13), (yaitu) di Sidratul Muntaha (14), di dekatnya ada Surga Firdaus (15). (Ingatlah) ketika langit dan bumi diliputi oleh sesuatu yang meliputinya (16). Penglihatan (Muhammad) tidak berpaling dari apa yang dilihatnya dan tidak (pula) melampauinya (17).
Ayat-ayat dari Surah An-Najm ini menguatkan aspek 'Mi'raj'. Kata kunci di sini adalah 'Sidratul Muntaha', batas akhir yang tidak dapat dilewati oleh makhluk lain, termasuk Jibril. Hal ini menunjukkan kedudukan tertinggi yang dicapai oleh Rasulullah SAW, di mana beliau menerima perintah langsung dan menyaksikan kebesaran Allah secara kasat mata (sesuai kapasitas kenabiannya).
Perjalanan Isra Mi'raj bukanlah sekadar perjalanan fisik biasa, melainkan sebuah madrasah spiritualitas yang mendalam. Ayat-ayat Al-Qur'an di atas menjadi landasan bahwa peristiwa ini adalah nyata dan termaktub dalam wahyu ilahi. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan penghiburan kepada Nabi Muhammad SAW setelah mengalami tahun-tahun yang penuh cobaan di Mekkah (Amul Huzn/Tahun Kesedihan), serta untuk menetapkan syariat shalat lima waktu sebagai tiang agama yang harus dikerjakan oleh umat Islam di seluruh penjuru waktu dan tempat.
Dengan melihat ayat ini, seorang Muslim diingatkan akan keagungan Allah SWT yang mampu menembus batas-batas ruang dan waktu yang kita kenal. Ini menegaskan bahwa ajaran Islam tidak hanya terikat pada bumi, tetapi memiliki dimensi kosmik yang luas. Kesaksian Al-Qur'an terhadap peristiwa Isra Mi'raj adalah jaminan bahwa mukjizat tersebut benar-benar terjadi sebagai salah satu pilar keimanan.