Ilustrasi simbolis yang merepresentasikan pesan spiritual.
Dalam kajian Al-Qur'an, terdapat banyak frasa kunci yang sarat makna dan memerlukan pendalaman kontekstual. Salah satu frasa yang menarik perhatian para mufassir adalah yang berkaitan dengan perintah untuk menyampaikan atau mengucapkan sesuatu, sering kali diwakili oleh bentuk kata kerja. Ketika kita menelusuri akar kata dan konteksnya, kita akan menemukan frasa seperti waqulja (و قُلْ جَ) atau variasinya dalam ayat-ayat tertentu, yang mengimplikasikan perintah ilahi untuk berbicara, menyatakan, atau menegaskan sesuatu.
Frasa waqulja sendiri secara harfiah berasal dari huruf 'waw' (و) yang berarti 'dan', diikuti oleh 'qul' (قُلْ) yang merupakan bentuk perintah ('Katakanlah!'), dan 'ja' (جَ) yang mungkin merupakan bagian dari kata lanjutan atau struktur kalimat yang lebih kompleks, tergantung pada ayat di mana ia muncul. Namun, dalam konteks umum yang sering dicari terkait kata kunci ini, fokusnya adalah pada perintah 'Katakanlah' yang fundamental dalam dakwah para nabi.
Inti dari frasa yang mengandung 'Qul' adalah penegasan tugas kenabian. Allah SWT sering memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengucapkan (mengumumkan) kebenaran wahyu tanpa keraguan. Ini bukan sekadar berbicara biasa, melainkan menyampaikan firman yang memiliki otoritas ilahi. Perintah ini menuntut keberanian, ketegasan, dan kejelasan dalam penyampaian pesan tauhid.
Banyak ayat Al-Qur'an dimulai dengan "Katakanlah" (Qul), misalnya, "Katakanlah: Inilah jalanku..." (QS. Yusuf: 108) atau "Katakanlah: Akulah seorang manusia seperti kamu..." (QS. Al-Kahfi: 110). Perintah ini memastikan bahwa pesan yang disampaikan adalah murni dari Allah, bukan opini pribadi Nabi Muhammad SAW.
Jika kita mengasumsikan bahwa waqulja merujuk pada variasi atau bagian dari ayat yang lebih panjang yang mengandung perintah bicara, konteksnya akan sangat bervariasi. Beberapa konteks umum meliputi:
Penting untuk dicatat bahwa untuk memahami secara spesifik 'waqulja' secara utuh, dibutuhkan penelusuran ayat per ayat. Namun, jika kata tersebut merujuk pada perintah umum, semangat di baliknya adalah keberanian dalam menyampaikan kebenaran.
Perintah untuk "mengatakan" memiliki implikasi mendalam bagi setiap Muslim. Ini mengajarkan bahwa iman tidak cukup hanya diyakini dalam hati, tetapi harus diwujudkan melalui perkataan yang baik dan benar (dakwah). Ketika kita diperintahkan untuk berkata, kita diingatkan bahwa setiap ucapan kita akan dipertanggungjawabkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, semangat waqulja mendorong kita untuk tidak menyembunyikan kebenaran (amar ma'ruf nahi munkar) dan untuk menggunakan lisan kita sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan sesama. Lisan yang dikendalikan, yang hanya mengucapkan hal-hal yang diridhai Allah, adalah salah satu pilar utama kesalehan individu. Ini mencakup kejujuran, nasihat yang bijak, dan penolakan terhadap kebohongan.
Dalam bahasa Arab, ketika sebuah kata kerja perintah diikuti oleh preposisi atau partikel lain, maknanya dapat berubah sedikit. 'Waw' (و) adalah huruf 'athaf' (penghubung), yang menyambungkan kalimat sebelumnya dengan kalimat berikutnya. Jadi, frasa yang mengandung 'wa qul' (dan katakanlah) berarti bahwa perintah itu datang sebagai kesinambungan dari argumen atau narasi sebelumnya.
Sebagai contoh, jika sebelumnya Allah menjelaskan suatu peristiwa, maka perintah selanjutnya adalah 'dan katakanlah' sebagai kesimpulan atau respons atas peristiwa tersebut. Hal ini menunjukkan alur logis dan koherensi yang luar biasa dalam narasi Al-Qur'an. Setiap bagian terhubung, membangun pemahaman yang komprehensif bagi pembacanya.
Oleh karena itu, mempelajari bagian-bagian seperti waqulja, meskipun tampak kecil, membuka pintu pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana Allah merancang komunikasi-Nya: tegas, terstruktur, dan relevan untuk setiap zaman dan situasi.
Kesimpulannya, frasa yang mengandung unsur perintah bicara seperti yang terdapat dalam konteks waqulja adalah inti dari misi kenabian. Ini adalah seruan bagi umat untuk menjadi komunikator kebenaran, menggunakan lisan mereka dengan penuh tanggung jawab, dan senantiasa menjadikan ucapan mereka sebagai cerminan dari keimanan yang teguh.