Peristiwa Isra Mi'raj merupakan mukjizat luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Perjalanan ini terbagi menjadi dua bagian utama: Isra (perjalanan di malam hari dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem) dan Mi'raj (kenaikan Nabi dari Masjidil Aqsa menuju langit ketujuh, Sidratul Muntaha). Peristiwa ini meneguhkan keyakinan umat Islam dan membawa perintah shalat lima waktu yang wajib dilaksanakan.
Meskipun Al-Qur'an secara eksplisit menyebutkan perjalanan Isra dalam Surah Al-Isra ayat 1, detail lengkap perjalanan Mi'raj lebih banyak ditemukan dalam Hadis-hadis sahih. Memahami dan membaca kembali kisah ini sangat penting untuk meningkatkan keimanan dan spiritualitas kita.
Ayat ini menjadi landasan utama tentang perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Al-Aqsa).
Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Meskipun tidak ada bacaan tunggal yang spesifik berupa "surat" untuk dibaca setelah peristiwa tersebut (seperti surat yasin atau surat tertentu), umat Islam dianjurkan untuk merenungkan dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis yang menceritakan detail perjalanan tersebut. Perenungan ini memperkuat akidah tauhid dan meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Inti dari peringatan Isra Mi'raj adalah pengukuhan risalah kenabian Muhammad SAW, serta penetapan syariat shalat sebagai tiang agama. Shalat, yang diwahyukan langsung kepada Nabi di tingkatan langit tertinggi, menunjukkan betapa pentingnya ibadah ini dalam Islam.
Kisah Isra Mi'raj mengajarkan beberapa pelajaran vital:
Setiap tahun, umat Muslim memperingati malam mulia ini bukan sekadar sebagai peristiwa sejarah, tetapi sebagai momen untuk merefleksikan kualitas shalat kita. Apakah shalat kita telah menjadi "mi'raj" spiritual kita? Apakah kita benar-benar merasakan kehadiran Allah saat bersujud? Bacaan yang paling utama adalah membaca dan menghayati Al-Qur'an serta Hadis yang menceritakan perjalanan agung tersebut.
Dengan merenungkan perjalanan Nabi yang menembus batas kosmos, kita diingatkan bahwa batasan duniawi bukanlah batasan bagi keimanan sejati. Fokuskan hati pada kebesaran Ilahi, sebagaimana Nabi Muhammad SAW melihat langsung berbagai tanda kebesaran Allah SWT di setiap tingkatan langit. Semoga peringatan ini senantiasa mengingatkan kita untuk menjaga kualitas ibadah kita sehari-hari.