Jawaban Singkat: Nilai Oktan Pertamax yang dipasarkan di Indonesia adalah 92, yang secara teknis disebut sebagai RON 92 (Research Octane Number 92). Angka ini menempatkan Pertamax dalam kategori bahan bakar beroktan tinggi yang dirancang untuk kendaraan dengan rasio kompresi mesin menengah hingga tinggi.
Angka oktan pada bahan bakar minyak (BBM) adalah parameter kritis yang menentukan kualitas pembakaran dalam mesin. Oktan bukanlah ukuran kandungan energi atau daya ledak bahan bakar; sebaliknya, ini adalah ukuran resistensi bahan bakar terhadap pembakaran prematur atau fenomena yang dikenal sebagai knocking (ngelitik).
RON adalah metode standar internasional yang digunakan untuk mengukur kemampuan anti-ketukan bahan bakar. Pengujian RON dilakukan di laboratorium menggunakan mesin silinder tunggal standar (CFR engine) di bawah kondisi operasional yang moderat (putaran rendah hingga menengah). Nilai oktan ini dibandingkan dengan campuran dua hidrokarbon referensi:
Ketika Pertamax memiliki RON 92, itu berarti bahan bakar tersebut memiliki sifat anti-ketukan yang setara dengan campuran 92% iso-oktana dan 8% n-heptana.
Ketukan adalah hasil dari pembakaran yang tidak terkontrol. Pada mesin modern, piston menekan campuran udara dan bahan bakar (kompresi) sebelum busi memicu percikan. Jika bahan bakar memiliki oktan terlalu rendah untuk rasio kompresi mesin, tekanan dan panas yang ekstrem akan menyebabkan bahan bakar terbakar sendiri sebelum busi menyala. Fenomena ini disebut autoignition atau pre-ignition.
Ketika terjadi autoignition, dua gelombang tekanan bertemuāgelombang dari pembakaran prematur dan gelombang dari pembakaran normal yang dipicu busi. Benturan ini menciptakan gelombang kejut yang terdengar sebagai suara "ketukan" atau "ngelitik" yang keras.
Dampak jangka panjang ketukan meliputi:
Gambar 1. Ilustrasi posisi Nilai Oktan (RON) Pertamax.
Pemilihan bahan bakar harus selalu didasarkan pada kebutuhan spesifik mesin yang ditentukan oleh pabrikan. Kebutuhan oktan erat kaitannya dengan Rasio Kompresi (Compression Ratio - CR) mesin.
Rasio kompresi adalah perbandingan volume ruang bakar saat piston berada di titik terendah (TMB/BDC) dengan volume saat piston berada di titik tertinggi (TMA/TDC). Semakin tinggi rasionya, semakin tinggi tekanan dan suhu yang dihasilkan, dan semakin besar resistensi oktan yang dibutuhkan.
Secara umum, mesin yang ideal menggunakan Pertamax (RON 92) berada pada rentang Rasio Kompresi:
Selain rasio kompresi statis, teknologi modern seperti injeksi bahan bakar langsung (GDI), Variable Valve Timing (VVT), dan terutama mesin dengan turbocharger atau supercharger, menuntut oktan yang lebih tinggi meskipun rasio kompresi statisnya terlihat moderat. Hal ini disebabkan oleh tekanan efektif yang jauh lebih besar yang dihasilkan oleh induksi paksa (turbo/supercharger).
Nilai oktan 92 tidak hanya dicapai melalui komposisi hidrokarbon dasar, tetapi juga melalui penambahan berbagai aditif yang berfungsi ganda: meningkatkan resistensi pembakaran dan menjaga kebersihan sistem bahan bakar.
Bensin adalah campuran kompleks ratusan hidrokarbon yang didapat dari distilasi minyak mentah. Agar mencapai RON 92, perlu dilakukan proses reformasi, alkilasi, dan isomerisasi di kilang. Proses-proses ini mengubah struktur hidrokarbon rantai lurus (yang mudah terbakar) menjadi hidrokarbon bercabang (yang lebih stabil dan memiliki oktan tinggi, seperti iso-oktana).
Selain hidrokarbon, BBM Pertamax umumnya mengandung zat-zat penambah oktan (octane enhancers) yang aman dan legal, seperti MTBE (Methyl tert-butyl ether) atau ETBE (Ethyl tert-butyl ether), meskipun penggunaan MTBE sudah banyak dibatasi karena isu lingkungan.
Kualitas bahan bakar tidak hanya tentang oktan. Paket aditif yang terkandung dalam Pertamax memainkan peran penting dalam pemeliharaan mesin, yang membedakannya dari BBM dengan oktan serupa yang tidak memiliki aditif berkualitas.
Aditif kunci dalam Pertamax meliputi:
Gambar 2. Perbandingan pembakaran normal (anti-ketukan) dan knocking (pembakaran prematur).
Untuk memahami posisi Pertamax (RON 92) di pasar, penting untuk membandingkannya dengan bahan bakar bersubsidi dan premium (RON lebih rendah) serta bahan bakar performa tinggi (RON lebih tinggi).
| BBM | Nilai Oktan (RON) | Rasio Kompresi Ideal | Fokus Utama |
|---|---|---|---|
| Pertalite | 90 | CR 9:1 hingga 10:1 | Ekonomis, mesin standar lama/menengah |
| Pertamax | 92 | CR 10:1 hingga 11.5:1 | Keseimbangan performa, efisiensi, dan proteksi mesin modern |
| Pertamax Turbo | 98 | CR 11.5:1 ke atas | Performa maksimal, mesin sport, turbo/supercharged bertekanan tinggi |
Banyak pengendara yang mesinnya secara teknis membutuhkan RON 92 terkadang memilih Pertalite (RON 90) karena alasan biaya. Meskipun Pertalite dapat digunakan, ada beberapa konsekuensi jangka panjang dan pendek:
Menggunakan Pertamax Turbo (RON 98) pada mesin yang hanya membutuhkan RON 92 umumnya tidak memberikan peningkatan performa yang signifikan, kecuali pada kondisi tertentu (misalnya, modifikasi mesin yang meningkatkan tekanan kompresi, atau perjalanan di pegunungan tinggi di mana suhu dan tekanan udara berbeda).
Mesin standar yang dirancang untuk RON 92 biasanya tidak akan bisa memanfaatkan resistensi ekstra dari RON 98, karena ECU sudah diatur untuk waktu pengapian maksimum yang aman pada RON 92. Biaya tambahan untuk RON 98 menjadi tidak efisien jika tidak ada peningkatan performa yang dirasakan.
Keputusan untuk menggunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan (RON 92) adalah investasi dalam kesehatan jangka panjang mesin, bukan sekadar peningkatan akselerasi sesaat.
Penggunaan oktan yang tepat memastikan bahwa pembakaran terjadi secara optimal dan terdistribusi merata di ruang bakar. Ini melindungi komponen dari keausan prematur:
Indonesia terus berupaya menuju standar emisi yang lebih ketat (misalnya Euro 4). Bahan bakar dengan oktan 92 atau lebih tinggi, seperti Pertamax, memainkan peran penting dalam mencapai standar ini. Kualitas BBM yang lebih baik memastikan pembakaran yang lebih bersih dan efisien, menghasilkan lebih sedikit hidrokarbon tak terbakar (HC), karbon monoksida (CO), dan nitrogen oksida (NOx). Ini adalah alasan utama mengapa pemerintah secara bertahap mendorong penghapusan BBM beroktan rendah.
Ada beberapa mitos yang sering beredar di kalangan pengguna kendaraan mengenai BBM oktan tinggi. Memahami fakta di balik angka 92 ini sangat penting.
Fakta: Kebutuhan oktan didorong oleh teknologi mesin, bukan jenis kendaraan. Banyak kendaraan harian (city car, SUV, motor matic premium) yang diproduksi saat ini menggunakan rasio kompresi di atas 10.5:1 dan secara eksplisit merekomendasikan RON 92 (Pertamax) atau lebih. Hal ini terkait dengan desain mesin yang lebih ringan dan efisien yang menuntut kualitas pembakaran yang lebih stabil.
Fakta: Oktan adalah resistensi terhadap ketukan. Kemampuan membersihkan datang dari aditif deterjen, bukan dari angka oktan itu sendiri. Namun, karena BBM dengan oktan tinggi (seperti Pertamax) biasanya memiliki paket aditif pembersih yang lebih canggih dan konsentrat, penggunaannya secara rutin memang membantu menjaga kebersihan sistem bahan bakar. Oktan 92 tidak secara ajaib membersihkan tangki, tetapi formulasi aditifnya yang membersihkan injektor dan katup.
Fakta: Mencampur Pertamax (RON 92) dengan Pertalite (RON 90) akan menghasilkan nilai oktan rata-rata di antara keduanya (misalnya RON 91). Praktik ini sah, tetapi tidak dianjurkan. Jika mesin Anda membutuhkan minimal RON 92, mencampurnya dengan RON 90 hanya akan menurunkan margin keamanan Anda, yang dapat menyebabkan mesin sedikit knocking saat akselerasi penuh, meskipun tidak parah. Selalu disarankan menggunakan oktan yang memenuhi atau melebihi rekomendasi pabrikan.
Fakta: Justru sebaliknya. Jika mesin Anda memang dirancang untuk RON 92, menggunakan RON di bawahnya akan memicu retardasi pengapian, menurunkan efisiensi, dan memaksa Anda menginjak gas lebih dalam, yang menghasilkan konsumsi BBM lebih boros. Ketika menggunakan Pertamax (RON 92) sesuai spesifikasi, mesin bekerja pada titik efisiensi termal tertinggi, yang seharusnya menghasilkan jarak tempuh per liter yang lebih baik (lebih irit) dibandingkan menggunakan oktan yang terlalu rendah dan menyebabkan ketukan.
Dalam konteks kebijakan energi nasional, Pertamax (RON 92) menempati posisi unik sebagai bahan bakar nonsubsidi paling populer, menawarkan jembatan antara BBM bersubsidi (ekonomis) dan BBM performa tinggi (premium).
Pertamax adalah bahan bakar nonsubsidi, yang berarti harganya disesuaikan secara berkala mengikuti harga minyak mentah global dan kurs mata uang. Status nonsubsidi ini memberikan jaminan kualitas dan ketersediaan yang lebih stabil, karena fluktuasi harganya memungkinkan produsen untuk terus menyediakan bahan baku dan aditif terbaik untuk mencapai standar RON 92.
Pergeseran standar emisi ke Euro 4, yang membutuhkan BBM sulfur rendah dan oktan minimum tertentu, semakin memperkuat posisi RON 92 sebagai standar minimum. Bahan bakar oktan rendah cenderung memiliki kadar sulfur yang lebih tinggi. Kadar sulfur yang tinggi sangat berbahaya bagi komponen sistem pembuangan modern (khususnya catalytic converter) dan juga berdampak buruk pada kualitas udara. Pertamax, sebagai BBM modern, dirancang untuk memenuhi persyaratan kadar sulfur rendah, sejalan dengan upaya Indonesia untuk menerapkan standar emisi Euro 4 pada kendaraan baru.
Sebagai produk unggulan yang didistribusikan secara luas, Pertamax memiliki jaringan distribusi yang sangat luas di seluruh Indonesia. Keberadaan SPBU yang menyediakan Pertamax menjadikannya pilihan yang andal bagi perjalanan jarak jauh, memastikan bahwa pengendara yang membutuhkan RON 92 dapat menemukannya hampir di setiap wilayah.
Untuk memahami sepenuhnya manfaat menggunakan Pertamax (RON 92), kita perlu mengulas bagaimana waktu pengapian (ignition timing) dan kurva daya mesin dipengaruhi oleh nilai oktan.
Dalam operasi mesin ideal, busi harus memicu pembakaran sedikit *sebelum* piston mencapai Titik Mati Atas (TMA). Sudut pengapian ini, diukur dalam derajat putaran poros engkol (BTDC - Before Top Dead Center), harus diatur sedemikian rupa sehingga tekanan puncak pembakaran terjadi tepat setelah TMA. Ini menghasilkan torsi dan daya maksimal.
Ketika bahan bakar memiliki oktan yang cukup (seperti RON 92 sesuai rekomendasi pabrikan), ECU dapat menjalankan pengapian pada sudut yang paling maju (advanced timing) tanpa memicu knocking. Timing yang maju ini memastikan mesin mendapatkan efisiensi maksimal.
Jika digunakan bahan bakar dengan oktan rendah (misalnya RON 90), ECU harus secara progresif memundurkan (retard) waktu pengapian agar pembakaran tidak terjadi prematur. Retardasi pengapian berarti tekanan puncak terjadi jauh setelah TMA. Meskipun mesin terlindungi dari kerusakan, energi yang seharusnya diubah menjadi daya hilang sebagai panas yang tidak efisien, mengakibatkan kurva torsi dan daya yang datar, dan performa yang menurun drastis.
Efisiensi termal mesin adalah kemampuan mesin untuk mengubah energi panas dari bahan bakar menjadi kerja mekanik. Efisiensi ini meningkat seiring dengan peningkatan rasio kompresi. Namun, peningkatan rasio kompresi hanya dapat dimanfaatkan jika bahan bakar memiliki ketahanan anti-ketukan yang memadai. Pertamax (RON 92) memungkinkan mesin beroperasi pada rasio kompresi tinggi yang dirancangnya, sehingga memaksimalkan efisiensi termal dan mengurangi kehilangan energi.
Sederhananya: Mesin modern dirancang panas dan padat (kompresi tinggi) untuk efisiensi. Pertamax 92 adalah kunci yang memungkinkan desain efisien ini bekerja tanpa merusak diri sendiri.
Tren global menunjukkan peningkatan permintaan terhadap bahan bakar oktan tinggi seiring dengan evolusi teknologi otomotif.
Pengembangan BBM masa depan di Indonesia banyak melibatkan campuran bioetanol (seperti dalam produk bio-bensin). Bioetanol memiliki nilai oktan yang secara inheren tinggi (biasanya di atas 100), sehingga pencampurannya dengan bensin konvensional secara alami akan meningkatkan nilai RON produk akhir. Program bio-bensin nasional akan semakin memperkuat posisi BBM RON 92 atau lebih tinggi di pasar, memastikan pasokan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dan berkualitas tinggi.
Kendaraan hibrida (hybrid electric vehicles/HEV) menggunakan mesin bensin yang sering beroperasi dalam mode Atkinson Cycle untuk efisiensi termal maksimum. Mode Atkinson (atau variannya) secara efektif meningkatkan rasio kompresi ekspansi, yang membuat mesin sangat sensitif terhadap kualitas oktan, bahkan ketika mesin tersebut tidak selalu bekerja pada beban penuh. Oleh karena itu, kendaraan hibrida terbaru umumnya juga membutuhkan minimum RON 92 untuk memastikan operasi yang efisien dan menghindari pembentukan karbon yang cepat.
Nilai oktan 92 pada Pertamax bukan sekadar angka marketing, melainkan spesifikasi teknis fundamental yang menjamin keserasian antara bahan bakar dan mesin modern. Penggunaan yang tepat memastikan operasional kendaraan yang optimal dari berbagai sisi:
Dalam konteks kendaraan saat ini, Pertamax (RON 92) telah menjadi standar minimum yang diperlukan untuk mayoritas kendaraan yang diproduksi dalam dekade terakhir, menjadikannya pilihan bahan bakar yang paling masuk akal dari segi teknis, efisiensi, dan perlindungan investasi kendaraan Anda.
Gambar 3. Simbol pengisian bahan bakar Pertamax RON 92.
Artikel ini membahas Nilai Oktan Pertamax secara komprehensif dari sudut pandang teknis dan aplikatif.