Pesan Penting dari Surah Al-Maidah Ayat 88: Rezeki dan Kebaikan

Halal Dunia Akhirat Keseimbangan Rezeki dan Syukur

Alt Text: Ilustrasi timbangan yang seimbang, menunjukkan sisi kiri sebagai rezeki halal (dengan unsur daun) dan sisi kanan menunjukkan kebaikan dunia dan akhirat, melambangkan perintah Allah SWT.

Teks Surah Al-Maidah Ayat 88

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ
*Wa kulū mimmā razaqakumullāhu ḥalālan ṭayyiban, wattaqullāhal-ladhī antum bihi mu’minūn.*
"Dan makanlah rezeki yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah berikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya."

Kandungan Utama dan Penjelasan Mendalam

Ayat ke-88 dari Surah Al-Maidah ini merupakan landasan fundamental dalam etika konsumsi dan hubungan seorang mukmin dengan Tuhannya. Ayat ini memuat dua perintah penting yang saling terkait erat: perintah untuk mengonsumsi makanan yang baik dan halal, serta perintah untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT.

1. Perintah Mengonsumsi yang Halal dan Tayyib (Baik)

Allah SWT menegaskan bahwa segala rezeki yang dianugerahkan-Nya adalah boleh dikonsumsi, namun dengan dua syarat utama: halal (sesuai syariat) dan tayyib (baik, sehat, dan berkualitas).

Kata 'halal' secara hukum berarti makanan tersebut diperbolehkan oleh syariat Islam, bebas dari unsur yang diharamkan seperti bangkai, darah, daging babi, atau yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Sementara itu, kata 'tayyib' memiliki cakupan yang lebih luas, meliputi aspek kebersihan, kesehatan fisik, manfaat spiritual, dan bahkan kebaikan sosial. Seorang Muslim tidak hanya dituntut menghindari yang haram, tetapi juga mencari yang terbaik dan bermanfaat bagi tubuh dan jiwanya. Mengabaikan aspek 'tayyib' berarti mengurangi kesempurnaan pengamalan ayat ini.

2. Korelasi dengan Rasa Syukur dan Keimanan

Perintah kedua dalam ayat ini adalah, "Wattaqullāhal-ladhī antum bihi mu’minūn" (Dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya). Hal ini menunjukkan bahwa etika makan bukanlah sekadar urusan perut, melainkan indikator keimanan dan ketakwaan seseorang.

Ketika seseorang sadar bahwa semua rezeki berasal dari Allah, maka secara otomatis ia akan merasa wajib untuk menggunakan rezeki tersebut sesuai dengan kehendak Pemberi. Ketakwaan di sini terwujud dalam bentuk rasa syukur yang diiringi oleh kepatuhan. Mereka yang memilih makanan haram atau kotor seringkali mengabaikan hakikat bahwa Allah adalah satu-satunya sumber pertolongan dan rezeki mereka. Sebaliknya, mereka yang senantiasa memilih yang halal dan tayyib adalah cerminan dari ketakwaan yang teguh.

3. Implikasi Spiritual dalam Makanan

Dalam tradisi Islam, makanan yang dikonsumsi sangat mempengaruhi kualitas ibadah dan doa seseorang. Makanan haram dan syubhat (ragu-ragu kehalalannya) dikhawatirkan menjadi penghalang terkabulnya doa dan menyebabkan hati menjadi keras. Oleh karena itu, menjaga kemurnian asupan makanan adalah bagian integral dari upaya menjaga kemurnian hati dan kedekatan spiritual dengan Allah SWT. Ini adalah prinsip dasar bahwa tubuh adalah amanah yang harus dipelihara dengan cara yang diridhai Penciptanya.

4. Keutamaan Makanan Halal dalam Pandangan Ulama

Para ulama menekankan bahwa mematuhi ayat ini adalah bentuk jihad kecil sehari-hari. Ketika seseorang menolak godaan makanan lezat yang diharamkan, ia sedang menegakkan batasan syariat di tengah lingkungan yang mungkin menormalisasi hal-hal yang tidak diridhai. Mengonsumsi yang halal dan baik adalah manifestasi nyata dari iman yang diucapkan dengan lisan, dibuktikan dengan hati, dan diimplementasikan melalui perbuatan.

Kesimpulannya, Surah Al-Maidah ayat 88 mengajarkan kita untuk hidup dalam kesadaran penuh bahwa nikmat makan dan minum adalah karunia ilahi yang harus dinikmati dengan rasa syukur, disertai kepatuhan mutlak terhadap aturan-Nya, menjadikannya ibadah yang bernilai di sisi Allah SWT.

🏠 Homepage