Berapa Hari Lagi Hari Raya Idul Adha? Menggali Makna dan Menghitung Waktu

Pertanyaan mengenai berapa hari lagi Hari Raya Idul Adha tiba adalah sebuah pertanyaan yang senantiasa berulang, sarat dengan antisipasi dan harapan. Bagi umat Islam di seluruh dunia, Idul Adha bukan sekadar tanggal merah di kalender; ini adalah puncak spiritualitas, penanda berakhirnya ibadah haji, dan momen sakral untuk menunaikan ibadah kurban. Menghitung hari menuju perayaan ini adalah langkah awal dalam memulai serangkaian persiapan, baik persiapan fisik, materi, maupun batiniah.

Perayaan ini jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, bulan terakhir dalam kalender Hijriah. Karena penanggalan Hijriah didasarkan pada siklus bulan (Qomariyah), maka tanggalnya akan bergeser sekitar 10 hingga 11 hari lebih awal setiap memasuki kalender Masehi yang baru. Ketidakpastian inilah yang sering memicu pertanyaan 'berapa hari lagi?', yang menuntut kita untuk memahami sistem penanggalan Islam yang unik dan penuh makna.

Ilustrasi kalender, melambangkan perhitungan waktu menuju Dzulhijjah.

1. Mekanisme Penentuan Tanggal Idul Adha

Penghitungan hari menuju Idul Adha selalu diawali dengan pengamatan hilal (bulan sabit) di akhir bulan Dzulqa'dah. Ini adalah proses yang melibatkan sains, astronomi, dan otoritas keagamaan, memastikan kesatuan pelaksanaan ibadah di seluruh negeri.

1.1. Perbedaan Metode Hisab dan Rukyat

Di Indonesia, penentuan awal bulan Hijriah menggunakan dua pendekatan utama yang saling melengkapi dan kadang menghasilkan sedikit perbedaan waktu. Pemahaman atas dua metode ini sangat penting untuk menjawab pertanyaan 'berapa hari lagi hari raya idul adha' dengan tepat.

  1. Rukyatul Hilal (Pengamatan Langsung): Metode ini melibatkan pengamatan fisik terhadap penampakan hilal (bulan baru) setelah matahari terbenam pada tanggal 29 Dzulqa'dah. Jika hilal terlihat, bulan baru (Dzulhijjah) dimulai keesokan harinya. Jika hilal tidak terlihat, bulan Dzulqa'dah digenapkan menjadi 30 hari (Istikmal).
  2. Hisab (Perhitungan Astronomi): Metode ini menggunakan perhitungan matematis dan astronomi untuk memprediksi posisi bulan dan matahari. Meskipun akurat, Hisab sering digunakan sebagai alat bantu prediksi, sementara Rukyatul Hilal sering dianggap sebagai penentu formal yang sesuai dengan tradisi kenabian.

Pemerintah melalui Kementerian Agama biasanya mengadakan Sidang Isbat untuk menyatukan hasil Rukyat dan Hisab, menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah, dan secara otomatis menetapkan Hari Raya Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah. Setelah 1 Dzulhijjah ditetapkan, maka perhitungan hari menuju Idul Adha menjadi sangat pasti, hanya tinggal menghitung mundur sembilan hari kalender dari tanggal penetapan tersebut.

1.2. Hari-Hari Krusial Sebelum Idul Adha

Begitu bulan Dzulhijjah dimulai, fokus beralih pada sembilan hari pertama yang penuh kemuliaan. Hari-hari ini bukan hanya sekadar hitungan mundur fisik, melainkan penekanan pada persiapan spiritual yang intensif.

2. Antusiasme Spiritual: Makna Mendalam Hari Raya Kurban

Di balik perhitungan tanggal, terletak makna spiritual yang jauh lebih besar. Idul Adha adalah perayaan pengorbanan, kepatuhan total, dan pembagian rezeki. Memahami makna ini membantu kita mengisi hari-hari hitungan mundur dengan ibadah yang lebih khusyuk.

2.1. Refleksi Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail

Inti dari Hari Raya Kurban adalah mengenang kepatuhan luar biasa Nabi Ibrahim AS terhadap perintah Allah untuk mengurbankan putra kesayangannya, Ismail AS. Kisah ini adalah lambang tertinggi dari ketaatan tanpa syarat. Allah menguji Ibrahim, bukan untuk melihat apakah ia akan menyembelih putranya, melainkan untuk menguji seberapa besar cintanya kepada Penciptanya melebihi harta atau keluarga. Ismail yang dengan lapang dada menerima takdir tersebut juga menunjukkan keteladanan kepasrahan yang sempurna.

Ketika Ibrahim menunjukkan kesiapan dan ketulusan niatnya, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba jantan yang besar. Peristiwa ini mengajarkan bahwa pengorbanan yang dituntut dari kita hari ini mungkin bukan lagi berupa darah atau nyawa, melainkan pengorbanan atas ego, harta benda, waktu, dan segala sesuatu yang kita cintai demi mendapatkan keridhaan Allah SWT.

2.2. Kaitan Erat dengan Ibadah Haji

Idul Adha sering disebut juga sebagai Hari Raya Haji karena bertepatan dengan rangkaian puncak ibadah haji, khususnya Wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah. Ketika kita di rumah bertanya 'berapa hari lagi Idul Adha', jamaah haji di Tanah Suci sedang menghitung jam menuju ritual-ritual terpenting mereka:

Keterkaitan ini menyatukan umat Islam global. Meskipun kita mungkin berada ribuan kilometer dari Ka'bah, ibadah dan pengorbanan kita di Hari Raya Idul Adha adalah cerminan langsung dari ritual yang dilakukan oleh jutaan jamaah haji, menciptakan sebuah ikatan spiritualitas yang tak terpisahkan.

3. Detil Fiqh: Panduan Lengkap Ibadah Kurban

Setelah mengetahui 'berapa hari lagi Idul Adha', langkah berikutnya adalah mempersiapkan pelaksanaan Kurban. Pelaksanaan kurban memiliki ketentuan fiqh yang detail, memastikan ibadah tersebut sah dan diterima di sisi Allah SWT.

Siluet hewan kurban, melambangkan pelaksanaan ritual penyembelihan.

3.1. Syarat-Syarat Hewan Kurban yang Sah

Pemilihan hewan kurban adalah hal yang fundamental. Syarat-syarat ini harus dipenuhi secara ketat, mencerminkan penghormatan kita terhadap ibadah dan kualitas persembahan terbaik kepada Allah SWT. Jika kita sudah tahu berapa hari lagi Idul Adha, kita memiliki cukup waktu untuk memastikan hewan yang dipilih memenuhi kriteria berikut:

3.1.1. Jenis dan Batasan Usia (Sinnul Udhhiyah)

  1. Domba (Dha'n): Minimal berumur 6 bulan atau telah berganti gigi (Jadza').
  2. Kambing (Ma'iz): Minimal berumur 1 tahun dan telah masuk tahun kedua (Tsaniyah).
  3. Sapi atau Kerbau: Minimal berumur 2 tahun dan telah masuk tahun ketiga.
  4. Unta: Minimal berumur 5 tahun dan telah masuk tahun keenam.

Penting dicatat, satu ekor kambing atau domba hanya sah untuk satu orang pekurban, sedangkan seekor sapi, kerbau, atau unta dapat dibagi untuk tujuh orang pekurban (patungan). Ketentuan ini harus menjadi pertimbangan utama saat menghitung anggaran dan mengorganisir pelaksanaan kurban.

3.1.2. Kesehatan dan Bebas Cacat

Hewan harus dalam kondisi prima dan bebas dari cacat yang signifikan. Cacat yang membatalkan sahnya kurban meliputi:

Penyediaan hewan yang sehat menunjukkan kesungguhan seorang hamba dalam beribadah, mempersembahkan yang terbaik, dan memastikan daging yang dibagikan layak dan berkualitas.

3.2. Waktu Pelaksanaan Kurban

Kurban memiliki batas waktu yang ketat. Jika Idul Adha telah ditetapkan, maka ibadah ini harus dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan.

  1. Awal Waktu: Setelah selesainya Salat Idul Adha dan Khutbah. Menyembelih sebelum Salat Ied hukumnya adalah sedekah biasa, bukan kurban.
  2. Akhir Waktu: Terbenamnya matahari pada Hari Tasyriq terakhir, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah. Jadi, penyembelihan dapat dilakukan pada tanggal 10, 11, 12, atau 13 Dzulhijjah.

Mengatur jadwal penyembelihan secara efisien dalam rentang waktu ini, terutama jika jumlah hewan kurban banyak, membutuhkan koordinasi panitia yang matang, yang harus dipersiapkan jauh sebelum kita mengetahui 'berapa hari lagi' tanggal tersebut tiba.

4. Tata Cara Pelaksanaan Salat Idul Adha

Perayaan Idul Adha dimulai dengan pelaksanaan Salat Sunnah Idul Adha secara berjamaah. Salat ini adalah penanda dimulainya hari besar dan menjadi syarat sahnya ibadah kurban.

4.1. Sunnah Sebelum Salat Ied

Beberapa sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan saat kita bangun di hari Idul Adha, setelah melewati hitungan mundur yang panjang:

4.2. Pelaksanaan Salat

Salat Idul Adha dilaksanakan sebanyak dua rakaat tanpa didahului azan dan iqamah. Ciri khasnya adalah adanya takbir tambahan:

  1. Rakaat Pertama: Takbiratul Ihram, kemudian dilanjutkan dengan 7 kali takbir tambahan sebelum membaca Al-Fatihah.
  2. Rakaat Kedua: Setelah bangkit dari sujud, dilakukan 5 kali takbir tambahan sebelum membaca Al-Fatihah.

Setelah salat, diwajibkan mendengarkan Khutbah Idul Adha. Khutbah ini seringkali fokus pada sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim, makna haji, dan tuntunan pelaksanaan kurban.

5. Persiapan Jangka Panjang: Mengelola Hari-Hari Sebelum Kurban

Mengetahui 'berapa hari lagi hari raya idul adha' adalah kunci untuk mengelola persiapan spiritual dan praktis. Persiapan ini harus dimulai sejak awal Dzulhijjah, bahkan sejak jauh sebelumnya.

5.1. Persiapan Finansial dan Niat

Ibadah kurban adalah ibadah yang berkaitan erat dengan kemampuan finansial (istitha'ah). Bagi yang berniat berkurban, persiapan finansial harus dilakukan sedini mungkin. Kurban adalah amalan yang sangat ditekankan (Sunnah Muakkadah) bagi yang mampu.

5.2. Larangan Memotong Rambut dan Kuku

Bagi seseorang yang telah berniat kurban, terdapat sunnah yang dianjurkan (menurut mayoritas ulama Syafi'i dan Hanbali) untuk tidak memotong rambut dan kuku sejak masuknya tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih. Larangan ini adalah bentuk pengorbanan kecil dan solidaritas dengan jamaah haji yang sedang berihram. Ini adalah salah satu penanda spiritual bahwa hitungan mundur menuju hari besar telah dimulai.

Jika seseorang bertanya kepada Anda 'berapa hari lagi Idul Adha', jawabannya tidak hanya berupa angka, tetapi juga pengingat akan larangan ini: "Sisa N hari lagi, dan ingatlah, kita sudah masuk masa menahan diri dari memotong rambut dan kuku."

5.3. Memaksimalkan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah

Sepuluh hari pertama Dzulhijjah (sebelum 10 Dzulhijjah) adalah periode waktu yang paling dicintai Allah untuk beramal saleh. Amalan yang dilakukan pada hari-hari ini memiliki pahala yang berlipat ganda, bahkan melebihi jihad di medan perang (kecuali jihad dengan harta dan jiwa yang tidak kembali).

Oleh karena itu, persiapan terbaik saat menghitung hari menuju Idul Adha meliputi peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah harian:

  1. Puasa Sunnah: Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) wajib dimasukkan dalam agenda persiapan spiritual.
  2. Dzikir dan Takbir: Memperbanyak Tahlil (Laa Ilaaha Illallah), Tahmid (Alhamdulillah), dan Takbir (Allahu Akbar). Takbir ini sifatnya mutlak (kapan saja) sebelum memasuki hari Tasyriq.
  3. Tilawah Al-Qur'an: Menyelesaikan bacaan atau memperbanyak tadarus Al-Qur'an.
  4. Sedekah: Mengintensifkan sedekah selain kurban, membantu fakir miskin yang mungkin tidak menerima bagian kurban.

6. Hari-Hari Tasyriq: Perpanjangan Ibadah dan Kegembiraan

Idul Adha tidak berakhir setelah Salat Ied dan penyembelihan hewan kurban pada 10 Dzulhijjah. Perayaan ini berlanjut selama tiga hari berikutnya, yang dikenal sebagai Hari-Hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Memahami Tasyriq adalah bagian integral dalam menjawab pertanyaan tentang 'berapa hari lagi' perayaan ini berakhir.

6.1. Larangan Berpuasa

Hari-Hari Tasyriq adalah hari raya bagi umat Islam. Terdapat larangan tegas untuk berpuasa sunnah maupun wajib pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Rasulullah SAW menyebut hari-hari ini sebagai hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah.

6.2. Kewajiban Takbir Muqayyad

Takbir Muqayyad adalah takbir yang terikat pada waktu setelah salat fardhu. Takbir ini dimulai sejak Subuh Hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan berakhir pada Ashar Hari Tasyriq terakhir (13 Dzulhijjah). Ini adalah periode yang luar biasa panjang di mana umat Islam dianjurkan terus mengagungkan Allah setelah setiap salat wajib, menandakan semangat Idul Adha yang meluas.

Selama hari-hari Tasyriq, selain menikmati hidangan kurban, umat Islam disunnahkan untuk tetap memperbanyak ibadah, silaturahmi, dan bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.

7. Etika Distribusi Daging Kurban: Memastikan Keadilan Sosial

Filosofi utama kurban adalah berbagi dan menghilangkan kesenjangan sosial, setidaknya pada hari raya. Distribusi daging kurban harus dilakukan dengan etika yang benar sesuai syariat, memastikan ibadah ini mencapai tujuan utamanya.

7.1. Pembagian Daging Kurban

Para ulama sepakat bahwa daging kurban disunnahkan untuk dibagi menjadi tiga bagian, meskipun pembagian ini tidak bersifat wajib secara mutlak:

  1. Sepertiga untuk Shahibul Kurban (Pekurban): Pekurban diperbolehkan mengambil bagian daging kurban untuk dimakan bersama keluarga. Namun, jika kurban dilakukan atas nama nadzar (janji), seluruh daging harus disedekahkan.
  2. Sepertiga untuk Sedekah (Fakir Miskin): Bagian ini wajib diberikan kepada mereka yang membutuhkan, memastikan asas keadilan terpenuhi.
  3. Sepertiga untuk Hadiah (Kerabat dan Tetangga): Diberikan kepada kerabat, tetangga, atau teman-teman, baik mereka kaya maupun miskin.

7.2. Larangan Menjual Bagian Kurban

Diharamkan bagi pekurban maupun panitia untuk menjual bagian apapun dari hewan kurban, termasuk kulit, tanduk, atau bagian lainnya. Semua bagian hewan kurban adalah sedekah. Demikian pula, dilarang memberikan upah penyembelih dari bagian kurban. Jika penyembelih adalah orang yang layak menerima daging sedekah, ia boleh diberikan bagian sedekah, tetapi bukan sebagai imbalan atas pekerjaannya.

8. Studi Kasus dan Refleksi Filosofis Idul Adha

Untuk memahami sepenuhnya urgensi dan kedalaman Idul Adha, kita perlu merenungkan bagaimana konsep pengorbanan diterapkan dalam kehidupan modern, jauh setelah pertanyaan 'berapa hari lagi' terjawab.

8.1. Mengurbankan Hawa Nafsu di Era Modern

Pengorbanan Ibrahim atas putranya adalah bentuk pengorbanan tertinggi. Di masa kini, tantangan utama kita seringkali adalah mengurbankan hawa nafsu dan kecintaan berlebihan terhadap duniawi. Ini bisa berupa:

Setiap tahun ketika Idul Adha tiba, kita diingatkan bahwa kurban harta adalah manifestasi luar dari kurban batin, yaitu kurban atas segala ikatan yang menghalangi kita mencapai kedekatan sejati dengan Allah.

8.2. Idul Adha sebagai Simbol Persatuan Umat

>

Dalam skala global, Idul Adha adalah hari di mana perbedaan geografis dan sosial hilang. Jutaan orang berpakaian ihram yang sama, memakan daging kurban yang sama, dan mengucapkan takbir yang sama. Ini adalah simbol persatuan yang tak tertandingi.

Melalui proses distribusi kurban, kekayaan yang terpusat didistribusikan ke lapisan masyarakat paling bawah. Orang yang mampu melakukan kurban menyadari bahwa hartanya adalah titipan, dan kurban menjadi jembatan antara yang kaya dan yang miskin, memperkuat tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiah.

9. Detail Tata Cara dan Hukum Qurban Lanjutan

Karena pentingnya ibadah Qurban, perlu diuraikan lebih lanjut mengenai aspek-aspek fiqh yang sering menjadi pertanyaan umat Islam, terutama bagi panitia kurban yang bertanggung jawab atas kesahihan ibadah ini. Pengetahuan ini menjadi bekal penting saat hitungan hari menuju Idul Adha semakin mendekat.

9.1. Hukum Kurban Patungan (Iuran)

Seperti yang telah disinggung, kurban sapi, kerbau, atau unta diperbolehkan patungan maksimal tujuh orang. Namun, penting untuk dipahami bahwa niat dari setiap orang yang patungan haruslah sama, yaitu niat kurban (taqarrub ilallah), bukan sekadar niat mendapatkan daging. Jika ada peserta patungan yang hanya berniat untuk mendapatkan daging secara murah, maka kurban dari seluruh kelompok tersebut dapat menjadi tidak sah.

Sementara itu, patungan untuk kurban kambing atau domba tidak diperbolehkan, sebab satu kambing hanya sah untuk satu jiwa. Namun, satu kambing boleh diniatkan untuk satu orang dan seluruh keluarganya yang tinggal serumah dan dinafkahinya (kurban atas nama keluarga).

9.2. Pembagian Tugas Panitia Kurban

Ketika Idul Adha semakin dekat, panitia memiliki tanggung jawab besar. Kelancaran pelaksanaan ibadah ini sangat bergantung pada tata kelola yang baik. Panitia perlu memastikan:

  1. Pendataan Pekurban: Mencatat nama-nama pekurban, niat, dan alokasi hewan secara jelas.
  2. Pengecekan Hewan: Memastikan semua hewan telah memenuhi syarat usia dan kesehatan (biasanya melibatkan dokter hewan atau ahli syariat).
  3. Logistik Penyembelihan: Menyiapkan tempat, peralatan tajam (harus sangat tajam untuk mengurangi rasa sakit hewan), dan proses penanganan hewan sesuai syariat.
  4. Pendistribusian: Membuat daftar penerima daging (fakir, miskin, panitia, hadiah) dan memastikan pembagiannya adil dan merata, terutama di daerah yang kesulitan mengakses daging.

Pekerjaan panitia kurban adalah amal jariyah yang luar biasa, membantu ratusan orang menunaikan ibadah wajib dan sunnah mereka.

9.3. Pembersihan Daging dan Pengolahan

Aspek kebersihan (higiene) dalam penanganan daging kurban kini menjadi perhatian penting. Proses penyembelihan harus diikuti dengan pembersihan dan pemotongan yang higienis. Ini termasuk menggunakan alas bersih, air mengalir untuk membersihkan jeroan, dan menjaga agar daging tidak terkontaminasi oleh darah atau kotoran. Penanganan yang baik tidak hanya menjamin kualitas daging yang didistribusikan, tetapi juga mencerminkan sikap profesionalisme dan kesungguhan dalam beribadah.

10. Perbandingan Puasa Sunnah: Arafah vs. Tarwiyah

Ketika kita menghitung 'berapa hari lagi hari raya idul adha', dua hari yang paling menonjol adalah Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah. Meskipun keduanya sunnah, keutamaannya sangatlah besar dan berbeda.

10.1. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)

Puasa Tarwiyah disunnahkan untuk dilaksanakan pada hari kedelapan Dzulhijjah. Kata 'Tarwiyah' berarti merenungkan atau berpikir. Dinamakan demikian karena pada hari ini, Nabi Ibrahim mulai merenungkan makna mimpinya yang memerintahkan beliau menyembelih putranya. Keutamaan puasa Tarwiyah adalah menghapus dosa-dosa setahun yang lalu. Puasa ini merupakan pemanasan spiritual sebelum puncak puasa Arafah.

10.2. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)

Puasa Arafah jatuh pada hari kesembilan Dzulhijjah, bertepatan dengan ritual Wukuf yang dilakukan jamaah haji. Keutamaan puasa ini jauh lebih besar: menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Puasa Arafah adalah hadiah besar dari Allah bagi umat Islam yang tidak mampu menunaikan ibadah haji, memungkinkan mereka turut merasakan spiritualitas hari puncak haji. Tidak berpuasa pada hari Arafah dianggap sebagai kerugian spiritual yang besar.

Penting ditekankan bahwa Puasa Arafah harus dilaksanakan bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah yang ditetapkan oleh otoritas keagamaan di wilayah setempat, yang seringkali bergantung pada penetapan 1 Dzulhijjah oleh pemerintah.

11. Memperkuat Silaturahmi: Tradisi Sosial Idul Adha

Hari Raya Idul Adha adalah waktu yang sangat baik untuk memperkuat hubungan sosial. Meskipun fokus utamanya adalah ibadah kurban, aspek hablum minannas (hubungan antar manusia) harus dipertahankan dan ditingkatkan.

11.1. Menjenguk dan Berbagi

Mengunjungi kerabat, tetangga, dan teman-teman setelah Salat Ied adalah tradisi yang sangat dianjurkan. Selain memohon maaf (yang lebih identik dengan Idul Fitri), Idul Adha adalah waktu untuk berbagi kebahagiaan. Bagian kurban yang dialokasikan untuk hadiah (sepertiga) menjadi sarana efektif untuk mempererat tali persaudaraan. Membawa hidangan dari daging kurban kepada tetangga yang mungkin tidak berkurban adalah tindakan kebaikan yang luar biasa.

11.2. Peran Idul Adha dalam Pendidikan Anak

Saat menghitung 'berapa hari lagi Idul Adha', orang tua memiliki kesempatan emas untuk menanamkan nilai-nilai pengorbanan kepada anak-anak. Melibatkan anak dalam persiapan kurban (misalnya, menabung, memilih hewan kurban, atau membantu proses pengepakan daging) mengajarkan mereka tentang tanggung jawab, empati, dan makna berbagi yang sesungguhnya. Anak-anak belajar bahwa ibadah tidak selalu bersifat ritual murni, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi.

12. Refleksi Akhir: Menuju Hari Kemenangan Sejati

Pada akhirnya, seluruh proses—dari menantikan hasil Sidang Isbat, menghitung berapa hari lagi, mempersiapkan diri dengan Puasa Arafah, hingga menunaikan kurban—adalah perjalanan menuju kemenangan sejati. Kemenangan ini bukanlah kemenangan atas musuh, melainkan kemenangan atas hawa nafsu dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Idul Adha mengingatkan kita bahwa hidup ini adalah serangkaian pengorbanan yang berkelanjutan. Ketika kita mampu melepaskan sebagian harta, waktu, dan ego kita demi perintah Allah, saat itulah kita meneladani Ibrahim AS dan berhak mendapatkan keridhaan-Nya. Semoga setiap hitungan hari menuju Idul Adha kita isi dengan amal kebaikan yang berlipat ganda, menjadikan kita hamba yang semakin bertakwa.

Ilustrasi refleksi dan doa, melambangkan spiritualitas dan introspeksi.

13. Kedalaman Hukum Fiqh Tambahan: Menyempurnakan Kurban

Untuk memastikan ibadah kurban dilaksanakan secara sempurna, penting untuk menggali beberapa aspek hukum fiqh yang mungkin terlewatkan dalam pembahasan umum. Pemahaman mendalam ini memastikan bahwa setiap langkah persiapan, dari perhitungan hari hingga pelaksanaan, sesuai dengan syariat.

13.1. Status Kurban yang Hilang atau Mati

Jika seseorang telah membeli hewan kurban dan meniatkannya secara spesifik (misalnya, menunjuk kambing A sebagai kurban wajibnya atau kurban sunnahnya), dan hewan tersebut kemudian hilang atau mati sebelum disembelih, bagaimana hukumnya?

Sebaliknya, jika hewan kurban yang sudah dibeli melahirkan anak sebelum disembelih, maka anak hewan tersebut juga wajib disembelih bersama induknya sebagai bagian dari kurban, dan dagingnya dibagikan.

13.2. Hukum Memakan Bagian Kurban bagi Pekurban

Sebagian besar ulama membolehkan, bahkan menyunnahkan, agar pekurban memakan sedikit dari daging kurban yang ia lakukan. Hal ini didasarkan pada ayat Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW. Tujuannya adalah merasakan berkah dari ibadah yang telah ditunaikan. Disunnahkan memakan hati hewan kurban sebagai bagian pertama yang disantap.

Namun, jika seseorang berkurban karena nazar (kurban wajib), ia dan anggota keluarganya tidak diperbolehkan memakan sedikit pun dari daging tersebut; seluruhnya harus disedekahkan kepada fakir miskin. Hal ini menjadi pembeda penting dalam manajemen distribusi daging kurban.

13.3. Pelaksanaan Kurban di Luar Negeri (Kurban Online)

Seiring kemajuan teknologi, banyak umat Islam yang menanyakan 'berapa hari lagi' sambil merencanakan kurban melalui lembaga atau platform online, seringkali dilakukan di negara-negara yang lebih membutuhkan. Menurut syariat, kurban sah dilakukan di mana pun, asalkan memenuhi syarat penyembelihan yang Islami (penyembelihan dilakukan oleh Muslim, menyebut nama Allah, dan dilakukan pada waktu yang sah, yaitu pada hari Idul Adha dan Hari Tasyriq di lokasi penyembelihan).

Hal terpenting dalam kurban online adalah memastikan transparansi lembaga pelaksana dan keyakinan bahwa seluruh prosedur syar'i telah dipenuhi, termasuk niat pekurban dan distribusi daging.

14. Hikmah dan Keutamaan Hari Tasyriq yang Berkelanjutan

Perluasan fokus dari 10 Dzulhijjah ke Hari-Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah pengingat bahwa kegembiraan dan ketaatan tidak boleh terputus. Hari-Hari Tasyriq adalah masa penguatan iman.

14.1. Zikir yang Dikhususkan

Selain Takbir Muqayyad, umat Islam disunnahkan memperbanyak zikir secara umum. Zikir pada hari Tasyriq termasuk membaca basmalah dan takbir saat menyembelih (jika masih ada kurban yang disembelih) serta mengucapkan doa-doa yang agung.

Hari-hari ini juga menjadi waktu bagi jamaah haji untuk menyelesaikan ritual Lempar Jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah) di Mina. Setiap lemparan jumrah diiringi takbir, yang menandakan bahwa seluruh kegiatan selama Tasyriq adalah bentuk penghambaan dan pengagungan terhadap Allah SWT.

14.2. Makan dan Minum Sebagai Ibadah

Sifat Hari Tasyriq sebagai hari makan dan minum menekankan bahwa Islam mengakui kebutuhan manusia akan kegembiraan yang halal. Kegembiraan ini diwujudkan dengan menyantap makanan yang diperoleh dari berkah kurban, sambil tetap mengingat Allah (berzikir). Hal ini mengajarkan keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual. Makan dan minum menjadi ibadah ketika diniatkan untuk mendapatkan energi guna melanjutkan ketaatan.

Ketika kita menghabiskan Hari Tasyriq dengan berkumpul bersama keluarga, menyantap hidangan kurban, kita sedang menunaikan sunnah Nabi SAW dan menjaga semangat perayaan tetap hidup, bahkan setelah kurban selesai disembelih.

15. Memaksimalkan Peluang Amal Saleh di Sepuluh Hari Dzulhijjah

Karena keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah begitu besar, mari kita telaah lebih rinci bagaimana memanfaatkan waktu ini semaksimal mungkin, menjawab pertanyaan 'berapa hari lagi' dengan strategi spiritual.

15.1. Qiyamul Lail (Shalat Malam)

Pahala shalat malam di sepuluh malam Dzulhijjah dilaporkan setara dengan shalat malam di malam Lailatul Qadar. Mengingat malam Idul Adha (malam 10 Dzulhijjah) juga merupakan malam yang mulia, meningkatkan intensitas Qiyamul Lail pada periode ini adalah investasi spiritual terbaik.

15.2. Istighfar dan Taubat

Dosa-dosa yang terhapus melalui Puasa Arafah didahului oleh Taubat (penyesalan dan janji untuk tidak mengulangi). Sepuluh hari Dzulhijjah harus menjadi masa introspeksi intensif, memohon ampunan, dan membersihkan hati dari segala bentuk penyakit spiritual.

15.3. Sedekah Non-Daging

Meskipun kurban adalah sedekah daging yang luar biasa, memperbanyak sedekah dalam bentuk lain (uang, pakaian, waktu, bantuan tenaga) pada sepuluh hari ini akan melipatgandakan pahala. Sedekah pada waktu yang mulia menunjukkan ketaatan yang menyeluruh, baik dalam ibadah ritual (puasa, salat) maupun ibadah sosial (sedekah, kurban).

Kesimpulannya, setiap kali pertanyaan ‘berapa hari lagi hari raya idul adha’ muncul, itu adalah panggilan untuk segera bergegas dalam kebaikan. Ini adalah undangan ilahi untuk mempersiapkan hati, harta, dan waktu kita demi mencapai tingkatan takwa yang lebih tinggi, meneladani ketulusan Nabi Ibrahim dan kepasrahan Nabi Ismail, serta berbagi kebahagiaan dengan seluruh umat manusia.

🏠 Homepage