Surah Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali pedoman hidup, terutama mengenai hukum, etika, dan hubungan antarmanusia. Salah satu ayat yang sangat fundamental dalam etika sosial dan keimanan adalah ayat ke-35.
"Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan) untuk mendekati-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu memperoleh keberuntungan." (QS. Al-Maidah: 35)
Ayat ini adalah sebuah komando Ilahi yang menggarisbawahi tiga komponen esensial bagi setiap Muslim yang mendambakan keberhasilan sejati (falah) di dunia dan akhirat. Ayat ini mengandung seruan langsung kepada orang-orang yang telah menyatakan keimanan mereka, menegaskan bahwa iman saja tidak cukup tanpa diiringi tindakan nyata.
Inti dari seluruh ajaran Islam adalah takwa. Secara harfiah, takwa berarti menjaga diri. Dalam konteks Surah Al-Maidah Ayat 35, ini adalah fondasi. Bertakwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sadar sepenuhnya bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik kita. Tanpa landasan ketakwaan ini, usaha-usaha lain akan mudah goyah.
Kata "Wasilah" seringkali menjadi pembahasan mendalam di kalangan ulama. Wasilah secara umum diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Ini mencakup ibadah mahdhah (sholat, puasa, zakat), ibadah sosial (berbuat baik kepada sesama), hingga amal shaleh yang ikhlas. Ayat ini mendorong umat Islam untuk aktif mencari sarana menuju keridhaan Ilahi, bukan hanya pasif menunggu rahmat turun. Ini adalah upaya proaktif seorang hamba.
Jihad dalam Islam memiliki spektrum makna yang luas, jauh melampaui konotasi perang fisik semata. Dalam ayat ini, jihad diartikan sebagai perjuangan sungguh-sungguh di jalan Allah. Ini meliputi:
Pesan dari Surah Al-Maidah Ayat 35 sangat relevan di zaman modern. Di tengah distraksi duniawi yang tak terbatas, ayat ini mengingatkan kita bahwa tujuan akhir seorang mukmin bukanlah kekayaan materi atau popularitas, melainkan "Falah"—keberuntungan abadi. Falah dicapai bukan melalui jalan pintas, melainkan melalui ketekunan dalam takwa, inovasi dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta (wasilah), dan kegigihan dalam membela prinsip-prinsip kebaikan (jihad).
Ketika seorang Muslim merasa jauh dari Tuhannya atau usahanya terasa sia-sia, ia perlu merenungkan kembali apakah ia telah memenuhi tiga syarat ini. Apakah fondasi takwanya kuat? Apakah cara pendekatannya kepada Allah sudah benar? Dan apakah ia telah mengerahkan segala upayanya di jalan yang lurus? Ketiga elemen ini bekerja secara sinergis; satu sama lain saling menguatkan menuju puncak keberhasilan yang dijanjikan Allah SWT.