Cahaya Ilahi dan Kitab Suci, simbol kenabian yang menjadi panduan umat manusia sepanjang zaman.
Konsep kenabian dan kerasulan merupakan pilar fundamental dalam teologi samawi, khususnya dalam ajaran Islam. Mereka adalah mata rantai penghubung antara kehendak Ilahi dan pelaksanaan kehidupan manusia di muka bumi. Pertanyaan mengenai berapa jumlah pasti dari utusan-utusan suci ini seringkali muncul dan menjadi subjek perbincangan mendalam, melampaui sekadar angka numerik, tetapi menyentuh aspek hikmah, keadilan, dan universalitas risalah.
Pencarian jawaban atas jumlah nabi bukan hanya upaya statistik, melainkan sebuah penelusuran terhadap luasnya rahmat Allah SWT yang tak terbatas, yang memastikan bahwa tidak ada satu pun generasi atau peradaban yang ditinggalkan tanpa bimbingan dan peringatan. Jumlah nabi yang fantastis, sebagaimana disebutkan dalam literatur keagamaan, menunjukkan betapa konsistennya upaya pencerdasan spiritual dan moralitas umat manusia sejak awal penciptaan hingga penutup kenabian.
Ketika berbicara mengenai kuantitas, umat Islam merujuk pada beberapa riwayat Hadis yang secara eksplisit menyebutkan angka total nabi (Nabi) dan rasul (Rasul). Penting untuk membedakan antara Nabi dan Rasul, di mana Rasul memiliki tugas yang lebih berat, yaitu membawa syariat baru atau menguatkan syariat yang telah ada dengan tugas dakwah yang lebih luas dan menantang.
Riwayat paling masyhur yang menjadi rujukan utama adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Al-Ghifari, yang bertanya langsung kepada Rasulullah ﷺ. Dalam riwayat tersebut, dijelaskan secara rinci tentang jumlah keseluruhan utusan Allah SWT.
“Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berapa jumlah para nabi?’ Beliau menjawab, ‘Jumlah mereka adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.’ Saya bertanya lagi, ‘Berapa jumlah para rasul di antara mereka?’ Beliau menjawab, ‘Tiga ratus tiga belas (313),’ atau dalam riwayat lain disebutkan tiga ratus lima belas (315).” (Riwayat yang dicatat oleh Ibnu Hibban dan Ahmad, meskipun status sanadnya sering diperdebatkan oleh para ahli Hadis).
Berdasarkan riwayat ini, kita mendapatkan dua angka kunci:
Meskipun hadis tentang jumlah nabi ini sangat populer dan dijadikan pegangan umum, para ulama memiliki pandangan beragam mengenai otentisitas sanadnya. Sebagian ulama menganggap riwayat ini memiliki kelemahan (dha'if) dari segi rantai perawi, sementara ulama lainnya, seperti Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wan Nihayah, tetap menggunakannya sebagai referensi umum karena ketiadaan riwayat lain yang lebih sahih mengenai angka pastinya.
Prinsip akidah yang disepakati adalah bahwa wajib bagi setiap Muslim untuk mengimani bahwa Allah telah mengutus sejumlah besar Nabi dan Rasul. Namun, tidak diwajibkan untuk mengetahui atau menghafal angka pastinya. Keimanan ini dikenal sebagai I’tiqad Ijmali (keimanan secara global). Ketidakharusan mengetahui jumlah pastinya adalah bentuk keringanan, sebab mustahil bagi manusia untuk melacak dan mengumpulkan sejarah 124.000 individu.
Memahami perbedaan terminologis antara Nabi dan Rasul sangat penting untuk mengapresiasi hierarki dan fungsi mereka dalam struktur kenabian. Meskipun keduanya adalah manusia pilihan yang menerima wahyu, peran dan tanggung jawab mereka berbeda secara substansial.
Kata 'Nabi' berasal dari kata naba’ yang berarti berita atau kabar. Seorang Nabi adalah individu yang dipilih oleh Allah SWT dan menerima wahyu, namun wahyu tersebut seringkali berisi penguatan syariat yang sudah ada sebelumnya.
Kata 'Rasul' berarti utusan. Seorang Rasul memiliki tugas yang lebih universal atau revolusioner, membawa syariat baru yang menggantikan atau menyempurnakan syariat sebelumnya, dan seringkali diutus kepada kaum yang keras kepala dalam kekufuran.
Meskipun jumlah Nabi mencapai 124.000, umat Islam diwajibkan untuk mengimani secara detail hanya kepada mereka yang namanya secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an, yang berjumlah 25 orang. Pengetahuan mendalam tentang kisah mereka (Qisas al-Anbiya’) adalah bentuk pendidikan spiritual, sejarah, dan moralitas.
Kisah-kisah mereka mengandung pelajaran tak terhingga mengenai kesabaran, keimanan, keteguhan hati (istiqamah), dan berbagai cara Allah SWT berinteraksi dengan hamba-Nya. Berikut adalah uraian mendalam mengenai 25 Nabi dan Rasul tersebut, yang mana setiap kisahnya merupakan mata kuliah teologi dan sejarah peradaban.
Kisah Nabi Adam AS adalah fondasi eksistensi manusia. Ia bukan hanya Nabi pertama, tetapi juga makhluk pertama yang diciptakan dengan tangan kekuasaan Ilahi dan kepadanya ditiupkan ruh. Penciptaannya dari tanah liat (tin), penempatannya di surga, dan kesalahannya karena godaan Iblis merupakan pelajaran abadi tentang fitrah manusia: kerentanan terhadap godaan, pentingnya taubat, dan sifat dasar lupa.
Pelajarannya: Pengakuan dosa, pentingnya taubat nasuha, dan pengujian keimanan melalui pilihan bebas. Kisah Adam menetapkan preseden bahwa manusia selalu berada dalam siklus kesalahan dan permohonan ampun. Kisah ini menegaskan bahwa bahkan di antara para Nabi, sifat kemanusiaan tetap ada, tetapi yang membedakan adalah kemampuan untuk segera kembali dan memohon ampunan. Analisis mendalam mengenai dialog antara Allah, Adam, dan Iblis dalam Surat Al-Baqarah (terutama ayat 30-39) menunjukkan kompleksitas penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi. Adam AS menerima wahyu awal yang menjadi inti ajaran tauhid.
Diyakini sebagai cicit dari Adam AS. Nabi Idris dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas, tekun dalam beribadah, dan konon merupakan manusia pertama yang menulis dengan pena, menjahit pakaian, serta memiliki pengetahuan mendalam tentang astronomi dan perhitungan. Al-Qur’an memujinya sebagai sosok yang "sangat benar dan Nabi" (QS. Maryam: 56-57).
Pelajarannya: Keseimbangan antara ilmu pengetahuan (duniawi) dan spiritualitas (ukhrawi). Kisah Idris menunjukkan bahwa kenabian tidak membatasi seseorang untuk berkarya dan memajukan peradaban melalui ilmu pengetahuan. Studi mengenai riwayat tentang pengangkatannya ke tempat yang tinggi (makanan aliyan) menjadi bahan tafsir yang beragam, dari sekadar simbol kedudukan spiritual yang tinggi hingga makna harfiah diangkatnya jasadnya.
Nabi Nuh AS adalah salah satu Rasul Ulul Azmi (Rasul yang memiliki keteguhan hati luar biasa). Ia diutus kepada kaumnya yang musyrik, yang menyembah berhala. Masa dakwahnya sangat panjang, mencapai 950 tahun, sebuah durasi yang menunjukkan kesabaran tiada tara. Setelah ratusan tahun berdakwah dan hanya sedikit yang beriman, Allah memerintahkannya untuk membangun Bahtera besar.
Pelajarannya: Kesabaran yang ekstrem (sabr al-jaliil) dalam menghadapi penolakan, bahkan dari keluarga sendiri (anak dan istrinya menolak beriman). Bahtera Nuh melambangkan pemisahan antara orang-orang yang beriman dan orang-orang yang ingkar, serta kekuasaan mutlak Allah dalam menghukum dan menyelamatkan. Studi tafsir kontemporer sering mengaitkan banjir Nuh dengan konsep bencana universal atau regional dan relevansi dakwah dalam kondisi nihil harapan.
Nabi Hud diutus kepada Kaum Ad, yang dikenal sebagai kaum dengan fisik besar, kekuatan luar biasa, dan kemahiran dalam membangun menara-menara megah (disebut Iram dzaatil ‘imaad). Mereka sombong dan menolak peringatan Hud tentang bahaya menyekutukan Allah.
Pelajarannya: Bahaya kesombongan materialistik dan kekuatan fisik yang tidak disertai keimanan. Kaum Ad dihancurkan oleh angin topan yang dahsyat selama tujuh malam delapan hari, menunjukkan bahwa tidak ada kekuatan fisik yang dapat menandingi azab Ilahi. Kisah ini sering digunakan untuk menganalisis bagaimana kebanggaan peradaban dapat menjadi titik kehancuran.
Nabi Saleh AS diutus kepada Kaum Tsamud, yang tinggal di lembah Hijr (sekarang Al-Ula, Arab Saudi). Kaum Tsamud juga sombong dan meminta mukjizat yang mustahil. Mereka menantang Saleh untuk mengeluarkan seekor unta betina dari batu karang. Ketika mukjizat itu diberikan, disertai peringatan untuk tidak menyakiti unta tersebut, mereka justru melanggarnya.
Pelajarannya: Tanda-tanda kekuasaan Allah (ayat) harus dihormati. Pembunuhan unta tersebut adalah puncak dari penolakan mereka, yang berujung pada kehancuran total melalui suara keras (as-saihah). Analisis arkeologis modern sering menghubungkan Tsamud dengan situs Madain Saleh dan bagaimana peninggalan mereka menjadi bukti nyata dari azab yang ditimpakan.
Nabi Ibrahim AS adalah salah satu Rasul Ulul Azmi yang memiliki kedudukan istimewa (Khalilullah - Kekasih Allah). Ia adalah bapak dari Nabi Ismail dan Ishaq, dan leluhur bagi semua Nabi setelahnya (termasuk Musa, Isa, dan Muhammad). Perjalanannya penuh dengan pengujian, mulai dari menghancurkan berhala kaumnya, dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud, hingga ujian terberat: perintah mengurbankan putranya, Ismail.
Pelajarannya: Totalitas kepasrahan (Islam) kepada Allah SWT. Ibrahim adalah model tauhid yang murni, yang menolak penyembahan benda-benda langit dan berhala. Kisahnya adalah inti dari ibadah Haji dan Idul Adha. Analisis mendalam mengenai hijrahnya, pendirian Ka'bah, dan doa-doa yang dipanjatkannya menjadi cetak biru kehidupan spiritual bagi miliaran manusia.
Nabi Luth AS diutus kepada kaum yang melakukan praktik amoralitas seksual yang belum pernah terjadi sebelumnya (homoseksualitas). Kaum Sodom menolak peringatannya dan bahkan mengancam Luth dan para pengikutnya.
Pelajarannya: Konsekuensi dari pelanggaran batas-batas moralitas sosial. Kehancuran Kaum Sodom (dijungkirbalikkan kota mereka dan dihujani batu panas) adalah peringatan keras terhadap penyimpangan fitrah dan penolakan terhadap hukum-hukum Allah. Kisah ini sering dibahas dalam konteks keadilan sosial dan penegakan hukum Ilahi.
Putra Nabi Ibrahim dan Hajar. Ismail dikenal karena kepatuhan mutlaknya, terutama ketika ia bersedia dikurbankan oleh ayahnya, membuktikan puncak ketaatan seorang anak kepada Allah. Ia membantu ayahnya membangun kembali Ka’bah di Mekah.
Pelajarannya: Ketaatan tanpa syarat kepada perintah Ilahi. Ismail adalah leluhur Nabi Muhammad ﷺ dan mewakili garis kenabian Arab. Kisahnya adalah inti dari perayaan Idul Adha.
Putra Nabi Ibrahim dan Sarah. Ishaq adalah ayah dari Nabi Ya'qub AS. Ia menjadi pewaris kenabian dan melanjutkan ajaran tauhid di wilayah Syam (Palestina/Suriah).
Pelajarannya: Pentingnya pewarisan risalah dan kelanjutan ajaran tauhid.
Cucu Nabi Ibrahim dan putra Nabi Ishaq. Ya’qub (yang juga dikenal dengan gelar Israel) adalah ayah dari dua belas suku yang kemudian membentuk Bani Israel. Ia dikenal karena kesabarannya menghadapi kehilangan putranya, Yusuf.
Pelajarannya: Kekuatan doa dan ketahanan mental dalam menghadapi penderitaan keluarga dan perpisahan.
Kisah Nabi Yusuf AS adalah salah satu kisah kenabian yang paling detail dalam Al-Qur’an (Surah Yusuf). Kisahnya adalah epik tentang pengkhianatan saudara, jebakan kekuasaan dan nafsu, penjara, dan akhirnya kekuasaan tertinggi di Mesir. Ia dikenal karena ketampanannya dan kemampuan menafsirkan mimpi.
Pelajarannya: Bagaimana Allah dapat mengubah kejahatan menjadi kebaikan, kekuatan pengampunan, dan bagaimana kesabaran (ihsan) membuahkan hasil di dunia dan akhirat. Kisah Yusuf adalah studi psikologi manusia, politik kekuasaan, dan integritas moral.
Nabi Ayyub AS diuji dengan kehilangan harta, keluarga, dan kesehatan. Ia menderita penyakit yang sangat parah selama bertahun-tahun, namun ia tidak pernah mengeluh atau kehilangan keimanannya, hanya memohon kesembuhan dengan penuh adab kepada Allah SWT.
Pelajarannya: Ayyub adalah simbol dari kesabaran yang tertinggi (sabr) dalam menghadapi musibah. Kisahnya mengajarkan tentang pentingnya tawakkal (penyerahan diri total) dan bahwa penderitaan dapat menjadi sarana pembersihan jiwa.
Nabi Syu’aib AS diutus kepada penduduk Madyan yang terkenal curang dalam timbangan dan takaran perdagangan. Syu’aib mendakwahkan kejujuran dan tauhid.
Pelajarannya: Pentingnya integritas dalam bisnis dan keadilan ekonomi. Kaum Madyan dihancurkan oleh gempa bumi dan suara keras, menunjukkan bahwa kecurangan ekonomi memiliki konsekuensi spiritual yang parah.
Nabi Musa AS adalah salah satu Rasul Ulul Azmi, memiliki mukjizat luar biasa, dan merupakan Nabi yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an. Ia memimpin Bani Israel keluar dari perbudakan Firaun di Mesir. Ia menerima Taurat di Gunung Sinai dan berbicara langsung kepada Allah (sehingga digelari Kalimullah).
Pelajarannya: Perjuangan melawan tirani dan penindasan, pentingnya kepemimpinan yang kuat, dan ujian yang dihadapi oleh umat yang sulit diatur (Bani Israel). Kisah Musa adalah narasi utama dalam sejarah agama-agama samawi. Analisis terhadap duel Musa melawan penyihir Firaun adalah studi tentang kebenaran melawan sihir dan kepalsuan.
Nabi Harun AS adalah saudara Musa dan juru bicara (pembantu) yang diminta oleh Musa kepada Allah karena kefasihannya dalam berbicara. Ia menemani Musa dalam dakwah kepada Firaun dan memimpin Bani Israel ketika Musa naik ke Sinai.
Pelajarannya: Pentingnya dukungan dalam dakwah dan kepemimpinan kolektif. Harun menunjukkan bagaimana peran pendukung sama vitalnya dengan peran pemimpin utama.
Meskipun sedikit detail tentang kisahnya, ia dikenal karena janji dan komitmennya. Ia disebutkan dalam Al-Qur’an bersama Ayyub dan Yunus sebagai sosok yang sabar.
Pelajarannya: Pentingnya menepati janji dan kesabaran dalam melaksanakan tugas.
Nabi Dawud AS adalah seorang raja yang juga seorang Nabi. Ia terkenal karena keberaniannya mengalahkan Jalut (Goliath) dan menerima Kitab Zabur. Suaranya sangat merdu sehingga gunung-gunung dan burung-burung ikut bertasbih bersamanya.
Pelajarannya: Keseimbangan antara kekuasaan politik (kerajaan) dan spiritualitas (kenabian), serta kekuatan seni (suara merdu) sebagai bentuk ibadah.
Putra Nabi Dawud. Nabi Sulaiman AS adalah Nabi-Raja paling berkuasa, yang diberi mukjizat menguasai angin, jin, dan memahami bahasa binatang. Kerajaannya adalah puncak kekuasaan duniawi yang diberikan kepada seorang Nabi.
Pelajarannya: Pengelolaan kekuasaan yang besar dengan rasa syukur dan keadilan. Kisahnya dengan Ratu Balqis mengajarkan tentang hikmah diplomasi dan kerendahan hati di puncak kejayaan. Doanya untuk memiliki kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahnya menunjukkan permintaan spesifik yang dikabulkan oleh Allah.
Nabi Ilyas AS diutus kepada kaum Bani Israel di daerah Ba'labak yang menyembah berhala bernama Baal. Ia menghadapi penolakan keras dari kaumnya.
Pelajarannya: Ketegasan dalam menegakkan tauhid di tengah mayoritas musyrik, dan pentingnya kesabaran di hadapan kaum yang tegar dalam kesesatan.
Nabi Ilyasa’ AS adalah murid dan pengganti Nabi Ilyas, yang melanjutkan misi dakwahnya kepada Bani Israel setelah Ilyas.
Pelajarannya: Pentingnya estafet kepemimpinan spiritual dan melanjutkan perjuangan yang telah dimulai oleh pendahulu.
Nabi Yunus AS (Dzun Nun) meninggalkan kaumnya karena frustrasi atas penolakan mereka, sebelum Allah mengizinkannya. Ia ditelan ikan besar, di mana ia menyadari kesalahannya dan memanjatkan doa taubat yang terkenal: Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin.
Pelajarannya: Pentingnya sabar dan ketahanan spiritual, serta bahaya putus asa dalam berdakwah. Kisah ini juga menunjukkan betapa cepatnya Allah menerima taubat yang tulus, baik dari Nabi maupun kaum yang sempat ia tinggalkan.
Nabi Zakariya AS adalah pelayan Baitul Maqdis dan pelindung Maryam. Ia memohon kepada Allah untuk diberikan keturunan di usia senja, dan doanya dikabulkan dengan kelahiran Yahya.
Pelajarannya: Kekuatan doa yang ikhlas, dan bahwa tidak ada yang mustahil bagi kekuasaan Allah, meskipun secara biologis atau usia sudah tidak memungkinkan.
Putra Nabi Zakariya. Yahya AS dikenal karena kesalehan, kesucian, dan keberaniannya dalam menegakkan hukum Allah, bahkan jika itu harus berhadapan dengan penguasa zalim.
Pelajarannya: Keberanian dalam mempertahankan kebenaran dan pentingnya memulai kehidupan spiritual sejak usia dini. Kisahnya sering dikaitkan dengan perjuangan melawan kejahatan politik pada masanya.
Nabi Isa AS adalah salah satu Rasul Ulul Azmi. Ia lahir tanpa ayah (mukjizat), dan kepadanya diturunkan Injil. Mukjizatnya meliputi menghidupkan orang mati, menyembuhkan yang buta dan penderita kusta atas izin Allah, dan berbicara sejak bayi. Ia diangkat ke langit oleh Allah dan akan turun kembali menjelang Hari Kiamat.
Pelajarannya: Kekuasaan Allah di luar hukum alam, pentingnya keesaan (tauhid) dalam menghadapi ekstremitas teologis (Tritunggal), dan harapan akan keadilan di akhir zaman. Kisah Isa menutup garis kenabian Bani Israel.
Nabi Muhammad ﷺ adalah Rasul Ulul Azmi terakhir dan Penutup Para Nabi (Khatamun Nabiyyin). Ia diutus kepada seluruh umat manusia dan jin (universal) dan membawa syariat Al-Qur’an yang menyempurnakan semua syariat sebelumnya.
Pelajarannya: Muhammad ﷺ adalah model sempurna (uswah hasanah) dalam semua aspek kehidupan: pemimpin, ayah, suami, negarawan, dan panglima. Risalahnya adalah yang paling komprehensif, mengakhiri kebutuhan akan nabi baru. Keutamaan Nabi Muhammad ﷺ terletak pada universalitas dakwahnya dan keabadian mukjizatnya, yaitu Al-Qur’an. Kajian tentang perjuangannya di Mekah, hijrah, dan pembentukan negara di Madinah adalah studi tentang revolusi moral dan sosial terbesar dalam sejarah manusia.
Terlepas dari ketidakmampuan kita untuk mengidentifikasi dan mencatat sejarah setiap Nabi dan Rasul, angka 124.000 mengandung makna teologis dan filosofis yang mendalam. Jumlah yang sangat besar ini bukanlah kebetulan, melainkan cerminan dari Rahmat dan Keadilan Ilahi yang sempurna.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Dia tidak akan menyiksa suatu kaum sebelum mengutus seorang Rasul di tengah-tengah mereka.
“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra’: 15).
Jumlah 124.000 Nabi menunjukkan bahwa Allah memastikan setiap titik peradaban, setiap suku, setiap era, dan setiap wilayah geografis yang besar sejak Adam hingga menjelang masa Nabi Muhammad ﷺ, telah menerima peringatan (indzar) dan bimbingan (hidayah) dalam bahasa dan konteks yang sesuai bagi mereka. Ini adalah bukti nyata dari keadilan Allah, yang tidak menghukum orang-orang yang tidak pernah mendengar risalah. Jumlah yang masif ini menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi manusia di akhirat untuk berkata, “Kami tidak pernah diberi tahu.”
Kenabian yang berjumlah besar ini juga mencerminkan variasi tak terbatas dalam kebutuhan spiritual umat manusia. Ada masa ketika umat manusia membutuhkan seorang Nabi yang ahli dalam pertanian, ada masa ketika dibutuhkan Nabi yang ahli dalam astronomi (seperti Idris), dan ada masa ketika dibutuhkan Nabi-Raja (seperti Dawud dan Sulaiman).
Setiap Nabi diutus untuk mengatasi penyakit sosial dan spiritual yang spesifik pada kaumnya. Misalnya, Kaum Luth membutuhkan peringatan tentang moralitas seksual, sementara Kaum Madyan membutuhkan perbaikan integritas ekonomi.
Perbedaan signifikan antara 124.000 Nabi dan 313 Rasul menunjukkan bahwa sebagian besar utusan (Nabi) berperan sebagai penjaga. Setelah seorang Rasul besar (pembawa syariat baru) wafat, syariatnya mulai terkikis oleh zaman dan interpretasi manusia. Ribuan Nabi berikutnya diutus secara periodik untuk membersihkan syariat dari bid’ah, mengembalikan tauhid murni, dan mengingatkan umat kepada ajaran Rasul sebelumnya, tanpa harus membawa kitab baru. Mereka adalah para "restorator" spiritual.
Setelah rentetan panjang utusan ini, Allah SWT mengutus Nabi Muhammad ﷺ. Penutup kenabian ini (Khatamun Nabiyyin) menandakan bahwa syariat yang dibawanya (Islam) bersifat sempurna, universal, dan abadi.
Dalam konteks kenabian, terdapat lima Rasul yang memiliki gelar kehormatan "Ulul Azmi" (Pemilik Keteguhan Hati yang Luar Biasa). Mereka dipilih dari 313 Rasul karena cobaan dan kesulitan yang mereka hadapi jauh melebihi utusan lainnya. Mereka adalah tonggak utama dalam sejarah dakwah tauhid.
Keteguhan Nuh AS terletak pada durasi dakwahnya yang hampir satu milenium. Ia berdakwah kepada kaum yang setiap kali mendengar seruannya, mereka menutup telinga dan wajah mereka dengan pakaian.
Keteguhan Ibrahim AS terlihat dari kesiapannya meninggalkan tanah kelahirannya, dibakar hidup-hidup, dan mengurbankan putra tunggalnya. Ia menunjukkan kepatuhan yang melampaui batas kasih sayang manusiawi.
Keteguhan Musa AS terletak pada perjuangannya melawan Firaun, simbol kezaliman terbesar dalam sejarah. Ia memimpin sebuah kaum (Bani Israel) yang keras kepala dan terus menguji kesabarannya setelah pembebasan.
Keteguhan Isa AS terletak pada bagaimana ia menghadapi penolakan dan upaya pembunuhan, meskipun ia datang dengan mukjizat yang jelas. Ia berdakwah dalam kondisi minoritas dan di tengah tekanan politik Romawi dan keagamaan Yahudi.
Keteguhan Muhammad ﷺ terlihat dari penderitaan berat selama 13 tahun di Mekah, diusir, diperangi, dan memimpin sebuah revolusi spiritual dan sosial yang mengubah dunia. Ujiannya adalah ujian terbesar karena risalahnya bersifat permanen dan universal.
Meskipun jawaban numerik atas "berapa jumlah nabi" adalah seratus dua puluh empat ribu, nilai sebenarnya terletak pada pemahaman akan hikmah di balik angka tersebut. Kenabian adalah bukti kasih sayang Allah yang tak terhingga kepada makhluk-Nya, yang tidak pernah membiarkan manusia berada dalam kegelapan total tanpa lentera bimbingan.
Dari Adam hingga Muhammad ﷺ, setiap kisah kenabian adalah babak penting dalam drama besar perjuangan antara kebenaran dan kebatilan. Keimanan kita kepada 124.000 Nabi dan 313 Rasul, meskipun hanya 25 yang kita ketahui detailnya, adalah pengakuan bahwa risalah tauhid adalah satu, tunggal, dan berkesinambungan, yang puncaknya disempurnakan melalui risalah Nabi Muhammad ﷺ.
Dengan memahami sejarah kenabian ini, kita tidak hanya memperkuat akidah, tetapi juga mengambil pelajaran hidup dan moralitas yang tak lekang oleh zaman. Mereka adalah teladan kesabaran, integritas, dan pengorbanan yang menjadi pedoman abadi bagi umat manusia.