Akhlak dalam Islam adalah fondasi karakter dan perilaku manusia yang mencerminkan nilai-nilai ilahiah. Ketika dikaitkan dengan Tasawuf, akhlak ini memasuki dimensi spiritual yang lebih mendalam. Tasawuf, atau Sufisme, adalah jalan batin untuk menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs) agar mencapai kedekatan hakiki dengan Tuhan. Oleh karena itu, pembahasan mengenai pengertian akhlak tasawuf menurut para ahli menjadi krusial untuk memahami esensi praktik spiritual ini.
Secara umum, akhlak tasawuf bukanlah sekadar kepatuhan ritualistik, melainkan transformasi internal yang terwujud dalam sikap, ucapan, dan perbuatan sehari-hari. Para ahli sepakat bahwa akhlak adalah buah dari makrifat (mengenal Tuhan) dan mahabbah (cinta kepada-Nya).
Para sufi klasik meletakkan dasar pemahaman ini. Salah satu tokoh utama, Imam Al-Ghazali, dalam karyanya yang monumental, sangat menekankan bahwa tujuan utama tasawuf adalah membersihkan hati dari sifat-sifat tercela (mazmumah) seperti riya', kikir, dan hasad, lalu menumbuhkan sifat terpuji (mahmudah) seperti ikhlas, sabar, dan tawakal. Bagi Al-Ghazali, akhlak adalah manifestasi dari keadaan batin. Jika batin itu suci, maka akhlaknya akan mulia secara otomatis.
Tokoh lain, Junaid Al-Baghdadi, mendefinisikan tasawuf sebagai "berada bersama Allah sesuai dengan kehendak-Nya." Dalam konteks akhlak, ini berarti seorang salik (pejalan spiritual) harus menyelaraskan kehendak dirinya dengan kehendak Ilahi, yang terejawantahkan dalam sikap lapang dada dan penerimaan takdir (ridha).
Para ahli kontemporer sering mengaitkan akhlak tasawuf dengan pengembangan potensi tertinggi kemanusiaan. Dr. Annemarie Schimmel, seorang orientalis terkemuka, melihat akhlak tasawuf sebagai etika yang lahir dari pengalaman mistis. Ketika seseorang merasakan persatuan atau keintiman dengan Realitas Mutlak (Tuhan), maka ego individu menjadi luluh, dan yang tersisa adalah kasih sayang universal dan keramahan sejati terhadap sesama makhluk.
Sementara itu, perspektif dari sudut pandang psikologi spiritual menekankan proses tazkiyatun nafs. Akhlak tasawuf adalah hasil dari 'pembersihan' lapisan-lapisan ego. Misalnya, sifat jujur (sidq) bukan hanya tentang tidak berbohong, tetapi tentang kesesuaian total antara apa yang dirasakan hati, diucapkan lisan, dan dilakukan anggota badan. Ini adalah realisasi totalitas diri yang sejalan dengan nilai-nilai ilahiah.
Apa yang membedakan akhlak tasawuf dari etika sosial atau akhlak Islam normatif? Jawabannya terletak pada motivasi dan kedalaman pelaksanaannya.
Kesimpulannya, pengertian akhlak tasawuf menurut para ahli adalah puncak dari perjalanan spiritual; ia adalah kesempurnaan karakter yang muncul bukan karena paksaan aturan, melainkan karena penyucian hati yang intensif, menjadikan kebaikan sebagai watak alami seorang hamba yang sedang berjalan menuju keintiman dengan Pencipta. Ini adalah perpaduan antara ketaatan syariat, kejernihan hakikat, dan keindahan budi pekerti.