Hijrah, dalam konteks spiritual, bukanlah sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah sebuah revolusi batin, sebuah lompatan besar dalam kualitas keimanan dan ketaatan seorang hamba kepada Rabb-nya. Mengapa kita harus berhijrah? Jawabannya sederhana namun mendalam: karena Allah.
Ketika niat hijrah kita murni tersemat hanya untuk mencari ridha-Nya, maka setiap langkah yang diambil—sekecil apapun—akan menjadi ibadah yang dicatat sebagai pahala. Hijrah karena Allah berarti meninggalkan hal-hal yang menghalangi kedekatan kita dengan-Nya, baik itu kebiasaan buruk, lingkungan yang destruktif, maupun pola pikir yang menjauhkan dari kebenaran.
Memahami Makna Hijrah yang Hakiki
Secara historis, hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah adalah titik balik peradaban. Namun, umat Islam di masa kini juga dianjurkan untuk melakukan hijrah kontemporer. Hijrah modern ini bisa berarti berpindah dari komunitas yang lalai menuju komunitas yang religius, meninggalkan pekerjaan yang haram menuju mencari rezeki yang halal, atau melepaskan gaya hidup konsumtif menuju hidup yang lebih sederhana dan bersyukur.
Inti dari hijrah ini adalah proses pemurnian diri. Sebagaimana firman Allah yang seringkali menjadi pengingat, "Dan barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia menemui ajal (sebelum sampai), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah." (QS. An-Nisa: 100). Ayat ini menekankan bahwa niat adalah segalanya. Allah melihat kesungguhan hati kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan-Nya.
Ilustrasi: Niat untuk melangkah menuju ketaatan.
Ujian di Tengah Perjalanan Hijrah
Hijrah tidaklah mudah. Ketika kita memutuskan untuk berubah menjadi lebih baik, dunia seringkali menguji kesungguhan kita. Lingkungan lama mungkin terasa memanggil, godaan kemaksiatan kembali datang, atau bahkan muncul rasa asing di tengah-tengah orang-orang yang dulunya dekat. Inilah fase kritis. Seringkali, orang yang gagal dalam hijrah adalah mereka yang menjadikannya hanya sebagai tren sesaat, bukan komitmen seumur hidup.
Ingatlah bahwa setiap kesulitan yang kita temui saat taat adalah penyempurna derajat kita di sisi Allah. Jika hijrah dilakukan karena manusia (ingin dipuji), maka ketika pujian itu hilang, semangat kita akan runtuh. Namun, jika motivasinya adalah Allah, maka bahkan dalam sunyi dan tantangan, kita tetap teguh, karena kita tahu bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Memberi Balasan.
Dampak Positif Hijrah Karena Allah
Ketika hijrah didasari oleh ketulusan kepada Sang Pencipta, dampaknya akan terasa di seluruh aspek kehidupan. Pertama, ketenangan batin (sakinah) akan meliputi hati, karena beban dosa mulai terangkat. Kedua, rezeki seringkali menjadi lebih berkah, meskipun kuantitasnya mungkin terlihat sama atau bahkan berkurang di awal, namun keberkahannya melimpah. Ketiga, persaudaraan yang terbentuk dalam jalur ketaatan ini adalah persaudaraan yang sejati, yang terikat oleh tali tauhid, bukan sekadar kepentingan duniawi.
Berhijrahlah secara total. Jangan setengah-setengah. Istilahnya, tinggalkan yang lama dengan mantap dan sambut yang baru dengan penuh harap. Tidak peduli seberapa jauh jarak yang harus ditempuh, baik jarak geografis maupun jarak mental dari masa lalu yang kelam, selama niatnya adalah untuk Allah, maka kemenangan hakiki sedang menanti di ujung perjalanan.
Jadikanlah setiap hari sebagai momentum untuk berhijrah lagi, meningkatkan kualitas iman satu level demi satu level. Karena hijrah sejati adalah perjalanan tanpa henti menuju kesempurnaan di mata Sang Khaliq. Mari kita teguhkan janji: "Ya Allah, jadikanlah seluruh gerak dan diam kami semata-mata karena Engkau."