Ilustrasi visualisasi jalan yang lurus dan keberkahan.
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, memuat banyak sekali pelajaran mendalam mengenai akidah, etika sosial, dan prinsip-prinsip kehidupan yang adil. Di antara ayat-ayat penting dalam surat ini, rentetan ayat 9 hingga 15 menawarkan panduan komprehensif tentang hasil dari ketaatan dan konsekuensi dari kemaksiatan.
Ayat 9 membuka pembahasan ini dengan janji yang sangat menggembirakan:
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan memberikan berita gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar."
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk menuju jalan yang paling tegak dan benar. Bagi mereka yang beriman dan mengamalkan amal saleh, janji Allah adalah ganjaran yang agung. Ini menekankan bahwa iman harus dibuktikan dengan tindakan nyata.
Setelah janji kemuliaan, Allah SWT memberikan peringatan keras bagi mereka yang enggan menerima kebenaran:
"Dan bahwasanya orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, Kami siapkan bagi mereka azab yang pedih."
Kemudian ayat 11 melanjutkan tentang sifat dasar manusia yang seringkali tergesa-gesa dan mementingkan duniawi. Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu memohon kebaikan dan menjauhi sifat meminta-minta yang berlebihan:
"Dan manusia berdoa untuk kejahatan seakan-akan ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia itu amat tergesa-gesa."
Sifat tergesa-gesa ini seringkali membuat manusia salah arah dalam meminta, fokus pada pemenuhan hawa nafsu sesaat tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya.
Ayat 12 dan 13 mengalihkan fokus pada keagungan ciptaan Allah yang menjadi sarana kehidupan sekaligus peringatan:
"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), maka Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang (agar kamu dapat mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan serinci-rinci."
Allah menetapkan pergantian siang dan malam bukan sekadar fenomena alam, tetapi sebagai dua ayat (tanda) untuk mengingatkan manusia akan kekuasaan-Nya. Siang hari adalah waktu untuk berusaha mencari rezeki dan menghitung waktu, sementara malam adalah waktu istirahat. Keteraturan ini membuktikan adanya Pencipta yang Maha Mengatur.
Ayat penutup dalam rentetan ini memberikan kesimpulan tentang pertanggungjawaban individu:
"Dan tiap-tiap manusia telah Kami kalungkan (catatan perbuatannya) padanya, dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang diterimanya dalam keadaan terbuka."
Konsep "kalungan pada leher" melambangkan bahwa setiap perbuatan, baik atau buruk, tidak akan terlepas dari pemiliknya. Di hari kiamat, setiap orang akan menerima catatan amalnya secara terbuka. Ini adalah prinsip keadilan mutlak. Ayat 15 menegaskan:
"Bacalah Kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung (muhasib) atas dirimu sendiri."
Pesan ini sangat personal. Tidak ada lagi pembelaan eksternal; setiap individu bertanggung jawab penuh atas jejak amal yang telah mereka ukir selama hidup di dunia.
Secara keseluruhan, Surat Al-Isra ayat 9 hingga 15 menyajikan siklus kehidupan: dorongan menuju kebaikan melalui petunjuk Al-Qur'an (Ayat 9), peringatan terhadap kesombongan dan sifat tergesa-gesa (Ayat 10-11), perenungan terhadap keteraturan alam semesta (Ayat 12-13), dan puncaknya adalah pertanggungjawaban individu di akhirat (Ayat 14-15). Memahami ayat-ayat ini memberikan motivasi kuat untuk selalu berbuat baik, bersyukur atas nikmat waktu dan akal, serta mempersiapkan diri untuk hari perhitungan yang pasti akan datang.