Dalam kekayaan khazanah bahasa Indonesia, terdapat berbagai bentuk ekspresi dan sistem penulisan yang unik. Salah satu di antaranya adalah aksara yang sering kali disebut sebagai 'wianjana', meskipun istilah ini lebih umum merujuk pada konsonan dalam beberapa sistem penulisan kuno di Asia Tenggara, seperti aksara Pallava atau Jawa Kuno. Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai apa yang dimaksud dengan aksara wianjana, memberikan contoh-contohnya, dan menjelaskan signifikansinya dalam konteks sejarah dan linguistik.
Secara umum, istilah "wianjana" berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti "konsonan". Dalam konteks penulisan aksara di Nusantara, seperti aksara Kawi (Jawa Kuno) atau aksara Bali, huruf-huruf yang mewakili bunyi konsonan sering kali dikategorikan sebagai wianjana. Ini berbeda dengan "swara", yang merujuk pada huruf vokal.
Sistem aksara ini biasanya bersifat abugida atau aksara alfasilabik. Artinya, setiap konsonan dasar memiliki bunyi vokal inheren (umumnya 'a'). Untuk mengubah bunyi vokal inheren ini, digunakanlah tanda-tanda diakritik yang disebut sandangan atau pangkon (untuk menghilangkan vokal inheren). Pemahaman tentang konsonan wianjana adalah kunci untuk menguraikan dan menulis dalam aksara-aksara ini.
Berbeda dengan alfabet Latin yang kita gunakan sehari-hari, di mana setiap huruf berdiri sendiri sebagai vokal atau konsonan, aksara wianjana memiliki struktur yang lebih kompleks. Satu blok konsonan 'ka' misalnya, mungkin ditulis sebagai 'ka' dengan vokal inheren 'a'. Jika ingin menulis 'ki', 'ku', 'ke', atau 'k' tanpa vokal, maka diperlukan penambahan sandangan atau pangkon pada huruf 'ka' tersebut.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, mari kita lihat beberapa contoh konsonan dalam aksara Jawa Kuno (Kawi) yang merupakan bagian dari sistem wianjana:
Penting untuk dicatat bahwa representasi Unicode di atas adalah contoh dari aksara Pallava, yang merupakan leluhur dari banyak aksara di Nusantara, termasuk Jawa Kuno. Bentuk visualnya mungkin sedikit berbeda antar aksara turunan, namun prinsip wianjana-nya serupa.
Untuk mengubah bunyi vokal dari 'a' menjadi vokal lain, atau menghilangkan vokal sama sekali, digunakan sandangan:
Contoh di atas menggunakan Unicode untuk ilustrasi. Dalam penulisan tangan atau cetak, sandangan ini memiliki bentuk visual yang spesifik dan melekat pada huruf konsonan dasar.
Mari kita lihat contoh kata "dewata" (dewa-dewa).
Dalam aksara Jawa Kuno, ini bisa ditulis menggunakan konsonan dasar 'da' (𑀤), 'wa' (𑀯), dan 'ta' (𑀢) dengan penambahan sandangan vokal yang sesuai.
Huruf "d" dari "dewata" akan ditulis sebagai 'da' (𑀤) dengan vokal 'e' (𑀤 + ).
Huruf "w" dari "dewata" akan ditulis sebagai 'wa' (𑀯) dengan vokal 'a' inheren.
Huruf "t" dari "dewata" akan ditulis sebagai 'ta' (𑀢) dengan vokal 'a' inheren.
Jadi, secara konseptual, pembacaan dan penulisan aksara wianjana membutuhkan pemahaman mendalam tentang bagaimana konsonan dan vokal berinteraksi melalui sandangan.
Aksara wianjana, sebagai bagian dari sistem penulisan kuno Nusantara, memiliki nilai historis dan budaya yang sangat tinggi. Prasasti-prasasti, naskah-naskah lontar, dan karya sastra lama banyak yang ditulis menggunakan aksara turunan dari aksara Brahmi, yang memiliki prinsip wianjana ini. Mempelajari dan memahami aksara wianjana berarti membuka jendela ke masa lalu, memahami pemikiran, kepercayaan, dan peradaban leluhur kita.
Upaya pelestarian aksara wianjana melalui pembelajaran di sekolah, publikasi, digitalisasi naskah kuno, dan pengembangan teknologi (seperti font aksara) sangat penting agar warisan berharga ini tidak hilang ditelan zaman. Keindahan visual dan kompleksitas sistem penulisannya menjadi bukti kecerdasan dan kreativitas masyarakat Nusantara di masa lampau.
Melalui pemahaman dan apresiasi terhadap contoh aksara wianjana, kita tidak hanya mengenali bentuk huruf, tetapi juga meresapi kedalaman linguistik dan sejarah yang terkandung di dalamnya. Ini adalah bagian integral dari identitas budaya kita yang patut dijaga dan dikembangkan.