Dalam khazanah pembacaan Al-Qur'an di Indonesia, nama H. Muammar ZA selalu terpatri sebagai salah satu maestro qari legendaris. Suaranya yang khas, penuh penjiwaan, dan memiliki jangkauan nada yang luar biasa, menjadikannya ikon dalam melantunkan ayat-ayat suci. Salah satu surat yang seringkali menjadi sorotan dan sangat identik dengan lantunan beliau adalah Surat Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Bani Israil), surat ke-17 dalam mushaf Al-Qur'an.
Surat Al-Isra adalah surat yang kaya akan makna, mencakup kisah-kisah penting kenabian, prinsip-prinsip moralitas, hingga mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW, yaitu Isra Mi'raj. Ketika H. Muammar membawakan surat ini, pendengar seolah diajak menelusuri lorong waktu dan sejarah. Keindahan teknik vokal yang beliau gunakan—mulai dari vibrato yang lembut hingga tekanan pada jeda (waqaf) yang dramatis—memberikan dimensi baru pada pemahaman isi surat tersebut.
Bagian paling monumental dalam Surat Al-Isra tentu adalah ayat-ayat yang mengisahkan perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), lalu dilanjutkan dengan kenaikan vertikal ke Sidratul Muntaha (Mi'raj). Pembacaan ayat-ayat ini oleh H. Muammar seringkali ditandai dengan peningkatan intensitas dan emosi. Ia mampu menggambarkan keagungan peristiwa tersebut tanpa mengurangi rasa khusyuk. Teknik tarannum yang dikuasainya memungkinkan setiap transisi nada seolah menjadi cerminan perjalanan spiritual yang melampaui batas-batas bumi.
Bagi banyak generasi, rekaman lantunan H. Muammar Surat Al-Isra menjadi gerbang pertama mereka untuk mengenal betapa indah dan mendalamnya kandungan Al-Qur'an. Lantunannya bukan sekadar pembacaan teknis; itu adalah interpretasi spiritual yang ditawarkan melalui harmoni suara. Hal ini mendorong banyak orang untuk tidak hanya mendengarkan, tetapi juga merenungkan perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya.
Di luar kisah-kisah besar, Al-Isra juga memuat pilar-pilar etika sosial yang sangat relevan hingga kini. Surat ini menekankan pentingnya berbuat baik kepada orang tua, larangan keras terhadap pembunuhan (karena menghilangkan nyawa adalah kejahatan besar), hingga pentingnya menjaga amanah dan kejujuran dalam transaksi ekonomi. Ketika H. Muammar membacakan ayat-ayat yang berisi perintah ini, seringkali terasa adanya penekanan yang tegas namun tetap menenangkan.
Kontribusi H. Muammar dalam melestarikan seni tilawah telah memastikan bahwa Surat Al-Isra tidak hanya dibaca, tetapi juga "dirasakan" oleh miliaran umat Muslim. Beliau adalah jembatan antara teks suci dan pendengar awam, mengubah ayat yang mungkin terasa asing menjadi sebuah narasi yang menyentuh kalbu. Kualitas rekaman beliau, meski seringkali berasal dari pengajian lama, tetap dipertahankan oleh para penggemar karena keaslian dan kekuatan spiritual yang terpancar.
Dampak dari lantunan seorang qari seperti H. Muammar sangat signifikan. Ia membuktikan bahwa seni membaca Al-Qur'an bisa menjadi alat dakwah yang efektif. Surat Al-Isra, dengan kisahnya yang beragam—mulai dari pujian kepada Allah atas perjalanan malam Nabi, hingga seruan untuk berlaku adil dan menghindari kesyirikan—dapat dicerna lebih mudah melalui alunan merdu. Keahliannya dalam mengatur napas dan melantunkan ayat secara tartil menjadi contoh nyata bagaimana seorang penghafal Al-Qur'an bisa menjadi seniman yang mulia.
Pada akhirnya, mendengarkan H. Muammar Surat Al-Isra adalah sebuah pengalaman spiritual yang utuh. Ini adalah pengingat bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang memuat sejarah, ajaran moral, dan janji kebenaran ilahi, yang kesemuanya tersampaikan dengan indah melalui suara emas sang qari legendaris ini. Kualitas tilawahnya terus menginspirasi generasi baru untuk mempelajari seni ini dengan rasa hormat dan pendalaman makna yang serius.