Lombok, sebuah pulau yang kaya akan keindahan alam dan budaya, menyimpan khazanah aksara yang unik, yaitu Aksara Sasak. Aksara ini merupakan turunan dari aksara Brahmi yang tersebar luas di Asia Selatan dan Tenggara, dan memiliki kekerabatan dengan aksara Jawa (Hanacaraka) dan Bali. Keberadaan Aksara Sasak menjadi bukti nyata kekayaan intelektual dan sejarah masyarakat Sasak, suku asli Lombok, yang patut dijaga dan dilestarikan.
Aksara Sasak, yang juga dikenal dengan sebutan Jejongkong Sasak atau Aksara Lombok, diperkirakan mulai berkembang di Pulau Lombok sejak abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, seiring dengan masuknya pengaruh Hindu-Buddha dari India. Konon, aksara ini pada awalnya digunakan untuk menulis lontar-lontar keagamaan, sastra, dan catatan penting lainnya. Seperti halnya aksara Nusantara lainnya yang berakar dari aksara Brahmi, Aksara Sasak memiliki sistem penulisan silabis, di mana setiap huruf mewakili satu suku kata yang terdiri dari konsonan dan vokal inheren 'a'. Jika vokal yang diinginkan berbeda, maka ditambahkan tanda diakritik yang disebut "sandhangan".
Pada masa lampau, Aksara Sasak banyak ditemukan pada media seperti daun lontar, lempengan bambu, kulit kayu, dan kertas daluwang. Peninggalan-peninggalan tertulis ini menyimpan berbagai macam karya sastra, seperti puisi, prosa, naskah hukum, ramalan, dan catatan sejarah. Sayangnya, banyak dari naskah-naskah kuno ini kini sulit ditemukan atau bahkan telah hilang ditelan zaman. Kondisi ini menambah urgensi upaya pelestarian Aksara Sasak agar warisan berharga ini tidak sepenuhnya punah.
Aksara Sasak memiliki struktur yang mirip dengan aksara-aksara lain dalam rumpun Brahmi. Terdiri dari aksara nglegena (dasar), sandhangan (tanda vokal dan konsonan), dan aksara rangkeping (kombinasi aksara). Terdapat sejumlah aksara dasar yang membentuk bunyi konsonan, dan setiap aksara ini secara inheren berbunyi dengan vokal 'a'. Untuk mengubah vokal menjadi 'i', 'u', 'e', atau 'o', digunakan sandhangan tertentu yang diletakkan di atas, di bawah, di depan, atau di belakang aksara dasar. Selain itu, terdapat sandhangan panyigeg wanda yang berfungsi untuk menghilangkan vokal inheren, sehingga menghasilkan bunyi konsonan murni.
Salah satu ciri khas Aksara Sasak yang menarik adalah penamaannya. Beberapa aksara memiliki nama yang unik, yang terkadang mencerminkan bentuk atau bunyi yang dihasilkannya. Misalnya, beberapa huruf memiliki nama yang serupa dengan aksara Jawa Hanacaraka, seperti "Na", "Ca", "Ra", "Ka", dan seterusnya, yang menunjukkan hubungan kekerabatan budaya yang erat. Namun, terdapat juga perbedaan dalam bentuk visual dan penamaan beberapa aksara antara Aksara Sasak dan aksara sejenis lainnya.
Secara tradisional, Aksara Sasak memiliki peran sentral dalam kehidupan masyarakat Sasak. Aksara ini tidak hanya digunakan sebagai media penulisan, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai budaya, pengetahuan, dan tradisi dari generasi ke generasi. Naskah-naskah lontar yang ditulis menggunakan Aksara Sasak memuat berbagai cerita rakyat, ajaran agama Islam yang bercampur dengan kearifan lokal, serta petunjuk-petunjuk praktis untuk kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks seni pertunjukan, Aksara Sasak juga memiliki peran penting. Teks-teks kuno yang ditulis dalam aksara ini seringkali menjadi sumber inspirasi bagi pertunjukan tradisional Sasak seperti wayang Sasak. Melalui cerita-cerita yang ditranskripsikan dalam Aksara Sasak, pesan-pesan moral, historis, dan filosofis disampaikan kepada masyarakat.
Meskipun memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, kelestarian Aksara Sasak menghadapi berbagai tantangan. Globalisasi, masuknya budaya asing, dan kurangnya regenerasi penutur serta penulis aksara ini menjadi ancaman serius. Namun, belakangan ini, semakin banyak pihak yang menyadari pentingnya upaya pelestarian.
Berbagai inisiatif mulai digalakkan, mulai dari penelitian dan pendokumentasian naskah-naskah kuno, penyelenggaraan workshop dan pelatihan menulis Aksara Sasak bagi generasi muda, hingga memasukkan materi Aksara Sasak dalam kurikulum pendidikan lokal. Publikasi buku-buku tentang Aksara Sasak juga semakin marak. Terdapat pula upaya memanfaatkan teknologi digital untuk memperkenalkan dan mengajarkan aksara ini. Semua upaya ini bertujuan agar Aksara Sasak tidak hanya menjadi catatan sejarah yang terabaikan, melainkan kembali hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Sasak di era modern. Melestarikan Aksara Sasak berarti turut menjaga kekayaan khazanah intelektual Nusantara.