Peristiwa Isra dan Mi'raj merupakan salah satu mukjizat terbesar dan peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Perjalanan ini secara harfiah terbagi dua: Isra, yaitu perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan Mi'raj, yaitu perjalanan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha.
Kisah ini memiliki dasar fundamental dan eksplisit dalam Al-Qur'an, yang menguatkan kebenaran peristiwa tersebut. Ayat utama yang menjadi landasan utama kisah Isra dan Mi'raj terdapat dalam **Surah Al-Isra (Surah ke-17)**.
Ayat ini secara tegas menyebutkan kata "Isra" (perjalanan malam) dan menjadi bukti utama otentisitas peristiwa tersebut di dalam Kitab Suci:
Ayat ini menjelaskan beberapa poin krusial: Waktu kejadian (malam hari), subjek (hamba-Nya, yaitu Nabi Muhammad SAW), titik awal (Masjidil Haram), titik akhir (Masjidil Aqsa), dan tujuan utama (memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran Allah).
Meskipun Surah Al-Isra secara eksplisit membahas fase Isra hingga Masjidil Aqsa, fase Mi'raj—kenaikan menuju langit dan Sidratul Muntaha—dikaitkan dengan penafsiran para mufassir berdasarkan ayat-ayat lain, khususnya dalam **Surah An-Najm**.
Para ulama tafsir menyimpulkan bahwa Mi'raj terjadi setelah Nabi SAW tiba di Al-Aqsa, di mana beliau kemudian diangkat melintasi langit. Surah An-Najm memberikan deskripsi visual mengenai kedekatan Nabi dengan Allah SWT di tingkatan yang sangat tinggi:
Ayat-ayat dari Surah An-Najm (Ayat 13-18) ini sering diartikan sebagai deskripsi puncak Mi'raj, di mana Rasulullah SAW mendapatkan kedudukan kehormatan yang tidak dicapai oleh manusia biasa, melihat tanda-tanda kebesaran Allah dalam bentuk yang paling agung di hadapan Sidratul Muntaha.
Ayat Al Quran tentang Isra dan Mi'raj menegaskan kedudukan kenabian Muhammad SAW. Peristiwa ini tidak hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga pengukuhan spiritual dan penegasan misi kenabian beliau setelah menghadapi tahun-tahun sulit di Mekkah (Amul Huzn).
Surah Al-Isra ayat 1 membuka dengan frasa "Subhanallah" (Mahasuci Allah), menunjukkan bahwa peristiwa ini berada di luar nalar manusia biasa dan hanya mungkin terjadi melalui kekuasaan Ilahi. Ini adalah pelajaran bahwa keimanan kepada Allah harus melampaui batas-batas logika empiris kita ketika dihadapkan pada wahyu yang sahih.
Ayat-ayat ini menjadi pengingat bahwa tujuan utama perjalanan spiritual seorang Muslim adalah mendekat kepada Allah, mencari tanda-tanda-Nya, dan menguatkan keyakinan (iman) melalui penampakan kebesaran-Nya, sebagaimana yang disaksikan langsung oleh Rasulullah SAW.
Selain ayat-ayat di atas, banyak tafsir juga menghubungkan peristiwa ini dengan pemberian perintah salat lima waktu, yang diterima Nabi SAW secara langsung saat berada di ketinggian langit tertinggi, sebuah anugerah yang mendefinisikan ritual ibadah utama umat Islam.