(Allah berfirman), “Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku atasmu dan atas ibumu ketika Aku menguatkanmu dengan Ruhul Qudus (Jibril), (sehingga) engkau dapat berbicara kepada manusia pada waktu masih dalam buaian dan ketika sudah dewasa; dan (ingatlah) ketika Aku mengajarkan kepadamu Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil; dan (ingatlah) ketika engkau membentuk dari tanah berupa bentuk burung dengan izin-Ku, lalu engkau meniupnya sehingga ia menjadi burung (yang hidup) dengan izin-Ku; dan (ingatlah) ketika engkau menyembuhkan orang yang lahir buta dan orang yang berpenyakit sopak dengan izin-Ku; dan (ingatlah) ketika engkau membangkitkan (orang mati) dari kubur dengan izin-Ku; dan (ingatlah) ketika Aku menahan Bani Israil darimu ketika engkau datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan (bukti-bukti), lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.’” (QS. Al-Maidah: 110)
Konteks Historis dan Kedudukan Nabi Isa
Surat Al-Maidah ayat 110 (yang sering dikaitkan dengan konteks pemahaman tentang kedudukan Nabi Isa, meskipun ayat kunci utama sering merujuk ke ayat 116 dalam konteks ketuhanan) menyajikan dialog langsung dari Allah SWT kepada Nabi Isa 'alaihissalam. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat dan penekanan atas mukjizat-mukjizat luar biasa yang Allah anugerahkan kepadanya sebagai bukti kenabiannya. Fokus utama ayat ini adalah menegaskan bahwa semua kemampuan istimewa Nabi Isa—termasuk berbicara di buaian, mengajar, membentuk makhluk hidup, menyembuhkan, dan membangkitkan orang mati—semuanya terjadi atas izin dan pertolongan langsung dari Allah SWT.
Pengulangan frasa "dengan izin-Ku" (bi idznii) secara konsisten dalam ayat ini sangat signifikan. Dalam teologi Islam, frasa ini adalah penegasan tegas bahwa Nabi Isa bukanlah Tuhan, bukan pula anak Tuhan, melainkan seorang hamba dan Rasul Allah yang dianugerahi kekuatan supernatuur untuk menegakkan risalah ilahi di tengah kaumnya, Bani Israil. Mukjizat-mukjizat tersebut bukanlah hasil kekuatan intrinsiknya, melainkan manifestasi kekuatan Sang Pencipta yang diamanatkan padanya.
Rincian Mukjizat yang Disebutkan
Ayat ini merangkum beberapa mukjizat utama Nabi Isa yang juga disebutkan dalam Injil, namun dengan penekanan tauhid yang jelas:
Berbicara di Buaian dan Kedewasaan: Kemampuan berbicara sejak bayi adalah bukti awal keistimewaan yang diberikan Allah kepadanya, sekaligus membela kehormatan ibunya, Maryam.
Penguasaan Ilmu Ilahi: Dia diajarkan Kitab, Hikmah, Taurat (wahyu sebelumnya), dan Injil (wahyu yang dibawanya). Ini menegaskan peranannya sebagai penyempurna risalah Musa, bukan pembawa ajaran baru yang sepenuhnya terlepas dari pondasi sebelumnya.
Menciptakan Burung dari Tanah: Mukjizat ini menunjukkan kekuasaan Allah yang luar biasa, di mana Nabi Isa bertindak sebagai perantara untuk menunjukkan kebesaran Sang Khaliq.
Menyembuhkan Penyakit Kronis: Menyembuhkan yang buta sejak lahir (akmah) dan yang berpenyakit sopak (abrash) adalah demonstrasi kuasa penyembuhan yang mutlak bersumber dari Allah.
Membangkitkan Orang Mati: Ini adalah puncak dari mukjizat-mukjizat yang melibatkan campur tangan langsung dalam hukum alam, yang hanya mungkin terjadi atas izin Allah.
Reaksi Kaum Kafir
Di akhir ayat, Allah menggambarkan reaksi sebagian besar Bani Israil yang mengingkari kebenaran mukjizat tersebut. Alih-alih beriman, mereka menuduh Nabi Isa melakukan sihir terang-terangan ("in hadza illa sihrum mubiin"). Penolakan ini menggarisbawahi sifat manusia yang cenderung menolak kebenaran yang bertentangan dengan hawa nafsu atau kepentingan mereka. Ketika mukjizat yang jelas ditolak, hal itu menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada kurangnya bukti, melainkan pada kekerasan hati dan kesombongan mereka.
Implikasi Teologis (Perbedaan dengan Al-Maidah 116)
Meskipun Al-Maidah ayat 110 ini fokus pada pengingat kenabian, konteks di sekitarnya, terutama ayat 116 (yang mungkin menjadi fokus utama diskusi tentang Al-Maidah dalam kaitannya dengan Nabi Isa), membahas bantahan keras terhadap klaim ketuhanan Nabi Isa. Ayat 110 memperkuat posisi Nabi Isa sebagai hamba Allah yang mulia, sementara ayat 116 secara eksplisit menyatakan bahwa Nabi Isa hanya menyembah Allah dan tidak pernah memerintahkan umatnya untuk menyembahnya selain Allah. Kedua ayat ini bekerja secara sinergis untuk mengokohkan tauhid dalam Islam terkait dengan sosok Nabi Isa putra Maryam.
Kesimpulannya, Surat Al-Maidah ayat 110 adalah arsip ilahi yang menyimpan jejak-jejak kemuliaan yang Allah berikan kepada salah satu utusan terbesarnya. Ayat ini tidak hanya menceritakan sejarah kenabian, tetapi juga berfungsi sebagai peringatan abadi bahwa segala bentuk keajaiban yang dilakukan oleh para nabi adalah atas izin dan kekuatan mutlak dari Allah SWT, Sang Maha Kuasa.